
Tiga hari berlalu sejak rei bertemu ana dan menelponnya malam itu. Ia tidak lagi berusaha mencari atau menghubungi ana. Meskipun demikian, pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh gadis itu, wajahnya, senyumnya, suaranya, dan semua tingkah laku ana seakan-akan telah melekat di dalam benaknya. Sekeras apapun rei mencoba untuk mengusirnya tetap saja bayangan itu tidak mau hilang. Rei begitu frustasi kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. Ingin rasanya ia tetap dekat dengan ana, namun jika ingat saat ana lebih memilih kekasihnya ketimbang dirinya, rei menjadi sangat kesal dan emosi. Egonya yang tinggi tidak mengijinkannya untuk mengiba kepada seorang perempuan yang sudah mencintai orang lain.
Rei dan adit sedang duduk di tempat langganan mereka di pojok kantin.
“Rei come on.. lo kenapa sih?” tanya adit yang sedang memperhatikan wajah kusut temannya itu. Sudah tiga hari ini rei sulit sekali diajak bicara, dia lebih banyak diam dan murung.
Rei tidak menghiraukan adit, dia malah seolah asik dengan hpnya tapi sebenarnya pikirannya melayang entah kemana, pandangannya kosong sambil menghisap dalam-dalam rokoknya kemudian menghembuskannya.
Adit menyerah, ia tau mood rei tidak akan berubah kalau sudah seperti ini.
Tiba-tiba seorang perempuan datang melenggang menghampiri meja rei dan adit. Hampir semua orang yang ada di kantin itu menoleh ke arah gadis seksi itu. Friska mengenakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan wajahnya dirias dengan make up sempurna bak seorang model.
“Hai.. boleh gue gabung?” tanya friska dengan senyum manisnya.
Adit mendongak dan memandangi friska beberapa saat, lalu ia menoleh pada rei tapi temannya itu hanya melirik sekilas ke arah friska kemudian kembali cuek dengan hpnya.
Adit menganggukkan kepalanya dan friska pun langsung duduk tepat di hadapan rei.
“Rei.. udah lama nih kita ga ketemu, lo ga kangen sama gue” ujar friska menatap rei lekat-lekat.
Rei mendongak dan menaikkan sebelah alisnya “lo lupa kita udah putus?” ujar rei datar.
“Engga, tapi gue ga bisa lupain lo rei, gue nyesel udah minta putus” friska menatap rei dengan penuh harap.
Rei diam saja, ia sudah bisa menebak kelanjutan dari ini.
“Gue mau kita balikan rei, gue masih sayang sama lo” ucap friska tanpa malu.
__ADS_1
Rei mendecih “ga ada sejarahnya gue balikan sama mantan” ujarnya dengan senyum miring.
“Rei please maafin gue.. gue tau lo marah karna gue putusin kan, tapi gue benar-benar ga bermaksud untuk itu. Gue cuma lagi emosi waktu itu karna sikap lo yang cuek dan sering ga ada kabar. Tapi sekarang gue akan berusaha buat ngertiin lo rei, please balikan sama gue”. Friska memohon dengan wajah memelas pada rei, ia tidak peduli dengan harga dirinya lagi di depan laki-laki ini. Yang ia inginkan adalah membuat rei menjadi miliknya kembali.
“Kayaknya lo udah salah paham fris, gue sama sekali ga marah lo mutusin gue” ujar rei santai. “Tapi gue ga ada niat sedikit pun untuk balikan sama lo” tambahnya sambil mematikan rokoknya dan mengambil ranselnya.
Rei bangkit dari kursinya dan menoleh pada adit “gue duluan” ujarnya.
“Mau kemana?” tanya adit bingung, sejak tadi ia hanya memperhatikan pembicaraan mantan sepasang kekasih di depannya ini.
“Pulang” jawab rei. Padahal masih ada beberapa mata kuliah lagi hari ini, tapi rei merasa sangat suntuk dan malas untuk terus berada di kampus.
Rei beranjak dari kantin, friska yang masih belum menyerah mengikutinya.
“Rei tunggu” seru friska yang berjalan cepat di belakang rei.
Rei tidak memperdulikannya dan terus berjalan mempercepat langkahnya.
“Rei dengerin gue dulu” ujar friska yang berjalan cepat mengimbangi langkah rei sambil terus memegangi lengannya agar tidak tertinggal.
“Lo ngapain ngikutin gue?” rei menoleh pada friska yang berjalan disampingnya, mengernyitkan dahinya. “Ga ada lagi yang perlu diomongin, kita udah selesai” ucap rei yang tidak menghentikan langkahnya.
“Ga mau, kita belum selesai” sahut friska yang mulai frustasi. Ia tidak menyangka rei akan menolaknya seperti ini. Tadinya friska pikir rei akan dengan mudah menerimanya seperti saat ia menembaknya dulu.
‘BRUK’ friska menyenggol seseorang dengan cukup keras saat berbelok di simpang lorong.
Dia adalah ana. Rei otomatis menghentikan langkahnya, memandang gadis itu yang sedang bersama kedua temannya.
__ADS_1
“Kalo jalan liat-liat dong” sahut friska ketus, padahal jelas-jelas dia yang salah tidak memperhatikan jalan karena sibuk mengikuti rei.
Ana yang tidak merasa bersalah diam saja, pandangannya malah fokus pada lengan rei yang dikait oleh tangan wanita yang menabraknya itu.
“Lo ga apa-apa?” rei menatap ana. Ya Tuhan, dia sangat merindukan gadis ini, batinnya dalam hati.
“Ga apa-apa” jawab ana.
Ana dan rei berpandangan cukup lama.
“Rei” friska menyadarkan kedua orang yang sedang saling bertatapan itu. Ia menoleh ke arah rei dan ana secara bergantian.
Ana yang melihat keheranan di wajah friska akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari sana.
“Ayo lis, del” ujar ana pada kedua temannya. Mereka bertiga pun pergi begitu saja meninggalkan rei, yang masih memandangi gadis yang telah membuatnya uring-uringan selama beberapa hari ini.
“Kak rei sama siapa ya itu, kok gandengan tangan gitu?” ujar lisa ketika mereka sudah berjalan jauh.
“Dasar playboy, udah deketin ana masih aja jalan sama cewe lain!” adel berkata sewot.
Ana yang mendengarkan kedua sahabatnya hanya diam saja. Entah kenapa jauh di dalam hatinya ia merasa kesal dan kecewa melihat rei bersama wanita lain.
‘Jadi sikap baik dan kata-kata manisnya beberapa hari yang lalu itu memang ga ada artinya buat dia’ batin ana dalam hati.
Lisa yang melihat ana tiba-tiba murung, langsung tau kalau temannya itu sedang memikirkan rei.
“Mau makan apa nih guys, harus makan yang bergizi nih secara seminggu ini kita sibuk banget sama kuliah dan persiapan acara fakultas” ujar lisa yang ingin mengalihkan perhatian ana dari kejadian tidak menyenangkan tadi.
__ADS_1
“Apa aja yang penting enak dan kenyaaang” sahut adel yang sudah kelaparan.
Ana akhirnya tersenyum dan tertawa bersama kedua sahabatnya, melupakan apa yang tadi mengganggu pikirannya.