light of love

light of love
Sebuah Hutang


__ADS_3

Rei pulang begitu saja meninggalkan adit yang memanggil-manggilnya dengan kebingungan. Selama dalam perjalanan pulang ia tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata kasar dari bibirnya, dan mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.


Tiba di rumah amarahnya belum juga reda, ia membanting pintu, melempar tasnya sembarangan di dalam kamar. Rei menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang. Matanya terpenjam berusaha meredam emosinya yang tak juga menghilang. Lama sekali ia seperti itu sambil mengatur nafasnya yang sejak tadi terasa sesak. Hingga akhirnya rei tertidur dalam keadaan emosi yang masih menggebu-gebu.


Keesokan paginya rei terbangun dengan rasa pusing karena terlalu banyak tidur. Semalam ia bangun hanya untuk mandi dan makan malam, setelah itu rei kembali ke kamarnya dan memilih untuk tidur lagi. Ia merasa dengan tidur akan menghapus sedikit rasa gundah di hatinya. Tapi nyatanya sampai saat ini rei masih saja merasa amarahnya akan meledak jika ingat kejadian kemarin.


Rei beranjak dari tempat tidurnya sambil menggerutu-gerutu tidak jelas. Ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Keluar dari kamarnya, rei turun menuju ruang makan yang sudah ada kedua orang tuanya sedang sarapan. Carrissa sudah berangkat sekolah sejak tadi.


“Pagi pa, ma” ucap rei saat akan duduk di kursinya.


“Pagi sayang” balas danita tersenyum lalu mengulurkan sepiring roti yang sudah diolesi selai kepada rei.


Sedangkan sebastian hanya mendehem menanggapi, ia sedang sibuk mengecek pekerjaannya dari ponselnya.


“Kamu sakit rei? Dari pulang kuliah kemarin kamu tidur terus” ujar danita menatap rei cemas.


“Engga ma, rei cuma capek sedikit” jawab rei berbohong.


“Kemarin carrissa mau minta dibantu ngerjain PR sama kamu, tapi karna kamunya tidur terus akhirnya ga jadi. Tapi kata carris sebelumnya kamu juga ga mau ya bantuin dia?” tanya danita menaikkan alisnya.


Sialan, umpat rei dalam hati. ‘Anak itu ngapain sih pake ngadu ke mama segala, awas aja nanti’.


“Bukannya rei ga mau ma, tapi rei ga bisa ngajarin orang, ga punya bakat ngajar” kilah rei.


Danita mengangguk sambil menghembuskan nafasnya pelan.


Setelah menyelesaikan sarapannya, rei pamit kepada kedua orang tuanya untuk berangkat kuliah.


Dalam perjalanannya menuju kampus, pikiran rei kembali diserang oleh kejadian kemarin. Ia sangat kesal, padahal selama beberapa hari ini dirinya sudah berusaha untuk menjauh dari ana agar bisa melupakan gadis itu. Tapi melihat ana kemarin bersama pacarnya, kembali membangkitkan rasa yang sudah ia kubur dalam hatinya.

__ADS_1


Dan tiba-tiba sesuatu melintas di benak rei. Dengan cepat ia membelokkan mobilnya menuju gedung auditorium. Kemarin rei melihat ana memakai name tag panitia. Gadis itu pasti sedang berada disana sekarang.


Setelah memarkirkan mobilnya, rei langsung masuk ke dalam gedung dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok ana. Tidak butuh waktu lama rei menemukannya, ana terlihat berbeda dari semua gadis yang ada disana. Dia sangat cantik dan mempesona dengan kesederhanaannya. Rei berjalan mendekat ke arah ana yang sedang berdiri di salah satu stand.


“Ana” panggil rei saat sudah berada di sebelah ana.


Ana membalikkan badannya dan mendongak melihat lelaki jangkung itu berdiri di hadapannya.


“Kak rei” kata ana yang sedikit terkejut.


“Bisa gue ngomong sebentar” ujar rei dengan sorot mata tidak terbaca.


“Ngomong apa?” tanya ana bingung karena melihat raut wajah rei yang serius.


“Jangan disini” rei mengedikkan kepala agar ana mengikutinya.


