
Carrissa yang hendak kembali ke kamarnya dicegat oleh rei saat melewati kamar kakaknya itu.
“Gimana ceritanya ana bisa ada disini tadi?” tanya rei menatap adiknya tajam.
“Kakak ga denger ya tadi aku ngomong apa? Mulai hari ini kak ana itu guru privat aku” jawab carrissa santai, sedikit bingung dengan sikap kakaknya yang tidak biasa.
“Kenapa bisa dia yang jadi guru privat lo?” rei merasa jawaban carrissa belum cukup menjelaskan situasi yang tidak terduga ini.
“Mana aku tau kak, kalau soal itu tanya mama aja sana, mama yang cariin orang buat ngajar les aku” jawab carrissa lagi.
“Memang kenapa sih kak? Kakak kenal sama kak ana? Kalau kenal tadi waktu ketemu kenapa diem-dieman?” tanya carrissa penasaran.
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari adiknya membuat rei jadi sakit kepala. Ia menghembuskan napasnya kasar dan mengusak rambutnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Bagaimana ia tidak pusing, sudah sebulan ini rei berusaha mati-matian untuk melupakan ana. Ia merasa ana sudah sangat membencinya dan tidak mau melihatnya lagi karena insiden di ruang peralatan. Sehingga rei mau tidak mau merelakan gadis itu dan menjauhinya. Tapi apa yang terjadi sekarang, ana tiba-tiba menjadi guru les adiknya, yang kemungkinan besar akan membuat mereka sering bertemu di rumahnya. Bagaimana ia bisa mengendalikan hatinya nanti saat berada dekat dengan gadis itu lagi.
Tanpa menjawab pertanyan carrissa, rei masuk ke dalam kamarnya dengan menutup pintu cukup keras, membuat adiknya itu terlonjak kaget.
“Kayaknya ada yang aneh antara mereka berdua” ujar carrissa sembari memegang dagunya.
***
Keesokan harinya ana, lisa, dan adel sedang duduk di pinggiran koridor kampus, sembari menghabiskan waktu jam kosongnya sebelum kelas berikutnya dimulai. Mereka tengah asik dengan ponselnya masing-masing. Namun ada yang berbeda dengan ana. Sejak tadi ia terlihat tidak tenang dan beberapa kali menghembuskan napasnya dengan cukup keras. Hal itu tidak luput dari perhatian kedua temannya.
“Ada apa na? Lagi ada masalah?” tanya lisa yang duduk di sebelah ana.
“Hem?” ana tampak berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi semalam pada dua sahabatnya itu.
“Kemarin gue ngajar les anak baru” ana mulai bercerita, lisa dan adel tampak sudah fokus mendengarkan.
“Dan ternyata anak itu adalah adiknya rei” lanjut ana memandang lisa dan adel untuk melihat ekspresi mereka.
Dan benar seperti yang ana duga, kedua temannya itu sangat terkejut akan apa yang baru saja ia katakan. Lisa dan adel melebarkan kedua matanya menatap ana.
“Serius na?” ucap adel.
“Kok bisa na?” tanya lisa.
__ADS_1
“Gue juga kaget banget, dan kayaknya kak rei juga ga tau akan hal ini, kemarin dia sama kagetnya kayak gue pas kita ketemu” ujar ana.
“Dari sekian banyak orang kenapa ketemunya harus dia lagi ya, bener kata orang dunia memang sempit” lisa berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kayaknya bener apa yang gue bilang dulu na, lo sama kak rei itu jodoh. Buktinya sekarang lo ketemu dia lagi, dengan cara yang ga pernah lo sangka kan” seru adel dengan nada penuh keyakinan.
“Gue bingung harus bersikap gimana nanti kalau ketemu dia lagi. Dan gue ga mungkin ngebatalin jadi guru privat adiknya, kesannya gue ga profesional banget di mata orang tuanya carrissa” ana kembali menghela napasnya.
Sejak semalam pikirannya terganggu oleh pertemuannya dengan rei di rumah laki-laki itu. Dirinya yang sudah mulai melupakan sosok rei, tiba-tiba harus mengingat lagi semua kenangan yang sudah terjadi bersama laki-laki itu. Ana takut perasaan aneh yang tidak bisa ia artikan dulu muncul lagi ketika melihat rei.
“Ya lo bersikap biasa aja na, lo ga usah takut, kan lo ga punya salah apa-apa sama dia” ujar lisa.
“Iya na, kalau perlu lo cuekin aja dia, pura-pura ga liat” kata adel, asal berucap.
Namun kata-kata adel barusan tidak ada salahnya dicoba, pikir ana. Dia hanya perlu bersikap cuek seakan-akan tidak mengenal rei.
