light of love

light of love
Permintaan Maaf


__ADS_3

Ana melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah toilet wanita, setengah berlari agar orang-orang tidak melihat air matanya yang sudah menggenang sebentar lagi akan jatuh. Ana masuk ke dalam salah satu bilik dan menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan. Napasnya memburu menahan amarah yang menggelora. Ia marah karena rei telah merampas ciuman pertamannya dengan cara paksa seperti itu. Dan yang lebih membuatnya kesal, ana juga marah pada dirinya sendiri yang begitu lemah. Walaupun rei telah bertindak kurang ajar, tapi ana tidak bisa memungkiri jantungnya berdebar hebat saat rei mencium dan mendekap tubuhnya dengan erat. Kebersamaannya dengan rei selama beberapa hari minggu lalu telah menciptakan perasaan aneh yang belum pernah ana alami selama ini. Ia suka dengan cara laki-laki itu menatapnya dan tersenyum kepadanya. Sikap rei membuatnya tersanjung, seolah laki-laki itu menyukainya. Tapi di belakang ana, ternyata rei juga jalan dengan wanita lain. Ana begitu kecewa karena merasa hatinya telah dipermainkan oleh rei.


Sementara itu rei yang beberapa saat terpaku karena kata-kata ana, akhirnya bergegas keluar dari ruang peralatan berniat mengejar gadis itu. Namun ana sudah tidak terlihat. Ia kalang kabut mencari-cari ana di antara keramaian orang di area bazar, tapi tidak berhasil menemukannya.


“Lo kemana sih ana” rei berucap frustasi sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sampai ia melihat lisa dan adel sedang berdiri di salah satu stand. Ia berjalan cepat menghampiri kedua gadis itu.


“Kalian liat ana?” tanya rei dengan nada panik begitu tiba di hadapan lisa dan adel.


Kedua gadis itu terdiam sejenak, heran melihat rei yang tiba-tiba datang dan langsung menanyakan ana dengan raut wajah panik.


“Tadi sih dia di sini, tapi ga tau sekarang kemana, ini tasnya masih di sini” jawab lisa menunjuk tas ana yang ada di atas kursi.


Rei semakin gelisah. Ia mencoba menghubungi ana melalui ponselnya, kemudian terdengar deringan dari dalam tas ana. Sial, dia ga bawa hp, rutuk rei.

__ADS_1


“Memang kenapa sih kak nyariin ana, kok kayak panik gitu?” tanya adel merasa ada sesuatu hal yang aneh.


Rei tidak bisa menjawab pertanyaan adel, ia menggeram frustasi.


‘Ana pasti marah besar sama gue, aaah sialan, kenapa gue bisa segila tadi!’ batin rei sambil mengusap wajahnya kasar.


Sebenarnya tadi rei hanya berniat untuk mengetes ana, apakah gadis itu mau menciumnya jika ia memintanya. Tapi penolakan ana lagi-lagi membuat amarahnya berkobar. Ia begitu cemburu membayangkan ana berciuman dengan pacarnya. Sehingga tanpa sadar ia telah menyerang ana dan malah tidak bisa menghentikan kenikmatan yang ia rasakan dari bibir gadis itu, yang tidak pernah ia rasakan saat berciuman dengan gadis-gadis lain sebelumnya. Rasanya begitu nikmat sampai rei tidak ingin melepasnya dan terus mereguknya untuk menghilangkan dahaga yang tak kunjung usai.


“Eh itu ana” ucap adel tiba-tiba, membuyarkan lamunan rei.


“Ana, bisa kita bicara sebentar” ujar rei memberanikan diri untuk bicara dengan gadis itu.


Jujur, wajah ana yang sedang marah saat ini terlihat sangat menakutkan sekaligus juga menggemaskan, membuat rei ingin menyentuh wajah gadis itu. Seketika ia buru-buru mengusir pikirannya, takut dirinya menggila seperti saat di ruang peralatan tadi. Harusnya ia menunjukkan wajah penuh penyesalannya pada ana sekarang kan, batin rei.

__ADS_1


“Mau apa lagi? Aku udah ga ada hutang lagi sama kamu kan?” kata ana dingin. Matanya melihat rei sekilas lalu langsung mengalihkannya lagi ke arah barang-barang di meja stand. Sebenarnya ana masih merasakan jantungnya yang tidak karuan ketika melihat wajah rei, jadi ia memutuskan untuk tidak menatapnya saat ini.


Lisa dan adel yang tidak mengerti, ada hal apa sebenarnya yang telah terjadi antara dua orang di hadapan mereka ini, hanya menonton saja adegan di depan mereka.


“Maafin gue ana, gue udah kelewatan tadi” ucap rei dengan sorot mata sendu.


Ana masih tidak mau menatap rei, ia tidak mau terpengaruh oleh laki-laki itu seperti yang sudah-sudah.


“Gue tau lo marah banget sama gue, tapi tolong jangan diem aja, lo boleh caci maki gue sepuasnya” nada suaranya benar-benar sangat memelas sekarang.


Ana yang hampir tersentuh, berusaha sekuat tenaga dengan benteng pertahanannya untuk tidak memperdulikan rei.


“Mungkin lo sekarang ga mau maafin gue dan ga mau ketemu gue lagi” ujar rei berhenti sejenak, meyakinkan dirinya sendiri untuk melanjutan kata-katanya. “Gue ga akan ganggu lo lagi, tapi yang harus lo inget, kata maaf gue ga akan pernah putus buat lo, sampai lo benar-benar maafin gue”.

__ADS_1


Ana tertegun mendengar kata-kata rei, runtuh sudah bentengnya. Ia mendongak, namun yang dilihatnya adalah punggung laki-laki itu yang pergi menjauh meninggalkannya seperti kata-katanya barusan yang tidak mau mengganggu dirinya lagi.


__ADS_2