light of love

light of love
Pertengkaran


__ADS_3

Di tempat yang sama, ana, lisa, dan adel duduk di bangku taman seperti tadi siang. Bedanya sekarang hari sudah hampir gelap, dan mereka sedang menunggu seorang laki-laki yang entah ada tujuan apa menyuruh ana menunggunya disini.


“Ngapain kalian disini? Gue cuma perlu kirana” kata rei saat ia menghampiri tiga gadis itu.


“Ya kita nungguin ana lah, kita bertiga selalu bareng kalau di kampus” sahut adel.


Rei mendecih.. lalu menatap ana dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak.


“Lo ikut gue” ujar rei.


Lalu tiba-tiba rei menarik tangan ana dan berjalan keluar dari area taman. Ana yang sangat terkejut berusaha melepaskan tangannya dari genggaman rei. Namun usahanya sia-sia, cengkramannya begitu kuat sampai ana merasakan sakit di pergelangan tangannya.


“Lepassin” berontak ana.


Rei tetap tidak melepaskan genggamannya dan terus berjalan membawa ana yang terus meronta. Adel dan lisa mengikuti dari belakang, berjalan cepat mengimbangi langkah kaki rei yang panjang.


“Kak rei!” panggil lisa dengan nafas yang mulai terengah. “Mau bawa ana kemana!”.


“Mau bawa dia keluar dari kampus, kalian bilang selalu bareng kalau di kampus, berarti gue harus bawa dia keluar dari sini supaya kalian ga sama-sama lagi” ucap rei cuek.


“Hah? Memangnya kakak mau ngapain ana, kita ikut” kata adel yang juga sudah ngos-ngosan.


Rei tidak menjawab, langkahnya semakin cepat sehingga membuat ana kesulitan mengimbanginya. Adel dan lisa terus mengikuti sambil sesekali berlari kecil agar tidak tertinggal. Orang-orang yang melihat mereka, memandang dengan penuh keheranan. Apalagi para mahasiswi yang pada umumnya mengenal rei, cowo paling tampan dan penuh pesona di kampus itu. Mereka berbisik-bisik melihat kejadian aneh itu.


“Si rei ngapain sama cewe-cewe itu?”.


“Itu siapa yang ditarik rei? Cantik banget, jangan bilang pacar barunya rei”.


“Ya Tuhan, rei ganteng banget.. tapi cewe itu siapa ya?”.


“Dia bukannya anak tahun satu ya, ngapain sama si rei?”.


Begitu banyak pertanyaan dan spekulasi dari apa yang baru saja mereka lihat.


Akhirnya rei dan ana tiba di parkiran, di samping sebuah mobil mewah yang ana lihat kemarin di depan kosnya. Rei membuka pintu mobil untuk ana.


“Masuk” perintah rei.


Ana yang masih mengatur nafasnya karena terengah-engah akibat berjalan cepat tadi, melepaskan genggaman tangan rei yang sudah mengendur. Ana mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sakit.


“Kamu mau bawa aku kemana?” tanya ana sambil melotot ke arah rei.


“Nanti juga lo tau, cepet masuk” jawab rei.

__ADS_1


Kemudian lisa dan adel datang, mereka agak tertinggal karena terhambat oleh keramaian orang yang berlalu lalang di koridor tadi.


“Kak rei mau bawa ana kemana?” tanya lisa ngos-ngosan.


“Kakak jangan macem-macem sama ana ya, nanti kita laporin ke polisi atas tindakan penculikan” ancam adel.


Rei tertawa geli mendengarnya.


“Laporin aja, gue ga takut” ucapnya santai. “Lagian gue ga nyulik ana, gue cuma mau ngajak dia ke suatu tempat”.


“Kemana?” tanya adel.


“Kalian ga perlu tau, dan gue ga mau kasih tau kalian” jawab rei tegas.


Lalu rei kembali menatap ana, mengedikkan kepalanya menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobil.


Ana menghembuskan nafasnya kasar.


“Lis, del, gue pergi dulu.. kalian ga usah ikutin kita” ujar ana.


“Tapi na..” lisa masih tidak yakin membiarkan ana pergi bersama rei.


“Jangan khawatir, gue akan baik-baik aja” kata ana meyakinkan kedua sahabatnya yang terlihat cemas.


Rei melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama beberapa saat hanya suara deru halus mobil yang terdengar, mereka saling diam memandang lurus ke depan arah jalan raya. Lalu rei menoleh ke arah ana di sampingnya, dilihatnya ana sedang mengusap-usap pergelangan tangan yang ditariknya tadi.


