
Nico minta ijin pada ibunya untuk menemani ana makan malam di luar. Ibunya langsung mengijinkan bahkan menyuruh nico untuk sekalian mengantarkan ana pulang. Ana yang sempat menolak untuk diantar pulang oleh nico karena tidak ingin merepotkan, pada akhirnya hanya bisa menuruti keinginan ibu dan anak itu.
“Ga pa pa kan kak naik motor?” tanya nico pada ana saat mereka sudah berada di sebelah motor gede milik nico di parkiran samping rumah.
“Iya ga pa pa, udah biasa naik ojek online” jawab ana sambil tertawa.
“Jadi ceritanya sekarang aku lagi jadi driver ojek online yang ganteng ya kak?” ucap nico dengan wajah sok cool.
Ana tertawa “berarti aku harus bayar ongkos dong ya” ujar ana membalas candaan nico.
“Bayarnya pake perasaan aja kak” jawab nico dengan senyum jahil.
“Maksudnya?” tanya ana yang tidak mengerti dengan ucapan nico.
“Eh.. engga kak becanda, hehe” jawab nico sambil tertawa, sedikit gemas dengan kepolosan gadis di hadapannya itu.
Ana yang masih tidak mengerti hanya tertawa menanggapinya.
“Kakak mau makan apa?” Tanya nico sambil memberikan helm pada ana.
“Hmm apa ya yang enak” ujar ana berpikir sambil memakai helmnya.
“Gimana kalau ke cafe yang aku tau kak, disana makanannya lumayan enak dan tempatnya juga nyaman” saran nico, “kebetulan lokasinya searah dengan tempat kos kakak” tambahnya.
Ana berpikir sebentar sambil menatap nico yang lebih tinggi darinya itu “yaudah boleh” jawab ana sambil menganggukkan kepalanya yang sudah memakai helm, menyebabkan helm yang cukup besar untuk ukuran kepalanya tersebut merosot sedikit menutupi wajahnya. Nico yang melihat hal itu otomatis tertawa, lalu dengan segera membantu membetulkan helm di kepala ana yang juga sedang tertawa karena kekonyolannya sendiri. Tak lama mereka pun segera naik ke atas motor, ana agak kesulitan menaikinya karena motor nico yang besar dan tinggi.
__ADS_1
“Udah kak?” tanya nico menolehkan kepalanya sedikit ke belakang saat ana sudah duduk di jok belakangnya.
“Udah” jawab ana sambil membetulkan letak tasnya di antara punggung nico dan dirinya.
“Pegangan” kata nico sambil menyalakan motornya.
“Udah nih” sahut ana sambil sedikit menarik pinggiran jaket nico mengisyaratkan bahwa dirinya sudah berpegangan.
Nico tersenyum, sebenarnya dia sangat berharap ana memeluknya dari belakang. Tapi dirinya berusaha bersabar, sampai waktu yang tepat, ia akan membuat gadis itu menjadi miliknya, katanya dalam hati. Lalu tak lama kemudian mereka pun sudah melaju ke cafe yang dituju.
Sementara itu, di sebuah cafe yang cukup terkenal di kalangan anak muda khususnya para mahasiswa, sekumpulan cowok sedang asik mengobrol dan tertawa-tawa. Dari piring-piring dan gelas-gelas yang sudah hampir kosong di atas meja, menandakan mereka sudah cukup lama nongkrong di cafe ini. Pengunjungnya pun sudah mulai banyak yang beranjak pergi karena hari sudah menunjukkan jam sembilan malam. Di antara pemuda itu, rei sedang duduk santai dengan bersandar pada sofa panjang, asik memainkan hp dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia angkat ke sandaran sofa.
“Oya rei, kayaknya kita mau gak mau harus ikutan cari bahan buat tugas kelompok deh” kata adit dengan nada kesal memberitahu rei.
“Si nesya! apes banget kita kebagian satu kelompok sama dia” gerutu adit sedikit emosi.
“Pasti dia ngotot semua anggota kelompok harus ikut berpartisipasi ya? dia kan mahasiswa paling teladan sedunia” sahut rei mendramatisir kata-kata terakhirnya sambil tertawa.
