light of love

light of love
Menginap (2)


__ADS_3

Setelah kepergian rei, lisa dan adel langsung menyerbu ana dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi hanya ada di dalam kepala mereka.


“Sebenarnya ada apa antara lo sama kak rei sih na? Kok dia minta maaf?” tanya lisa yang sudah tidak sabar untuk menginterogasi temannya itu.


“Memang lo diapain sama dia? Sampai lo kayaknya marah banget, ga mau liat muka dia gitu” sambung adel yang tidak kalah penasaran.


Ana hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas pelan. Ia bingung bagaimana harus menceritakan kejadian tadi pada kedua temannya. Ana merasa malu mengatakan bahwa ia telah dengan bodohnya mengikuti rei dan berhasil dicium paksa oleh laki-laki itu. Laki-laki yang menciumnya hanya untuk mempermainkan perasaannya. Mungkin bagi rei ciuman tadi hanya sekedar selingan di antara permainannya dengan banyak perempuan. Tapi bagi ana itu adalah ciuman pertamanya yang seharusnya dilakukan oleh orang yang dicintai dan mencintainya. Sedangkan rei yang ia tau tidak mencintainya, dan ia sendiri tidak bisa mengartikan perasaannya saat ini pada laki-laki itu.


“Ehm.. kak rei udah berlaku ga sopan sama gue, jadi gue marah sama dia” jawab ana menutupi apa yang sebenarnya terjadi, dia belum siap menceritakan semuanya secata detil pada dua sahabatnya itu.


Mendengar jawaban ana, lisa dan adel tau bahwa temannya itu belum mau berbagi masalahnya dengan mereka. Akhirnya mereka tidak bertanya apa-apa lagi pada ana, dan menyimpan rasa penasaran mereka sampai ana sendiri yang menceritakannya.


***


Acara peringatan ulang tahun fakultas yang berlangsung selama satu pekan itu berakhir dengan memuaskan semua pihak. Semua panitia akhirnya bisa bernapas lega dan kembali ke aktifitas mereka biasanya, yang sempat mereka tinggalkan demi kelangsungan dan kesuksesan acara tersebut. Ana, lisa, dan adel yang juga sempat meninggalkan beberapa kuliah mereka, harus mengejar ketinggalannya. Mereka meminjam catatan teman yang lain, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan selama mereka tidak hadir kuliah.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tidak terasa sudah satu bulan berlalu. Rei benar-benar menepati janjinya untuk tidak menemui ana lagi. Pernah beberapa kali ana tidak sengaja melihat rei dari kejauhan, atau sebaliknya rei yang melihat ana, tapi keduanya tidak pernah benar-benar saling bertemu dan bertatap muka.


Ana sendiri perlahan-lahan sudah mulai bisa melupakan kejadian di ruang peralatan itu. Ia menyibukkan hari-harinya dengan kuliah, mengajar, menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya. Seperti saat ini, ana sedang berada di kamar adel yang besar, duduk di karpet dengan buku-buku dan kertas-kertas yang memenuhi bagian atasnya bersama lisa dan adel. Adel berhasil membujuk ana dan lisa untuk menginap di rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama.


“Untung ada lo na, kalau ga gue udah nyerah ngerjain tugas sebanyak ini” ujar adel di tengah-tengah kesibukannya menulis di kertas tugasnya.


“Iya na, beruntung kita punya temen pinter kayak lo, hehe” ucap lisa.


“Itu gunanya teman kan, saling membantu dan berbagi. Gue juga beruntung punya teman seperti kalian yang selalu ada buat gue di saat senang maupun susah” kata ana tersenyum menatap kedua sahabatnya.


Mendengar perkataan ana sontak membuat adel dan lisa menghambur untuk memeluk sahabatnya itu. Mereka bertiga berpelukan sembari tertawa bersama.


Setelah menyelesaikan semua tugas, mereka memutuskan untuk menonton film karena merasa belum mengantuk. Ketiga gadis itu sudah memposisikan tubuh mereka dengan tengkurap di atas ranjang adel yang besar.

__ADS_1


“Mau nonton film apa nih? Yang romance aja ya?” tanya adel ketika menyalakan laptopnya dan membuka file folder yang berisi banyak judul film.


“Comedy aja” sahut lisa.


“Action aja” kata ana.


“Jiah.. maunya beda-beda gimana dong” gerutu adel.


“Yaudah, film action yang ada romance sama comedy nya aja” ujar ana memberi saran yang adil untuk ketiganya.


“O iya, lo emang pinter na” kata adel sambil menepuk jidad dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Itu sih lo nya aja yang ga bisa mikir del” sahut lisa gemas dengan temannya yang satu itu.