“Kalian bener, gue ga seharusnya takut sama dia. Makasih ya, gue jadi lumayan tenang setelah cerita sama kalian” ujar ana tersenyum pada dua sahabatnya.
“Ini gunanya teman kan” kata lisa dan adel bersamaan, membuat ketiganya tertawa.
***
Berbeda dengan rei, setelah pertemuannya dengan ana malam itu, ia kembali uring-uringan. Hari-harinya kembali dibayang-bayangi oleh sosok gadis itu. Padahal sebelum pertemuannya dengan ana malam itu, rei sudah berhasil menghilangkan sedikit bayangan ana dari benaknya. Tapi hanya dengan sekali melihat wajah ana lagi, membuat perasaannya kembali tidak karuan.
Rei pernah bertanya soal ana pada mamanya saat makan malam bersama keluarganya.
“Ma.. kenapa ana bisa jadi guru privatnya carrissa” tanya rei.
Danita mendongak, agak terkejut dengan pertanyaan rei yang tiba-tiba itu.
“O iya, dia satu kampus sama kamu ya. Kamu kenal sama dia?” danita bertanya balik.
Rei hanya menganggukkan kepalanya.
“Temannya mama yang kasih tau soal ana. Mama bilang ke dia lagi cari guru privat buat carrissa, terus dia merekomendasikan ana yang juga guru privat anaknya. Teman mama itu kenal ana juga dari dosen kampus kamu yang rekomendasikan dia. Jadi ya mama langsung percaya kalau ana itu cocok buat jadi guru les carrissa” tutur danita menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Carrissa yang mendengarkan, hanya diam memperhatikan rei yang duduk di sebelahnya. Gadis itu tampak berpikir sesuatu.
Selesai makan malam, rei langsung beranjak untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Sebenarnya ada apa antara kakak sama kak ana?” tanya carrissa yang berjalan di belakang rei, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya.
“Bukan urusan lo” jawab rei cuek, dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya.
“Aku tuh penasaran, kenapa kak rei tiba-tiba berubah sejak ketemu kak ana beberapa hari yang lalu. Sama kayak dulu, waktu kak rei bilang suka sama pacar orang” ujar carrissa.
Rei terkejut karena ternyata adiknya ini cepat sekali menangkap apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tidak menghentikan langkahnya menuju kamarnya yang tinggal beberapa langkah lagi.
“Tadinya aku pikir kak ana itu adalah cewe yang pernah bikin kak rei uring-uringan dulu, tapi ternyata dugaan aku salah, karna kak ana belum punya pacar” ucap carrissa.
Rei yang sudah berdiri di depan kamarnya dan hendak membuka pintu, mendadak terpaku. Ia tersentak dengan apa yang baru saja carrissa ucapkan. Rei membalikkan badannya dan menatap adiknya tajam.
“Lo bilang apa barusan? Tau dari mana lo?” tanya rei mengernyitkan dahinya.
“Tau yang mana maksud kakak?” carrissa bertanya balik.
“Tau dari mana ana ga punya pacar?” tanya rei lagi, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
“Ya aku tanya langsung dong sama kak ana” jawab carrissa. Ia memang sempat bertanya hal itu saat chatting dengan ana, ketika dirinya menanyakan soal PR yang tidak dimengerti.
Rei terhenyak, ia tidak percaya dengan apa yang carrissa katakan.
‘Ga mungkin kan gue salah, ana kelihatan akrab banget sama cowo itu. Waktu di cafe, di auditorium juga. Pasti itu pacarnya kan. Cowo itu ngelihatin ana udah kayak mau makan dia aja, brengsek!. Apa ana udah putus sama cowonya makanya dia bilang ke carrissa ga punya pacar?’ batin rei dalam hati, pikirannya campur aduk sekarang.
“Kak” panggil carrissa karena melihat rei masih diam mematung di depannya, tidak tau apa yang sedang dipikirkan kakaknya itu.
Rei yang mendengar carrissa, tersadar dari lamunannya.
“Lo bohongin gue kan, gue tau lo mau ngerjain gue” sahut rei. Ia lalu membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya, meninggalkan carrissa yang masih berdiri di depan kamar rei dengan wajah keheranan.
“Dasar aneh” ucap carrissa sambil menggelengkan kepalanya, lalu beranjak menuju kamarnya sendiri.
__ADS_1
Di dalam kamar, rei yang masih memikirkan kata-kata carrissa, duduk di tepi ranjangnya. Ia tidak sepenuhnya tidak mempercayai ucapan adiknya tersebut. Bagaimanapun, rei akan mencari tau sendiri tentang hal ini.