
Setelah puas menikmati akhir pekan bersama keluarga, ana menjadi lebih bersemangat memulai harinya di awal minggu.
“Pagi guys” seru ana riang ketika menghampiri lisa dan adel yang sudah duduk di dalam kelas, menunggu kuliah yang lima belas menit lagi baru akan dimulai.
“Pagi na” balas lisa dan adel.
“Gimana week end lo, jadi pulang?” tanya lisa.
“Jadi dong” jawab ana tersenyum lebar.
Lisa dan adel sudah hapal dengan mood ana. Suasana hati sahabatnya itu akan menjadi sangat baik jika sudah bertemu dengan keluarganya. Mereka ikut senang melihat ana bahagia.
Tidak lama kemudian dosen datang, mereka bertigapun menghentikan obrolan mereka dan mengeluarkan bukunya masing-masing dari dalam tas.
Hampir dua jam akhirnya kuliah itu selesai. Ana, lisa, dan adel berjalan menyusuri koridor menuju kelas berikutnya. Dari arah yang berlawanan terlihat rei sedang berjalan bersama adit. Laki-laki itu juga melihat ana.
“Hai” sapa rei tersenyum sumringah saat dirinya sudah dekat dan berhenti di depan ana dan kedua temannya.
“Hai kak” balas ana yang juga tersenyum.
Adit, lisa, dan adel hanya memandangi dua orang yang mereka tidak tau sejak kapan menjadi akrab seperti itu.
__ADS_1
“Nanti malem ada acara ga?” tanya rei menatap ana.
Ana ingat malam ini adalah jadwalnya mengajar nico. “Ada kak” jawab ana cepat.
“Oh” rei terlihat kecewa. “Yaudah lain kali aja.. gue lanjut dulu ya” ujarnya sebelum pergi menjauh dan menghilang di antara keramaian orang.
“Sejak kapan lo jadi akrab sama kak rei na?” tanya adel kebingungan. Lisa juga terlihat sama bingungnya dengan adel.
Akhirnya ana menceritakan tentang rei yang mengantarnya pulang, menginap di rumahmya, dan menjemputnya lagi kepada kedua temannya. Lisa dan adel menatap ana tidak percaya.
“Lo serius na?” adel membulatkan kedua matanya.
“Tapi kenapa, bukannya dia mau ngerjain lo?” lisa juga bertanya dengan mengernyitkan dahinya dalam.
“Wah wah.. jadi sebenarnya kak rei itu suka sama lo na? Dia lagi PDKT sama lo?” seru adel dengan suara cukup keras, membuat orang-orang yang berada di dekat mereka menoleh.
“Ssst.. jangan keras-keras del ngomongnya” ana celingukan melihat sekitarnya takut ada yang mendengar.
“Bisa heboh satu kampus nih kalau beneran kak rei ngincer lo na, apalagi cewe-cewe yang ngefans sama kak rei” kata adel yang masih heboh tapi sudah memelankan suaranya.
“Iya na, biasanya kan cewe-cewe duluan yang ngejar-ngejar kak rei, sekarang malah kak rei yang deketin lo langsung” ujar lisa yang tidak kalah bersemangat dari adel.
__ADS_1
“Apaan sih kalian.. dia itu uma mau temenan sama gue” kilah ana.
“Ish.. lo itu polos banget sih na, selalu ga sadar kalau ada yang suka sama lo” ucap lisa gemas menatap ana.
Ana terdiam, ia jadi teringat saat dirinya dan rei dalam perjalanan pulang dari rumahnya kemarin.
***
“Kenapa kak rei mau repot-repot jemput aku?” tanya ana menatap rei yang sedang fokus menyetir.
Rei tampak berpikir sejenak, “gue kangen sama lo” jawabnya, pandangannya masih lurus ke depan.
Lalu tiba-tiba sebelah tangan rei meraih tangan ana dan menggenggamnya. Ana terkejut dan hendak melepasnya, namun rei malah mengeratkan genggamannya hingga ana nyaris tidak bisa melepasnya dan akhirnya pasrah saja tangannya dikuasai oleh laki-laki itu.
“Sori ana, gue tau pasti lo mikir gue aneh.. tapi please jangan ngehindar dari gue, ijinin gue dekat sama lo” ujar rei yang menoleh menatap ana dengan sorot mata yang mampu menembus ke relung terdalam.
Entah kenapa ana selalu merasa jantungnya berdebar saat rei menatapnya seperti itu.
“Ehm oke.. tapi bisa lepasin dulu kak, sakit” ujar ana melirik tanganya yang masih digenggam erat oleh rei.
“Eh.. sori” rei melepaskan genggamannya dari tangan ana.
__ADS_1
Sampai saat ini rei berusaha menahan dirinya pada ana, karena ia mengira ana masih memiliki kekasih. Saat ini dia harus puas hanya dengan menjadi teman bagi ana, rei tidak mau membuat gadis itu takut dan menghindarinya karena sikapnya yang agresif.