light of love

light of love
Terkejut


__ADS_3

Setelah kepulangan rei, naura yang juga sedang libur bekerja mengajak ana untuk pergi belanja bulanan di supermarket. Mereka membeli keperluan apa saja yang mulai habis, dan barang yang perlu di beli untuk melengkapi keperluan rumah. Sebelumnya naura sudah membuat daftar catatan belanja sehingga mereka hanya tinggal mencari barang yang ada di daftar tersebut.


“Ibu rajin banget tiap belanja bikin catetan kayak gitu” ujar naura yang sedang mendorong troli di sebelah ibunya, menyusuri lorong rak supermarket.


“Ini penting na, selain supaya ga ada barang yang kelupaan, catatan ini juga untuk mengontrol pengeluaran kita biar ga boros” sahut naura saat mengecek kertas daftar belanjaan di tangannya.


Naura memang orang yang teliti dan hemat dalam menggunakan uang. Maklum, gajinya dari bekerja sebagai karyawan biasa tidak akan cukup jika ia tidak mengontrolnya sehemat mungkin.


“Kamu benar ga ada yang mau dibeli na?” tanya naura.


“Ga ada bu” jawab ana. Ana jarang sekali minta dibelikan sesuatu oleh ibunya. Uang saku pemberian ibunya dan uang hasil mengajar sudah cukup untuk membayar biaya kos dan kebutuhan sehari-harinya. Sedangkan untuk biaya kuliah ana mendapatkan beasiswa karena prestasinya akademiknya, sehingga ia tidak perlu pusing memikirkan biaya semester yang cukup besar.


Setelah mendapatkan semua barang yang diinginkan dan membayar belanjaan mereka di kasir, ana dan ibunya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.


Sampai di rumah ana langsung merapihkan barang-barang belanjaan, meletakkannya ke tempat masing-masing. Kemudian ia membantu ibunya memasak di dapur. Angga pulang di waktu yang tepat saat ana dan ibunya selesai memasak.


“Pas banget kamu pulang makanan udah siap” ujar naura saat melihat anaknya yang baru pulang sekolah.


“Cuci tangan dulu sana, jorok banget sih” omel ana ketika melihat angga yang langsung duduk di kursi makannya.


“Iya nek” sahut angga sambil bangkit lagi dari duduknya untuk mencuci tangan di wastafel dapur.


“Ih.. amit-amit punya cucu kayak kamu” kata ana jengkel.


“Muridnya kak ana kok betah ya diajarin sama kakak” ucap angga saat kembali ke meja makan.

__ADS_1


“Maksud kamu?” tanya ana sewot.


“Ya kakak kan galak, kalau anaknya ga ngerti pasti langsung diomelin” jawab angga.


“Enak aja, sok tau kamu” sahut ana sambil melempar satu buah kerupuk ke arah angga.


Angga tertawa-tawa karena lemparan kakaknya salah sasaran malah masuk ke piring angga.


***


Keesokan harinya ana bangun agak kesiangan karena semalam keasikan nonton acara tv bersama angga sampai larut malam. Setelah sarapan ana menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci pakaian, dan beberes lainnya. Ana tidak mengijinkan ibunya melakukakan pekerjaan tersebut selama dirinya berada di rumah. Hingga tak terasa waktu sudah hampir tengah hari. Ana merebahkan dirinya yang kelelahan di sofa ruang keluarga.


“Ana, kamu jorok banget ih, lagi keringetan gitu malah rebahan di sofa, mandi dulu sana” ujar naura yang melihat anak gadisnya tepar tak berdaya.


Naura yang menjadi tidak tega menghampiri ana dan duduk di sofa, meletakkan kepala ana di pangkuannya.


“Anak siapa ya ini, cantik-cantik tapi dekil” naura membelai kepala ana dengan lembut.


“Anak ibu lah, cuma ibu satu-satunya di dunia ini yang punya anak secantik aku” sahut ana dengan cengiran lebar di wajahnya.


“Ya ampun, sejak kapan anak ibu jadi kepedean gini” naura menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ana yang merasa geli dengan ucapannya sendiri akhirnya malah tertawa.


Lalu mereka berdua mengobrol layaknya ibu dan anak yang membicarakan hal-hal ringan tentang keseharian mereka.

__ADS_1


“Enak ya bu kalau tiap hari bisa kayak gini” ana meraih tangan ibunya yang berada di atas perutnya lalu menggennggamnya dengan kedua tangan.


Naura hanya tersenyum mendengar ucapan ana. Sebenarnya dirinya juga sangat menginginkan keluarganya selalu berkumpul setiap hari. Kepergian sang suami dan ana yang harus tinggal jauh dari dirinya, membuatnya sering merasa kesepian saat hanya berdua saja dengan angga di rumah. Tapi naura tidak pernah mengatakan hal itu pada ana karena tidak ingin membuat anaknya cemas.


“Ibu.. panas-panas gini makan es buah enak kali ya” ujar ana tiba-tiba.


“Kamu mau ibu bikinin?” tanya naura.


“Iya dong bu, hehe..” jawab ana tersenyum lebar.


“Yaudah tapi abis itu kamu mandi ya, sekalian ibu siapin makan siang” ujar naura.


“Siap bos” sahut ana saat ibunya bangkit dari kursi menuju dapur.


Ana kembali merebahkan dirinya sembari menunggu es buahnya datang. Ia memejamkan matanya.


“Woi tidur mulu si nenek” sahut angga saat melewati ruang keluarga. Ia hendak ke depan rumah untuk mencuci motornya.


“Berisik, ga tau apa kakak lagi tepar” ana berkata sewot dengan mata masih terpejam.


“Diem dek” katanya lagi saat ada yang mencolek lengannya.


“Dek bisa diem ga sih!” ana mulai jengkel karena merasa adiknya terus mengganggunya dengan mencolek lengannya.


Betapa terkejutnya ana saat membuka mata yang dilihat bukanlah adiknya melainkan wajah rei yang begitu dekat di atasnya.

__ADS_1


__ADS_2