“Sakit? Sori ya” ucap rei merasa bersalah.


Ana hanya mendengus mendengar permintaan maaf laki-laki itu. Dan suasana kembali hening.


“Kita mau kemana?” tanya ana memecah kesunyian.


Rei menoleh, dilihatnya ana juga sedang menatapnya dengan sorot mata teduh, seperti saat mereka pertama kali bertemu. Seketika rei merasakan jantungnya berdetak cepat.


“Lo maunya kemana?” rei bertanya balik, menyembunyikan kegugupannya yang sesaat muncul tanpa ijinnya itu.


“Aku mau pulang” jawab ana datar, mengalihkan wajahnya ke depan arah jalan raya lagi.


“Segitunya lo ga mau jalan sama gue?” tanya rei, ada nada sedih di dalamnya.


“Aku serius, aku mau pulang malam ini ke rumah orang tua aku” jawab ana kesal. Dia tidak mau rencananya gagal hanya karena sesuatu yang tidak penting bersama lelaki ini.


Rei sedikit terkejut mendengar apa yang ana ucapkan barusan.

__ADS_1


“Kalau gitu gue anterin lo pulang” ujar rei.


Ana terkejut dan menoleh ke arah rei dengan melebarkan kedua bola matanya. Rei hanya menatap ana sekilas kemudian kembali fokus menyetir menatap jalan di depannya.


“Maksud kakak apa sih? Tadi katanya mau ngajak aku ke suatu tempat?” tanya ana bingung bercampur emosi. Bingung karena tidak tau apa sebenarnya maunya laki-laki ini, dan emosi karena merasa telah buang-buang waktu menunggunya untuk tujuan yang tidak jelas.


“Gue cuma mau jalan sama lo, ngabisin waktu sama lo” jawab rei jujur.


Ana terhenyak mendengarnya, dilihatnya wajah rei yang tidak tampak ada kebohongongan ataupun gurauan.


“Kenapa?” tanya ana yang lagi-lagi dibuat bingung oleh tingkah laki-laki ini.


“Kenapa apanya?” rei balik bertanya.


“Ya kenapa kak rei mau ngabisin waktu sama aku!” kata ana gemas.


“Gue juga ga tau” jawab rei, berhenti sejenak untuk mencari kata-kata yang bisa dimengerti oleh gadis yang sedang menatapnya dengan penuh keheranan itu. “Sejak pertama kali ngeliat lo, gue ga bisa berhenti mikirin lo. Gue ga bisa tidur gara-gara kebayang wajah lo terus. Dan untuk itu lo harus tanggung jawab”.


Ana benar-benar dibuat terkejut oleh kata-kata rei. Bisa-bisanya laki-laki ini berkata seperti itu setelah apa yang dilakukannya di kampus tadi? Dan apa tadi dia bilang? Bertanggung jawab?.


“Kenapa aku harus tanggung jawab?” tanya ana sengit.


“Karena lo selalu muncul di depan mata gue, dan di dalam otak gue!” jawab rei tidak kalah sengit.


Mata ana terbelalak tidak percaya mendengar alasan yang tidak masuk akal itu.


“Memangnya aku mau muncul di depan kakak? Terus apa salah aku kalau otak kakak yang ga beres itu selalu mikirin aku?” semprot ana.


“Apa lo bilang, otak gue ga beres?” tanya rei tersinggung.


“Iya, otak kakak ga beres, sejak pertama kali ketemu sampai sekarang, sikap kakak ga ada yang beres. Ah.. kecuali pas balikin hp aku, itu aja yang bener, itu juga ga ikhlas balikinnya pake minta imbalan segala” jawab ana panjang lebar, tidak peduli kalau seniornya itu akan tersinggung.


Rei tercengang, dia sampai tidak bisa berkata-kata untuk membalas caci maki ana.


Lalu dengan sangat tiba-tiba rei menepikan mobilnya, memasuki area tempat parkir sebuah restoran mahal.


“Ngapain kesini?” tanya ana yang sedang meredakan emosinya.


“Ya makanlah, emang lo pikir ke restoran mau ngapain?” jawab rei ketus, lalu membuka pintu mobil.


“Cepetan, gue laper” ujarnya lagi sebelum menutup pintu karena melihat ana masih bengong di kursinya.


Kesabaran ana benar-benar diuji oleh lelaki ini.

__ADS_1


‘Sabar.. sebentar lagi ujian kehidupan selesai, aku cukup nemenin dia makan kan’ kata ana dalam hati saat dirinya keluar dari mobil dan berjalan mengikuti rei.


__ADS_2