
“Lo mau makan apa?” tanya rei saat mereka sudah duduk di salah satu meja kosong di pojok restoran.
“Terserah” jawab ana malas, ia sama sekali tidak membuka buku menu di hadapannya.
Akhirnya rei memesankan ana menu yang sama seperti dirinya.
Saat pelayan sudah pergi meninggalkan meja mereka, ponsel ana berbunyi. Dilihatnya nama lisa di layar hand phonenya.
“Ya lis” kata ana saat menempelkan hpnya di telinga.
“Gue di restoran”
“Iya, gue baik-baik aja”
“Iya tenang aja"
“Oke”
“Bye”
Tidak lama setelah telepon dari lisa, berikutnya giliran adel. Dia juga memborbardir ana dengan pertanyaan yang tidak jauh berbeda dengan lisa.
Rei memperhatikan ana yang sibuk meladeni kedua sahabatnya itu.
“Temen-temen lo kayaknya ga suka sama gue” ujar rei saat dilihatnya ana sudah meletakkan ponselnya.
“Kenapa mereka pikir gue mau berbuat jahat sama lo?” lanjut rei, nada suaranya terdengar berbeda, menjadi lembut tidak seperti biasanya. Sebenarnya rei merasa sedikit sedih mendengar kata-kata ana di mobil tadi, yang seolah-olah gadis itu membencinya. Dan rei tidak mau semakin memperburuk hubungan di antara mereka dengan terus bertengkar.
Ana yang terkejut karena rei tiba-tiba menanyakan hal itu jadi salah tingkah.
“Ehm...itu..” ucap ana gelagapan, tidak mungkin kan dia bilang pada rei kalau karena firasatnyalah dirinya dan kedua temannya jadi berpikiran jelek tentang laki-laki itu.
“Gue ga ada niat untuk berbuat buruk sama lo” kata rei sambil menatap kedua mata ana dengan sorot mata yang sendu dan sangat dalam.
Baru pertama kali ini ana melihat tatapan rei seperti itu, seakan-akan mata rei menancap di jantungnya, membuat jantung ana berdetak kencang tanpa ia sadari.
“Gue cuma mau mengenal lo lebih dekat” ucap rei yang masih tidak melepaskan tatapannya dari ana, begitu dalam, membuat ana menjadi semakin salah tingkah.
Ana bingung harus menanggapi bagaimana. Tadi di mobil juga rei mengatakan hal-hal aneh seperti ini. Apa mungkin yang kak nesya katakan kalau rei menyukainya itu adalah benar, batin ana.
Lalu pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dan ana mencoba mengalihkan kegugupannya dengan menyibukkan diri dengan hidangan di hadapannya. Rei pun akhirnya melepaskan tatapannya dari ana dan ikut menikmati hidangan yang sudah disediakan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ponsel ana kembali berdering, dari ibu.
“Halo Bu”
“Jadi bu, tapi agak telat sampai rumah”
“Ibu sama angga makan malam duluan aja, aku udah makan”
“Iya bu”
“Iya”
“Dah bu”
Kemudian ana kembali dengan makanannya yang tinggal separuh.
“Lo mau pulang?” tanya rei.
“Iya” jawab ana.
“Gue anterin ya” ujar rei.
“Ga usah, rumah aku jauh” jawab ana.
“Ga apa-apa, aku udah biasa” ujar ana.
“Please kali ini aja jangan nolak gue” kata rei memelas.
Ana mendongakkan kepalanya, dilihatnya raut wajah rei yang tampak bersungguh-sungguh. Entah kenapa ana jadi tidak tega menolak laki-laki itu. Ana menghembuskan nafasnya pelan.
“Yaudah terserah” ujar ana.
Rei tersenyum senang mendengarnya.
Setelah ana dan rei menghabiskan makanan dan minuman mereka, rei memanggil pelayan dan membayar tagihannya.