“Iya, gue ga habis pikir sama tu cewek, mana juteknya minta ampun lagi!” kata adit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya memikirkan perempuan yang sedang dibicarakannya itu.
Rei hanya tertawa melihat celotehan teman di hadapannya itu.
“Yah sekali-kali ga pa pa lah kita jadi mahasiswa teladan juga, itung-itung buat pengalaman” ucap rei santai.
Di luar cafe itu, ana dan nico baru saja tiba di parkiran. Nico sudah memarkirkan motornya tidak jauh dari pintu masuk. Ana merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena habis memakai helm. Lalu mereka pun berjalan untuk masuk ke dalam cafe sambil melanjutkan obrolan mereka saat di motor tadi. Nico menceritakan tentang salah satu guru di sekolahnya yang sangat galak, tapi karena cara bicara nico yang sangat berapi-api malah membuat ana tidak berhenti tertawa mendengarnya. Tidak lama setelah memasuki pintu cafe, tiba-tiba nico menghentikan langkahnya sambil memegang lengan ana. Dengan cepat ia berjongkok di depan ana dan membetulkan tali sepatu ana yang lepas. Ana yang merasa bingung dengan apa yang nico lakukan hanya terdiam memandangi lelaki itu dari atas. Begitu dia sadar bahwa nico sedang membetulkan tali sepatunya maka cepat-cepat ia berkata “biarin kakak aja co”, namun belum sempat ana menjongkokkan badannya, nico sudah selesai mengikat tali sepatu ana dan seketika berdiri di hadapannya. Ana mengerjapkan matanya beberapa kali karena kaget melihat nico yang tiba-tiba berdiri sangat dekat di hadapannya. Ana mendongak menatap wajah nico yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata yang lembut. Ana dan nico terbawa dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
‘Ternyata nico seganteng ini ya kalau dilihat dari dekat’ kata ana dalam hati, ia jadi teringat pada adik laki-lakinya.
Sedangkan nico kembali tersihir oleh wajah ana, jantungnya berdetak sangat cepat, ia begitu frustasi ingin menyentuh gadis di hadapannya ini.
Lalu tiba-tiba ada suara perut yang berbunyi sangat keras sehingga menyadarkan keduanya dari adegan tatap-menatap itu. Seketika ana memegang perutnya, dan mereka berduapun tidak bisa lagi menahan tawanya. Mereka berdua tertawa lepas sambil berjalan menuju meja kosong tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
Tanpa mereka sadari , tingkah mereka berdua menjadi perhatian beberapa orang yang berada di dalam cafe itu. Salah satunya rei, yang sejak ana memasuki cafe itu sudah melihatnya dengan sorot mata tajam.
‘Dia lagi? kenapa seharian ini gue ketemu cewe itu terus’ katanya dalam hati.
‘dan yang paling aneh lagi kenapa gue ga bisa berhenti menatapnya, seperti ada magnet yang membuat mata gue ga bisa lepas dari cewe itu’ masih dalam pikirannya rei.
“Itu kirana kan?” ucap salah satu pria yang adalah teman satu jurusan rei.
Rei menoleh, dan dilihatnya pria itu sedang melihat ke arah ana. Adit yang mendengar ucapan pria itu juga ikut menoleh melihat arah pandangan matanya. Dilihatnya ana tengah duduk di salah satu kursi yang agak jauh dari meja meraka.
“Itu cewe yang tadi pagi ga sengaja lo tabrak rei” sahut adit masih dengan memandangi dua orang yang sedang berbicara pada pelayan untuk memesan makanan di seberang sana.
“Gila.. ternyata emang bener-bener cantik ya tu cewe” kata pria yang tadi lagi.
“Emang dia siapa?” tanya adit pada pria itu.
“Dia anak tahun satu dari jurusan sebelah, lumayan populer di kalangan cowo-cowo karena cantik banget, pinter juga” jawab pria itu “tapi yang lagi sama dia itu siapa ya, jangan-jangan pacarnya” ujarnya lagi.
Rei hanya diam memandangi ana dengan perasaan yang tidak bisa ia artikan.
__ADS_1