Ana yang masih bingung dengan sikap rei yang terlihat sangat serius akhirnya menurut saja, ia mengikuti rei berjalan menuju pojok ruangan yang sepi. Rei berhenti di sebelah pintu ruang peralatan yang terbuka.


Bukannya menjawab rei malah menarik ana masuk ke dalam ruangan di sebelahnya dan menutup pintunya dengan cepat. Ana yang sangat terkejut lantas menatap rei dengan pandangan penuh tanda tanya.


“Lo ga lupa kan masih punya hutang sama gue?” ucap rei. Sorot matanya sangat dingin, baru kali ini ana ditatap seperti itu oleh rei, membuat bulu-bulu halus ana merinding.


“A apa?” ana tergagap “memang kakak mau aku gimana?” tanya ana mulai takut.


Rei melangkah mendekat ke arah ana, mengikis jarak di antara mereka.


“Kak rei mau apa!” suara ana bergetar.


Rei semakin mendekat, membuat ana melangkah mundur hingga tubuh bagian belakangnya terbentur tembok. Jantung ana berdebar sangat kencang. Sekarang tubuh mereka sangat dekat hingga hampir bersentuhan.

__ADS_1


“Cium gue” ucap rei menatap ana tajam.


Ana sontak melebarkan kedua matanya, mulutnya menganga saking tidak percayanya dengan apa yang rei ucapkan barusan.


“Kakak bercanda ya!?” sekarang suara ana sudah meninggi.


Rei mendekatkan wajahnya, begitu dekat sampai ana bisa merasakan hembusan napas hangat laki-laki itu menyapu wajahnya.


“Gue ga bercanda” ujar rei dengan wajah yang memang terlihat serius. “Jadi lo mau ga cium gue?”.


Ana hendak menjauhkan dirinya dari tubuh rei, tapi laki-laki itu dengan cepat menahannya, mengunci tubuh ana dengan kedua sisi tangannya di tembok.


“Jangan gila kak!” bentak ana. Ia berusaha mendorong tubuh rei, tapi usahanya sia-sia. Tenaganya kalah jauh dibandingkan dengan tubuh besar rei yang menghimpitnya.


“Gue memang udah gila.. karna lo ana” rei mengucapkannya tepat di depan bibir ana.


Debaran jantung ana semakin kencang hingga rasanya bisa terdengar oleh laki-laki di depannya ini.


Dan di detik selanjutnya, rei sudah menarik tengkuk ana dan menempelkan bibirnya di bibir gadis itu. Rei menciumi bibir ana seperti orang kesetanan. Ana meronta, tapi sebelah tangan rei yang satunya kemudian menarik pinggang ana ke dalam dekapannya sehingga ana tidak bisa bergerak. Rei melumat bibir ana dengan rakus. Disaat rei melepas ciumannya selama beberapa detik, ana membuka mulutnya hendak berteriak. Namun rei dengan cepat kembali membungkam bibir gadis itu dan memasukkan lidahnya, menjelajahi setiap rongga mulut ana yang terasa amat manis baginya. Rei menekan tengkuk ana untuk memperdalam ciumannya, sampai ana sulit bernafas. Ana memukul-mukul bahu rei dan mencakar wajahnya. Namun rei sama sekali tidak melepaskan bibirnya dari bibir ana, terus melumatnya seperti orang kehausan.


Setelah ciuman yang terasa amat panjang itu, akhirnya rei melepaskan pagutannya, mereka berdua sama-sama kehabisan napas. Ana mendorong tubuh rei begitu dekapannya mulai mengendur.


“Kenapa kak rei ngelakuin hal ini ke aku!?” bentak ana dengan napas yang masih terengah-engah. Wajahnya memerah dan matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.


Rei yang melihat ana hampir menangis, seketika tersadar dari kegilaannya. Dia sudah benar-benar lepas kendali.


“Ana sori” rei hendak melangkah mendekati ana.


“Jangan sentuh aku lagi!” ujar ana setengah berteriak, membuat rei menghentikan langkahnya. “Aku kecewa sama kak rei”.

__ADS_1


Lalu ana berjalan menuju pintu dan pergi meninggalkan rei yang dipenuhi rasa penyesalan.


__ADS_2