***
“Kak.. beneran ga apa-apa anterin aku pulang? Kalau repot, aku sambung naik bis aja” ujar ana saat dirinya dan rei sudah berada di dalam mobil.
“Ga apa-apa, kan gue yang minta nganterin lo” jawab rei sambil tersenyum.
__ADS_1
Ana sedikit kaget dengan perubahan sikap rei sejak di restoran tadi. Rei menjadi lebih lembut dan tidak emosian seperti sebelumnya.
Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara di antara mereka. Hanya alunan suara musik pelan dan deru mesin mobil yang sangat halus mengiringi perjalanan mereka.
“Lo dari kapan dekat sama dua sahabat lo itu?” tanya rei membuka obrolan.
“Lisa sama adel?” tanya ana balik.
“Iya” kata rei.
“Dari sejak pertama kali masuk kuliah kita udah kenalan, dan karena kita bertiga nyambung akhirnya lama-lama jadi dekat” jawab ana.
“Hmm.. kayaknya mereka sayang banget sama lo” kata rei mengingat kejadian di kampus sore tadi.
“Aku juga sayang sama mereka, mereka teman yang paling ngertiin aku selama ini” ujar ana.
Rei menoleh ke samping, dilihatnya wajah ana yang tersenyum saat membicarakan kedua sahabatnya itu.
“Ceritain tentang keluarga lo, lo punya saudara kandung?” tanya rei.
Ana sedikit heran melihat rei yang tertarik dengan kehidupannya. Mungkin rei hanya ingin suasana tidak canggung dan menghindari agar dirinya tidak mengantuk saat menyetir, pikirnya.
“Aku punya ibu.. adik laki-laki..” ana berhenti sejenak “ayah sudah meninggal waktu aku baru masuk sma” ujar ana, ada nada sedih di dalamnya.
“Sori” kata rei, yang merasa bersalah karena mengingatkan ana pada ayahnya yang sudah meninggal, dan membuat gadis itu terlihat sedih.
“Ga apa-apa” ucap ana tersenyum.
“Kalau kak rei punya adik atau kakak?” tanya ana.
“Gue punya adik perempuan, nyebelinnya minta ampun” jawab rei.
“Nyebelin gimana maksudnya kak?” tanya ana penasaran.
“Dia selalu cari ribut sama gue, udah gitu anaknya bawel dan berisik banget, bikin gue sakit kepala” ujar rei.
“Haha.. aku jadi penasaran pingin ketemu sama adik kak rei” kata ana tertawa ke arah rei. Ana membayangkan mungkin ucapan rei yang terkadang kasar dikarenakan sering bertengkar dengan adiknya.
Rei menoleh pada ana. Dia terpana, baru kali ini rei melihat ana tertawa di depannya, tawa yang tanpa paksaan.
Akhirnya mereka bisa mengobrol secara normal, setelah sebelum-sebelumnya selalu saja ada hal yang membuat mereka adu mulut jika bertemu.
__ADS_1
Tidak terasa sudah satu jam lebih perjalanan, dan ketika mobil berada di persimpangan, rei menoleh untuk menanyakan arah jalan ke rumah ana. Namun dilihatnya ana sudah tertidur pulas. Rei menepikan mobilnya karena tidak tega membangunkan ana. Rei menurunkan sandaran kursi ana agar gadis itu lebih nyaman. Ia memandangi wajah cantik ana sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Cukup lama rei memandangi wajah ana, hingga tanpa sadar tangannya terulur membelai pipi ana dengan jarinya, kemudian menyentuh bibirnya yang lembut dengan ibu jarinya. Seketika rei merasakan sensasi panas menjalar di tubuhnya, ini tidak bisa dibiarkan.
‘Sialan’ umpat rei dalam hati, memaki dirinya sendiri. Lalu ia keluar dari mobil untuk menghilangkan panas yang tiba-tiba menyerang tubuhnya, walaupun suhu AC di dalam mobil sangat dingin.