Mereka bertiga sangat asik menonton, tertawa-tawa ketika ada adegan lucu, berteriak ketika ada adegan menegangkan, dan tersenyum-senyum sendiri dengan adegan romantis di film tersebut.


“Aaah.. seandainya ada cowo kayak gitu di dunia nyata, udah ganteng, macho, kaya lagi” ujar adel saat film sudah selesai.


“Rese lo” adel memberengut.


Ana hanya tertawa mendengar celotehan adel, yang membuat temannya itu jadi teringat sesuatu.


“Oya na, btw kak gilang kasian tau.. kenapa ga lo terima aja sih?” ujar adel teringat dengan gilang yang menembak ana beberapa hari lalu.


Ya, ada kejadian yang cukup menghebohkan beberapa hari lalu, yaitu saat gilang menembak ana dan meminta gadis itu menjadi pacarnya. Namun ana menolaknya dengan alasan ingin fokus dengan kuliahnya, sama seperti alasan yang ia berikan sebelum-sebelumnya ketika ada pria yang menyatakan cinta padanya. Padahal alasan yang sebenarnya adalah ana tidak memiliki perasaan spesial apapun pada gilang ataupun pria-pria itu. Entah kenapa berita bahwa ana menolak gilang menyebar ke seluruh kampus, padahal tidak banyak orang yang melihat kejadian itu. Pasalnya gilang yang merupakan ketua BEM fakultas cukup terkenal di kalangan para mahasiswa, dan tidak sedikit gadis yang menyukainya karena sosoknya yang ramah dan cerdas.


“Gue ga punya perasaan apa-apa sama kak gilang del, gue cuma anggap dia senior. Kalau gue terima dia berarti sama aja gue mainin dia kan” jawab ana. Entah sudah yang keberapa kali mereka membahas masalah ini.


“Memang kenapa lo ga suka sama dia na? Dia kan orangnya baik, ganteng juga.. ya walaupun ga seganteng kak rei sih” ujar lisa yang keceplosan menyebut nama rei, ia buru-buru menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


Sudah lama mereka tidak membicarakan laki-laki itu sejak terakhir kali bertemu dengannya di auditorium sebulan yang lalu. Lisa dan adel tau ana tidak mau membahas rei, walaupun mereka tidak tau pasti apa alasannya.


Ana yang mendengar nama rei disebut mendadak terdiam. Ia jadi teringat lagi kejadian sebulan yang lalu. Lisa yang melihat raut wajah ana yang tiba-tiba berubah menjadi merasa bersalah.


“Sori na” ucap lisa.


“Ga apa-apa lis, kenapa lo harus minta maaf” ujar ana tersenyum. “Gue memang ga mau ngebahas rei sejak kita di auditorium itu, tapi sekarang gue udah baik-baik aja dan gue mau cerita sesuatu sama kalian”.


Lisa dan adel saling berpandangan karena bingung, lalu menatap ana lagi menunggu kelanjutan dari kata-kata ana. Dan setelah menarik napas pelan, ana pun menceritakan semua yang terjadi hari itu. Lisa dan adel melebarkan matanya dan menganga saking tidak percaya. Mereka sama sekali tidak mengira akan apa yang baru saja ana ceritakan.


“Gue ga nyangka kak rei kayak gitu” ucap lisa yang masih sangat terkejut.


“Kalau kak rei suka sama lo kan harusnya dia nembak lo dulu ya, bukan pake cara kayak gitu” adel yang juga masih syok mendengar cerita ana.


“Pantes lo marah banget sama dia na” ujar lisa.


“Harusnya lo langsung bilang sama kita waktu itu, biar kita kasih pelajaran itu cowo brengsek” kata adel emosi.


“Apa perlu kita samperin dia sekarang buat ngebales kekurang ajarannya sama lo na” lisa yang juga tak kalah emosi.


“Udahlah.. gue udah lupain masalah itu kok. Lagian sekarang dia udah ga ganggu gue lagi sesuai janjinya waktu itu” ujar ana menenangkan kedua sahabatnya.


Akhirnya mereka bertiga terdiam selama beberapa saat.


Adel yang tiba-tiba memecah kesunyian “Kak rei ciumannya hot ga na?” celetuknya, membuat kedua temannya mendongak kaget.


Terlebih ana yang sangat terkejut mendengar pertanyaan adel. Wajahnya seketika memerah mengingat kembali adegan ciuman yang sangat panjang dan panas di ruang peralatan itu.


“Adel !” teriak ana lalu memukul-mukulkan bantalnya ke tubuh adel.

__ADS_1


Adel dan lisa tertawa-tawa dengan sikap ana yang menjadi salah tingkah.


__ADS_2