
Kemudian rei mengajak ana ke suatu tempat, tidak lama mereka sampai di sebuah gedung olahraga yang sangat besar. Kampus ini memang memiliki berbagai sarana yang cukup lengkap untuk memfasilitasi setiap kegiatan ekstra kurikuler yang mendorong potensi dan prestasi serta mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki mahasiswanya. Sarana olahraga yang diberi nama Sports Center itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti lapangan basket, sepak bola, tenis, bulu tangkis, karate, dan masih banyak yang lainnya.
Ana mengikuti rei yang masuk ke dalam gedung. Ini pertama kalinya ana masuk ke dalam gedung ini, ia hanya sering melewatinya dan melihatnya dari luar tanpa pernah masuk ke dalamnya. Rei berjalan menuju salah satu ruangan, dan ana terkejut melihat ternyata itu adalah ruangan biliard. Terlihat ada beberapa meja biliard dengan lampu gantung di atasnya, serta kursi dan meja di pinggir ruangan untuk orang-orang yang beristirahat atau sekedar menonton.
“Aku baru tau ternyata di kampus kita juga ada sarana biliard seperti ini. Aku pikir biliard itu identik sama dunia malam dan hal-hal yang berbau negatif” ujar ana saat memandang ke sekeliling ruangan yang cukup ramai oleh para anak muda itu.
Rei tertawa mendengar kata-kata ana.
“Biliard itu salah satu cabang olahraga yang banyak diminati disini, bahkan anggotanya udah banyak yang ikut pertandingan di ajang olahraga resmi” ucap rei. “Disini juga jadi tempat nongkrong yang positif buat anak muda, ga kayak jaman dulu tempat biliard jadi tempat judi atau hal-hal negatif lainnya”.
Ana mendengarkan penuturan rei sambil masih memandangi suasana di sekitarnya.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggil rei.
“Rei” sahut boy menghampiri rei dan ana yang masih berdiri di dekat pintu. “Tumben lo udah lama ga kesini” boy menepuk bahu rei, lalu menoleh ke arah ana “bawa cewe pula” ujarnya lalu tertawa penuh arti.
“Ana kenalin ini teman aku boy, dia anggota disini, jadi kita bisa minta tolong dia buat kita main disini” kata rei memperkenalkan temannya itu.
“Cewe barunya rei ya?” tanya boy saat bersalaman dengan ana.
__ADS_1
“Bukan!” ana spontan menjawab dengan suara keras.
Rei menoleh melihat ana, sedikit tidak senang karena ana menjawabnya dengan sangat cepat.
“Oya? Gue kira lo cewenya rei, soalnya cantik banget, walaupun agak beda sama cewe-cewe rei sebelumnya” ujar boy sambil memandangi ana dari atas ke bawah, membuat ana sedikit risih.
“Lo jangan macem-macem boy” ucap rei, matanya menyorot tajam ke arah boy, tau apa yang ada di dalam kepala temannya itu.
Boy tertawa “santai bro” katanya menepuk bahu rei lagi. “Kalian mau main kan, ayo ikut gue”.
Lalu ana dan rei mengikuti boy ke arah meja biliard di ujung ruangan yang masih kosong.
“Aku ga bisa main ini” ujar ana.
“Liatin aku main dulu” kata rei. Ia tampak sedang memilih-milih tongkat yang akan digunakan, lalu mengambil dua di antaranya dan menyerahkan satu yang lebih kecil pada ana. Sebelumnya rei mengusapkan ujung tongkat dengan kapur.
Kemudian rei menjelaskan mengenai aturan main serta komponen-komponen di dalam permainan ini, seperti Cue Stick, Cue Ball, Object Ball, Pocket, Chalk. Ana mendengarkan dengan seksama. Lalu rei mempraktekkan posisi tangan, posisi badan, dan cara menembak bola.
“Tangan kiri, kepala dan dagu harus alignment dengan ujung siku tangan kanan, jadi ada garis lurus sampai di ujung tip” ujar rei saat menembakkan bola putihnya dan berhasil memasukkan satu buah bola ke dalam kantung.
__ADS_1
“Yang penting jangan tegang ketika akan dan setelah menembak bola karena bisa bikin arah tembakan jadi melenceng” tambah rei lagi.
Ana berusaha mengingat semua yang sudah dilihat dan didengarnya barusan.
Kelihatannya tidak terlalu sulit, pikir ana.
“Mau coba?” tanya rei.
Ana mengangguk, tiba-tiba ia merasa tertarik dan bersemangat.
“Gimana kalau kita battle, biar lebih seru” ujar rei lagi.
“Boleh” sahut ana, walaupun ia tidak yakin akan menang melawan rei, tapi tidak ada salahnya dicoba, pikir ana.
Ana yang memulai permainan. Ia mengangkat sticknya dan memegangnya dengan erat, memposisikan tangan serta badannya seperti yang dicontohkan rei tadi. Rei membetulkan letak jari-jari ana di ujung stick. Ana membidik bola sasaran yang sudah tersusun rapih di atas meja, kemudian ia menyodok bola putih tepat di pusatnya secara lurus dan bertenaga hingga meluncur ke arah bola sasaran. Bola sasaran tersebut berpencar, dan salah satu bola milik ana masuk ke dalam lubang. Ana refleks berteriak kegirangan, ia berhasil pada tembakan pertamanya. Rei tersenyum melihat ana yang bersemangat. Ana mendapat giliran lagi dan mengambil kuda-kuda untuk melakukan tembakan keduanya. Ana kembali membidik targetnya dan menyodok secara perlahan, dan ya, dia berhasil lagi. Ana mulai percaya diri sekarang. Ia melanjutkan ke target berikutnya. Tapi kali ini tembakannya meleset, dan rei mendapat giliran.
Rei tampak menganalisa sudut bola dan arah setiap bola yang akan ditembaknya. Lalu ia mengambil posisi dan membidik bola, walaupun terlihat fokus tapi ia juga terlihat sangat santai saat melakukannya. Ia menembakkan bolanya dan berhasil memasukkan bukan hanya bola miliknya tapi juga bola milik ana. Ana tercengang, merasa sedikit kesal. Kemudian rei melanjutkan gilirannya, dan lagi-lagi rei mendapatkan targetnya. Satu-persatu bola yang ada di atas meja masuk ke dalam lubang oleh tembakan rei dengan segala teknik yang dilakukannya.
Dan akhirnya tembakan rei meleset, hanya tersisa beberapa bola di atas meja.
__ADS_1
Ana yang sudah kehilangan konsentrasi, menyodokkan bola dengan cepat dan gagal mengenai target. Kemudian rei kembali menguasai permainan dan menghabiskan semua bola miliknya. Ana kalah telak. Rei tersenyum penuh kemenangan.