light of love

light of love
Perpustakaan


__ADS_3

Rei dan adit sudah berada di perpustakaan kampus. Semalam akhirnya mereka memutuskan untuk mencari bahan tugas kelompoknya di gedung itu. Perpustakaan itu mempunyai delapan lantai, dimana setiap lantai memiliki berbagai macam koleksi buku, mulai dari buku-buku lama hingga buku baru. Dan di sisi ruangan terdapat meja-meja yang biasanya digunakan para mahasiswa untuk membaca, mengerjakan tugas, ataupun berdiskusi. Sebelumnya di lobi lantai dasar rei dan adit mengisi daftar pengunjung terlebih dulu, kemudian naik menuju lantai yang mereka tuju dengan menggunakan lift.


Rei berjalan menuju salah satu lorong yang di kedua sisinya menjulang rak-rak tinggi berisi buku-buku yang tersusun rapih.


“Gue liat di sebelah sana rei” sahut adit pada rei saat ia berjalan ke lorong yang tidak begitu jauh dari rei berdiri.


“Oke” jawab rei mengganggukkan kepalanya.


Kemudian ia terus berjalan pelan menyisiri rak demi rak mencari buku yang diinginkan. Beberapa kali ia berhenti untuk menarik sebuah buku dan membaca sekilas bagian dalamnya. Namun merasa belum cocok sehingga ia pun mengembalikan buku tersebut ke tempatnya semula. Rei kembali menyisiri rak hingga dia berhenti di depan sebuah buku, membaca judulnya dan menarik buku tersebut. Seketika rei terkejut melihat ada sosok yang selalu membayangi pikirannya sejak kemarin, di lorong seberang, dari celah tempat buku yang dia ambil barusan. Rei mengucek matanya dengan sebelah tangan, mengira dia sedang berhalusinasi karena sejak kemarin ia selalu memikirkan gadis itu. Namun ana masih berdiri disana tanpa sadar, rei sedang menatapnya tidak percaya seakan gadis itu adalah hantu. Lalu dengan cepat rei berjalan ke sisi rak di lorong sebelah tempat gadis itu berada. Dilihatnya ana sedang berdiri fokus membaca sebuah buku, masih di tempat yang sama. Rei menghampiri gadis itu dan berhenti tepat di sebelahnya, dengan nafas yang mulai memburu.


Ana menoleh dan mendongakkan kepalanya melihat seorang pria sedang berdiri di sebelahnya dengan sorot mata yang tajam.


Ana mengernyitkan dahinya ‘siapa cowo ini’ pikirnya dalam hati, lalu berpikir sejenak mengingat-ingat sepertinya pernah melihat laki-laki itu di suatu tempat. ‘Ah.. dia cowo yang nabrak aku kemarin’ lanjutnya dalam hati. ‘Mau apa dia ngeliatin aku kayak gitu?’ pikirnya heran.


“Lo siapa?” tanya rei dengan nada yang agak keras dan raut wajah yang tidak menyenangkan.


Ana memutar badannya setengah, sehingga dirinya sekarang berdiri berhadapan dengan laki-laki jangkung itu.

__ADS_1


Ana mengangkat telunjuknya ke arah wajahnya “gue?” tanyanya balik. “Nama gue kirana” lanjutnya kemudian, masih dengan mengernyitkan dahinya.


“Gue tau” ucap rei dengan nada yang menurut ana terdengar sangat menyebalkan.


Ana semakin mengernyitkan dahinya mendengar apa yang baru saja rei ucapkan. Alih-alih berpikir dari mana rei bisa tau namanya, ia malah heran setengah mati kenapa cowo ini masih bertanya siapa dirinya padahal sudah tau namanya.


“Terus?” kata ana sambil menaikkan alisnya.


Rei sesaat terdiam, hingga akhirnya dia sadar bahwa dirinya telah terlihat begitu bodoh di depan gadis cantik yang sedang menatapnya dengan penuh keheranan.


“Shit!” ucap rei tanpa sadar sambil mengusak rambutnya.


“Lo bilang apa barusan?” tanya ana dengan nada yang mulai emosi.


“Hah.. bilang?” rei yang tidak mengerti maksud ana malah bertanya balik dengan wajah polosnya.


“Tadi gue denger ya, lo ngomong kasar!” sahut ana yang sudah tidak bisa lagi bersikap ramah.

__ADS_1


“Engga kok” jawab rei yang bingung dengan sikap ana yang tiba-tiba marah.


“Terserah! selain ga sopan ternyata lo juga ngeselin ya?” kata ana yang teringat akan pertemuan pertamanya dengan rei saat di lorong kampus kemarin. Lalu ia langsung membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan rei.


“Hei.. maksud lo apa!” teriak rei yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


Tapi ana terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan rei. Rei hendak memanggil ana lagi, tapi tatapan orang-orang yang merasa terganggu dengan teriakan rei barusan, membuatnya mengurungkan niatnya.


“Rei.. lo udah dapet belum bukunya” tiba-tiba adit datang, tangannya sudah memegang beberapa buah buku.


“Belum..” jawab rei, melihat buku di tanggannya sendiri yang baru ia baca judulnya saja tadi.


“Yaudah, gue tunggu lo di meja sana ya” sahut adit sambil menunjukkan jarinya ke arah meja kosong di dekat jendela, dan berjalan menjauhi rei.


“Hmm..” rei menganggukkan kepalanya, dirinya masih memikirkan kejadian tadi.


“Kenapa galak banget sih tu cewe” gerutunya, lalu menghembuskan nafasnya dengan sedikit kesal.

__ADS_1


Kemudian rei pun segera melanjutkan mencari bukunya dengan cepat, karena tidak ingin membuat adit menunggu lama.


__ADS_2