
“Kamu curang” sahut ana dengan wajah cemberut.
“Aku ga curang, kamu liat sendiri kan tadi aku main” ujar rei sambil menaikkan alisnya.
“Kamu cuma ngajarin satu teknik menembak ke aku, tapi kamu sendiri pakai segala macam teknik yang sulit seperti tadi, mau pamer ya?” ketus ana.
Rei tertawa geli “iya iya, ga usah ngambek gitu dong.. wajar kamu kalah, kan baru pertama kali main”.
“Coba aja main yang aku bisa, pasti aku yang menang” sahut ana masih dengan kejengkelannya.
“Kalau mau, kamu boleh buktiin” kata rei tersenyum miring.
‘Hah.. apa-apaan dia senyum ngeremehin gitu, dia nantang aku ya’ geram ana dalam hati.
“Oke, aku yang tentukan permainannya ya” ujar ana terpancing.
“Oke, tapi kalau tetap aku yang menang, kamu mau kasih aku apa?” rei berkata dengan sangat percaya diri.
“Kamu kayaknya pede banget ya bakalan ngalahin aku.. aku ga akan kasih apa-apa karna kali ini aku yang akan menang” ujar ana, ia yakin rei pasti tidak bisa memainkan ini.
Lalu mereka beranjak ke ruangan lain di dalam gedung itu.
“Catur?” rei menaikkan alisnya menatap ana ketika mereka tiba di depan ruang catur.
“Yup” sahut ana. Tadi saat menuju ruang biliard mereka melewati ruangan ini dan ana melihatnya sekilas dari luar.
__ADS_1
“Kamu yakin?” tanya rei lagi.
“Yakin dong, kenapa? Kamu takut? Kalo takut, mau nyerah sekarang juga ga apa-apa” ujar ana.
‘Haha.. kamu pasti ga nyangka kan aku bakal nantang kamu main catur, kamu pasti ga bisa kan, kamu mau nyerah kan, ayo nyerah aja sekarang nyerah’ kata ana dalam hati, merasa sangat senang karena bisa membalas kekalahannya tadi bermain biliard.
“Siapa bilang aku takut? Ga ada kata nyerah dalam kamus aku untuk hal kayak gini” ucap rei tidak terima.
“Haha.. ya udah kita langsung main aja” ujar ana.
Dan mereka pun duduk berhadapan dengan papan catur di atas meja. Mereka menyusun bidak catur di kotaknya masing-masing.
Ana melangkahkan bidaknya lebih dahulu karena ia memilih bidak putih. Lalu ganti rei yang melangkah. Selama beberapa saat mereka terlihat serius, saling memindah-mindahkan bidaknya di atas papan dan saling memakan lawannya. Ana tidak menyangka ternyata rei lumayan juga bermain catur. Namun sejauh ini ana merasa di atas awan. Ia mengatur strategi untuk mengskakmat raja lawannya. Saking terlalu serius terhadap raja hitam, ana melupakan pertahanan pada rajanya sendiri. Tanpa diduga sama sekali, rajanya telah terperangkap oleh lawan, tidak bisa lari dan tidak ada yang bisa menyelamatkannya, alias skakmat. Ana terperangah bukan main, bagaimana mungkin ia bisa kalah dari rei.
“Ka kamu.. kok bisa?” ana tergagap, masih memandangi papan catur di depannya.
“Ternyata main game catur online ada gunanya juga” ujar rei terkekeh.
Ana mendongak dan membulatkan kedua bola matanya ke arah rei.
“Jadi kak rei pura-pura ga bisa main supaya aku lengah ya” sahut ana kesal.
“Yang bilang aku ga bisa main siapa?” kata rei.
Ana tersentak, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rei memang tidak pernah mengatakan tidak bisa bermain catur. Dirinyalah yang dari awal beranggapan seperti itu.
__ADS_1
“Jadi kamu mau kasih aku apa, aku udah menang dua kali lawan kamu” ujar rei dengan cengiran di wajahnya.
“A aku ga janji apa-apa sama kamu” ucap ana gelagapan.
Rei tertawa, lalu mengusap kepala ana “tenang aja, aku ga akan maksa kamu lagi” ujarnya tersenyum lembut.
Ana mengerjapkan matanya karena sedikit kaget dengan perlakuan rei. Laki-laki itu sudah berubah, tidak lagi suka memaksakan kehendaknya seperti dulu.
Sepanjang perjalanan pulang, rei tidak henti-hentinya menertawakan ana karena kekalahannya bermain catur.
“Puas banget kamu ya ketawanya” sungut ana kesal.
“Habis kamu lucu kalau lagi marah” ujar rei.
“Lucu apanya coba” kata ana.
Ketika sudah hampir sampai di rumah kos, ana melihat ada seorang kakek sedang berjualan buah di pinggir jalan. Mungkin umur kakek itu sudah sekitar 80an, postur tubuhnya bungkuk dengan keriput yang terlihat jelas di wajahnya. Sang kakek menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang menghiraukannya karena buah-buahnya terlihat sudah tidak segar. Ana yang merasa iba berhenti untuk membeli dagangan kakek itu. Ana berbicara sangat ramah pada sang kakek. Walaupun harganya lebih mahal, ana tidak menawarnya dan tetap membeli buah itu.
Rei yang melihat hal itu, tau kalau ana membelinya karena merasa kasihan pada sang kakek. Rei bisa merasakan kebaikan dan kelembutan hati ana.
“Kamu baik banget” ujar rei ketika mereka sudah menjauh dari kakek.
“Kadang melihat orang seperti kakek tadi mengingatkan aku bahwa masih banyak orang yang hidupnya kurang beruntung dibanding aku atau bahkan jauh kurang beruntung. Dan dengan berbagi kepada mereka itu sebagai rasa syukur aku, bahwa apa yang sekarang aku dapatkan dan akan aku dapatkan itulah yang terbaik untuk aku yang diberikan oleh Tuhan”.
Rei tertegun, hatinya berdesir oleh kata-kata gadis itu. Ia tersentuh dan semakin kagum akan sosok ana yang bukan hanya cantik di luar, tapi juga memiliki hati yang luar biasa.
__ADS_1