
Seperti yang lisa katakan, minggu ini merupakan minggu yang sangat sibuk bagi ana, lisa, dan adel. Mereka hampir tidak punya waktu untuk bersantai di kampus. Saat jam-jam kosong di sela jadwal kuliah mereka gunakan untuk persiapan acara ulang tahun fakultas. Mereka sebagai anggota tim bazar bertugas dalam mengurus segala hal yang berhubungan dengan persiapan dan terlaksananya acara tersebut sampai selesai. Mulai dari pendaftaran peserta, membuat layout, dekorasi, promo, dan yang lainnya. Pesertanya adalah mahasiswa dan alumni fakultas tersebut. Acaranya dibuka untuk umum dan berlokasi di gedung auditorium kampus.
Hingga tibalah saatnya hari yang telah ditentukan. Sehubungan dengan adanya kegiatan yang akan berlangsung selama satu pekan itu, khusus bagi panitia dan peserta acara mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti kuliah. Beberapa dosen bahkan ada yang sengaja meliburkan kuliahnya karena ikut serta dalam seminar yang juga merupakan bagian dari rangkaian acara tersebut.
Ana, lisa, dan adel sudah berada di auditorium bersama panitia dan peserta bazar yang lainnya. Tampak ruangan itu telah disulap menjadi area bazar dengan berbagai macam stand yang telah didesain sesuai dengan barang yang dijual. Stand-stand tersebut menjual berbagai macam produk seperti kerajinan, aksesoris, buku, pakaian, makanan, minuman, dan masih banyak lagi.
Pengunjung semakin ramai saat siang hari, sehingga ana, lisa, dan adel ikut membantu menjaga stand yang dikerumuni orang-orang. Selain mahasiswa kampus itu, banyak juga pengunjung dari luar yang datang untuk sekedar melihat atau membeli sesuatu di bazar tersebut.
Disaat ana sedang sibuk merapihkan barang di meja stand yang sedikit berantakan, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan memanggil namanya. Ana mendongak, betapa terkejutnya ia saat melihat nico berdiri di hadapannya. Nico tersenyum lebar melihat wajah ana yang mulutnya sedikit menganga karena kaget, raut wajahnya menjadi lucu, dan sangat menggemaskan menurut nico. Ana memang pernah satu kali menceritakan pada nico tentang kegiatan yang diadakan di kampusnya ini, dan ia ikut berpartisipasi sebagai panitianya. Tapi ana sama sekali tidak menyangka nico akan datang.
“Nico.. kamu dateng” seru ana yang senang melihat muridnya itu mau datang ke acara seperti ini.
“Iya kak, tadi habis pulang sekolah langsung kesini” ujar nico.
“Kamu udah ijin tante heni mau kesini?” tanya ana.
“Udah, tadi kan pulang dulu ganti baju” jawab nico.
“Kenapa ga bilang-bilang kakak sih mau kesini?” ujar ana dengan raut wajah yang dibuat kesal.
“Kan mau kasih surprise buat kak ana” jawab nico lagi dengan cengiran di wajahnya.
“Dasar kamu ini” ana jadi tersenyum karena tingkah lelaki yang sudah dianggap seperti adiknya itu. “Kalau gitu kakak temenin kamu keliling liat-liat ya”.
__ADS_1
Nico dengan cepat menganggukkan kepalanya. Ia merasa sangat senang bisa bertemu ana di luar waktu lesnya.
***
Sementara itu di dalam kelas, rei sedang memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Ia baru saja menyelesaikan kuliah terakhirnya hari ini.
“Lo mau langsung pulang rei?” tanya adit, mengingat hari belum sore dan masih bisa menghabiskan waktu dengan nongkrong di kantin seperti biasa.
Rei berpikir sejenak.
Tepat di bangku depan adit, tampak nesya yang sedang merapihkan buku-bukunya dengan terburu-buru, membuat adit jadi mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.
“Ketua” panggil adit.
Nesya tidak menjawab ataupun menoleh.
“Lo manggil gue?” tanya nesya mengernyitkan dahinya.
“Ya iyalah siapa lagi” jawab adit.
“Nama gue nesya” ujar nesya datar.
Adit tergelak “iya gue tau nama lo nesya”.
__ADS_1
“Lo kayaknya sibuk banget akhir-akhir ini, abis kuliah langsung ngilang cepet banget” ucap adit lagi.
“Gue emang sibuk” nesya bangkit dari kursinya hendak pergi.
“Lo mau kemana sih buru-buru banget?” tanya adit yang merasa belum puas berbicara dengan gadis itu.
“Kan gue udah bilang sibuk, lo ga tau sekarang lagi ada acara peringatan ulang tahun fakultas kita?” ujar nesya.
“Oya? Gue ga tau” ucap adit dengan wajah polosnya.
Nesya mendengus, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan selembar brosur ke tangan adit. Brosur itu berisi tentang rangkaian acara yang dimaksud nesya, lengkap dengan waktu dan lokasinya.
“Kalau kalian ga ada kerjaan dateng aja, minimal ikut ngeramein” ujar nesya.
Rei dan adit hanya bengong menatap nesya. Jangan lupa kalau gadis itu senang mengatur dan mempengaruhi orang lain dengan kata-katanya.
“Gue mau ke auditorium, sekarang lagi ada bazar disana, kalian mau ikut?” ucap nesya lagi.
Adit menoleh pada rei “ikut yuk rei”.
Rei yang juga sedang merasa bosan akhirnya menyetujui ajakan adit. Tidak ada salahnya sesekali mengikuti acara seperti ini, pikirnya. Dan akhirnya mereka bertiga pun bersama-sama bergegas menuju auditorium.
“Gue kesana dulu ya” ujar nesya pada adit dan rei saat mereka sudah tiba di dalam auditorium. Lalu ia pergi menghampiri teman-teman BEMnya di sudut ruangan.
__ADS_1
Rei dan adit memutuskan untuk melihat-lihat stand yang ada disana. Ketika sedang menyusuri ruangan yang telah berubah menjadi area bazar tersebut, tiba-tiba langkah rei terhenti, pandangannya terpaku pada dua orang yang berdiri tidak jauh darinya.
Ana sedang bersama laki-laki yang dilihatnya di cafe dulu, pacarnya pikir rei. Kepala rei mendadak panas begitu melihat pemandangan di depan sana, rahangnya mengeras menahan amarah. Pandangannya berubah tajam, rei amat sangat tidak menyukai melihat ana tersenyum pada laki-laki itu. Mereka tampak sangat akrab dan dekat satu sama lain. Apalagi laki-laki yang dikira rei sebagai pacar ana itu, tidak henti-hentinya tersenyum memandangi wajah ana dengan sorot mata yang penuh damba. Rei langsung tau kalau laki-laki itu sangat tergila-gila pada ana. Dan pastinya ana juga merasakan hal yang sama pada pacarnya, batin rei. Entah kenapa dada rei bergemuruh menahan amarah melihat kenyataan itu. Padahal dia tau bukan haknya untuk merasa cemburu ataupun marah, karena dia bukanlah siapa-siapa bagi ana.