light of love

light of love
Balas Budi


__ADS_3

Di dalam kelas saat sedang menunggu dosen, ana sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.


“Lo cari apaan sih na” tanya lisa yang melihat ana sangat sibuk sedari tadi.


“HP gue” jawab ana dengan nada yang mulai terdengar panik.


Namun sampai semua barang yang ada di dalam tasnya dia keluarkan, ana tetap tidak menemukan hand phonenya.


“HP lo ilang na?” tanya adel yang juga sudah ikutan panik.


Lalu adel mencoba menelpon ke handphone ana beberapa kali namun tidak diangkat.


“Ga diangkat” kata adel menatap ana.


“Coba lo inget-inget terakhir lo pegang hp kapan, mungkin jatuh atau ketinggalan di suatu tempat” ujar lisa yang berusaha menenangkan tapi masih ada sedikit nada panik di dalamnya.


Ana kemudian mengingat-ingat kapan terakhir kali dia memegang hand phonenya.


“Seinget gue terakhir di kantin, waktu bales pesan dari nyokap” jawab ana.


“Yaudah kita kesana sekarang” ujar lisa.


Dan mereka bertiga pun berjalan cepat meninggalkan ruangan kelas, tidak peduli kalau kuliah sebentar lagi akan dimulai. Saat tiba di kantin, ana menghampiri meja tempat dia makan tadi tapi tidak menemukan hand phonenya. Lalu ia bertanya pada petugas maupun orang-orang yang berjualan di kantin tersebut, tapi tidak ada yang tau.


“Mungkin jatuh kali na, semoga aja yang nemuin orang baik dan balikin hp lo” kata lisa saat mereka berjalan kembali menuju ruang kelas.


Ana hanya diam saja, entah dia harus merasa sedih atau kesal. Baginya kehilangan sebuah hand phone bukanlah sesusatu yang murah. Jangankan untuk membeli handphone baru, untuk kebutuhan sehari-hari saja dia harus menghemat uangnya. Lisa dan adel bingung bagaimana cara menghibur ana. Yang bisa mereka lakukan hanya berdoa supaya handphone ana ditemukan.


Selama sisa hari itu di kampus, ana jadi tidak bersemangat. Adel dan lisa masih berusaha menghubungi handphone ana yang sekarang sudah tidak aktif. Kemudian mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang, setelah sebelumnya mencari sekali lagi di lorong kampus maupun tempat-tempat yang ana datangi hari ini, tetapi hasilnya tetap nihil.


Saat tiba di depan pagar rumah kosnya, ana melihat sebuah mobil mewah terparkir disana. Ana tidak merasa penasaran siapa pemilik mobil tersebut dan terus melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Namun ketika dirinya memasuki ruang tamu langkahnya terhenti, dilihatnya seseorang yang dikenal sedang duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


“Hai.. baru pulang?” sapa rei sambil tersenyum menatap ana yang sedang berdiri mematung di depan pintu.


“Iya” jawab ana. “Lagi nunggu kak nesya ya?” tanya ana.


“Ga.. gue nunggu lo” jawab rei menatap ana dengan sorot mata tidak terbaca.


“Nunggu aku?” tanya ana heran. “Ada perlu apa ya?”.


Lalu rei memasukkan tangannya ke dalam saku celana, mengambil sesuatu. Betapa terkejutnya ana saat laki-laki itu memegang handphone yang seperti miliknya. Ana berjalan mendekat ke arah rei untuk memastikan dan duduk di sofa sebelahnya.


“Itu handphone aku kan? Kok bisa sama kak rei?” tanya ana setelah yakin handphone itu benar miliknya.


Sebelah tangannya sudah menengadah ke arah rei, meminta rei untuk mengembalikan hpnya. Namun rei bukannya menyerahkan hp tersebut malah terus menggenggamnya dengan erat.


“kalau bukan gue yang nemuin, mungkin lo udah ga bakalan liat hp ini lagi” kata rei yang mendramatisir keadaan.


“Iya makasih banyak kak” ucap ana tulus, karena tadi dia benar-benar sangat sedih saat memikirkan hpnya hilang.


“Hah? i iya.. memang apa lagi kak? Aku benar-benar makasih banget sama kakak karena udah mau balikin hp aku” jawab ana.


“Kalau lo sangat berterima kasih sama gue, jangan cuma pakai omongan aja” tukas rei.


“Maksudnya? Memangnya aku harus gimana lagi kak?” tanya ana yang kebingungan.


“Gue mau lo balas budi sama gue” ucap rei dengan seringai di wajahnya.


“Balas budi? Kak rei serius?” tanya ana tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


“Serius lah” kata rei yakin.


“Gimana caranya aku balas budi kak?” tanya ana sambil tertawa karena merasa rei sedang bercanda.

__ADS_1


“Lo cukup penuhin tiga permintaan gue” jawab rei.


“Tiga? Banyak amat kak.. hp aku ga semahal itu kali kak, sampai harus segitunya balas budi” ujar ana yang sudah mulai kesal karena merasa sedang dikerjai oleh rei.


“Yaudah kalau lo ga mau, gue cukup tau aja ternyata lo ga benar-benar tulus berterima kasih sama gue” tukas rei sambil mencibir menatap ana.


Ana yang merasa disudutkan oleh kata-kata rei akhirnya pasrah.


“Oke oke.. kakak maunya apa?” tanya ana dengan wajah sedikit kesal.


“Ga susah-susah kok.. pertama gue minta nomor hp lo” jawab rei sambil mengambil hand phonenya sendiri dan bersiap menyimpan nomor ana ke daftar kontaknya.


Ana yang merasa itu tidak sulit langsung menuruti permintaan lelaki itu.


“Yang kedua apa?” tanya ana yang sudah tidak sabar ingin hpnya kembali.


“Yang kedua dan ketiga masih belum gue pikirin” jawab rei. “Nanti kalau udah kepikiran, gue kasih tau lo” tambahnya.


Kemudian rei menyerahkan hand phone ana kepada pemiliknya.


“Inget, lo masih punya hutang balas budi sama gue, lo harus siap di saat gue minta” ucap rei tegas.


“Asal jangan yang aneh-aneh aja” kata ana pelan, yang merasa agak ngeri memikirkan apa lagi permintaan rei berikutnya.


Rei tertawa mendengar ucapan ana, “ga aneh-aneh kok, lo tenang aja” ujarnya.


Lalu akhirnya rei pamit pulang dengan senyuman penuh kemenangan di wajahnya.


Sedangkan ana masih merasa tidak percaya akan permintaan balas budi dari seniornya itu.


“Dasar aneh..” ucapnya saat memandang punggung rei keluar dari halaman kosnya.

__ADS_1


“Yang penting hp aku balik lagi” katanya yang tidak mau ambil pusing, sambil tersenyum menatap hand phonenya yang tidak jadi hilang.


__ADS_2