
Malam harinya di rumah nico, ana disambut oleh heni yang seperti biasa di jam-jam ini sedang bersantai di ruang keluarga, kali ini bersama suaminya. Setelah berbasa-basi sebentar dengan kedua orang tua nico, ana langsung masuk ke dalam kamar nico. Dilihatnya anak itu sudah duduk di karpet besar samping tempat tidur, tempat mereka biasanya belajar.
“Kak” seru nico ketika ana masuk ke dalam kamarnya.
“Gimana ulangannya tadi?” tanya ana saat sudah duduk di sebelah nico.
“Lancar dong, siapa dulu gurunya” jawab nico dengan senyum lebar di wajahnya.
Ana tersenyum senang mendengarnya, bagaimanapun juga salah satu tugasnya menjadi guru les privat adalah mempersiapkan anak muridnya dalam menghadapi ujian.
“Itu baru ulangan loh, belum ujian nasional sama ujian masuk perguruan tinggi, jangan ngerasa puas dulu” ujar ana mengingatkan agar nico tidak lupa masih banyak yang harus dilaluinya.
“Iya kak, aku ga lupa kok, makanya aku belajar terus sama kak ana kan” ucap nico menatap guru cantiknya itu.
“Kak ana udah makan belum?” tanya nico teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, ia tidak ingin gadis itu menahan lapar lagi saat bersamanya karena belum makan malam.
“Udah co, tadi sebelum kesini kakak makan dulu” jawab ana.
“Beneran udah?” tanya nico lagi memastikan.
“Iya bener coo..” jawab ana lagi.
Nico tampak berpikir sebentar “kalau gitu aku bawain cemilan aja ya” ujar nico.
Ana hendak menolak, namun nico sudah beranjak dan dengan cepat keluar dari kamarnya.
Sembari menunggu nico, ana membuka-buka bukunya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dilihatnya nama di layar hand phonenya.
“Ngapain kak rei telpon malam-malam gini?” ana mengernyitkan dahinya.
“Halo” ujar ana saat menempelkan hand phone ke telinganya.
__ADS_1
“Halo ana” jawab rei.
“Iya kak rei, ada apa?” tanya ana.
“Ga ada apa-apa, pengen denger suara lo aja” jawab rei lagi “lo lagi ngapain?”.
Belum sempat ana menjawab, nico kembali dengan membawa sepiring kue dan air minum untuk ana.
“Tadi bunda bikin kue, cobain” ujar nico meletakkan bawaannya di meja di hadapan ana.
“Makasih co” ucap ana masih dengan ponsel di telinganya.
“Lagi telpon siapa?” tanya nico yang baru sadar ana sedang menelpon seseorang.
“Ah..kak rei udah dulu ya, aku lagi ada kerjaan” kata ana pada rei yang masih mendengarkan di seberang sana.
“Oh.. oke” ujar rei.
Kemudian ana memutuskan sambungan telponnya lebih dulu.
“Temen kakak” jawab ana.
“Oh.. kirain pacar” ujar nico yang masih ingin memastikan.
“Pacar dari mana co, ngaco kamu” ana tertawa mendengar ucapan muridnya Itu.
Nico ikut tertawa, dalam hati ia merasa sangat lega bahwa ana masih belum memiliki pacar. Bukan tidak mungkin ada pria yang mengincar gadis pujaannya ini. Bahkan ia sangat yakin banyak laki-laki yang menyukainya dan menginginkan jadi pacarnya. Tapi nico belum bisa mengungkapkan perasaannya saat ini, dia masih belum percaya diri, takut ana akan menolaknya. Bahkan yang lebih menakutkan baginya, ana akan menghindarinya dan tidak mau menjadi gurunya lagi jika tau ia menyukai ana. Jadi nico memutuskan menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya pada ana.
Sementara itu di tempat lain, rei mendadak muram di dalam kamarnya. Senyumnya seketika menghilang sambil memandangi layar ponselnya. Ia mendengar suara seorang laki-laki di dekat ana sebelum gadis itu menutup telponnya.
“Harusnya gue tau” ucapnya. “Pasti ana lagi ngelepas kangen sama cowonya karna ga ketemu selama week end kemarin”.
__ADS_1
“Shit!” umpatan itu keluar begitu saja dari bibir rei. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Dari awal rei sudah tau ana memiliki pacar, tapi entah kenapa rei merasa sangat kesal ketika tau ana sedang bersama kekasihnya saat ini.
“Jadi dia nolak gue tadi siang karna mau ketemu sama cowonya” dengus rei kesal.
Rei terus mengumpat dan menggerutu tidak jelas sambil melempari bantalnya sembarangan ke lantai. Tepat saat rei melempar bantal terakhirnya, carrissa masuk ke dalam kamarnya.
“Kak.. kenapa lo? Bantal di lempar-lemparin, emangnya salah apa si bantal?” tanya carrissa yang heran melihat semua bantal rei sudah tergeletak di lantai.
Rei hanya mendengus kesal sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
“Kenapa kak? Abis diputusin ya?” carrissa menghampiri kakaknya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
“Diputusin.. jadian aja belum” rei mendecih dengan wajah kesal.
“Kenapa ga dijadiin kak?” carrissa mulai penasaran dan duduk di tepi ranjang rei yang besar.
“Dia udah punya cowo” jawab rei muram.
Carrissa tergelak kencang. Baru kali ini ia melihat kakaknya uring-uringan karena seorang wanita. Terlebih wanita itu sudah mempunyai pacar.
“Sumpah demi apa kak? Kakak suka sama cewe orang?” carrissa tidak henti-hentinya menertawakan rei.
“Kenapa lo ketawa? Mending keluar deh, lo disini malah bikin gue tambah kesel tau ga!” bentak rei.
“Ish.. serem amat sih kak, jangan galak-galak dong ntar cepet tua” sahut carrissa masih dengan tawa meledeknya.
“Ngapain lo kesini?” tanya rei dengan tampang galak.
“Tadinya mau minta bantuin ngerjain PR, tapi ga jadi deh takut digigit” ujar carrissa yang bangkit dari duduknya hendak beranjak keluar.
“Siapa juga yang mau bantuin lo, ogah amat!” sahut rei ketus.
__ADS_1
“Ish.. aku doain supaya tu cewe makin lengket sama pacarnya!” seru carrissa sebelum kabur menutup pintu kamar rei.
“Sialan” umpat rei yang semakin kesal mendengar ucapan adiknya.