light of love

light of love
Ajakan Gilang


__ADS_3

Hari-hari berikutnya rei jadi semakin sering muncul di hadapan ana, terutama saat di kampus. Ana jadi mulai terbiasa dan tidak kaget lagi ketika tiba-tiba rei muncul entah dari mana, dan bersikap sok akrab pada dirinya. Begitu juga dengan lisa dan adel, ana sudah menceritakan kepada mereka tentang membaiknya hubungan antara dirinya dengan rei sejak beberapa hari terakhir ini. Hampir setiap hari rei tidak pernah absen untuk melihat ana, entah itu hanya sekedar mengucapkan selamat pagi, selamat kuliah, atau sampai membuntuti ana seperti sekarang ini. Rei, adit, ana, lisa, dan adel sedang duduk bersama menikmati makan siang di kantin.


“Jus apa yang kalo diminum makin tambah banyak?” tanya adel setelah meminum jus buahnya yang tinggal sedikit.


“Mang ada ya del? Jus apa tuh gue juga mau” ujar adit menimpali. Ia sekarang sudah mengenal ana, lisa, dan adel karena sering bertemu mereka bersama rei.


“Justru itu aku ga tau” jawab adel dengan wajah yang dibuat polos.


Mereka semua yang mendengar hening sesaat seperti sedang berpikir, lalu detik berikutnya langsung sadar dengan tebak-tebakan receh adel, mereka pun tertawa dan menyoraki gadis itu.


“Buah buah apa yang ditakutin mahasiswa” sekarang giliran lisa yang melontarkan tebakan.


“Ga ada buah yang gue takutin” ujar ana, malas berpikir.


Yang lain juga menyerah tidak ada yang bisa menjawab.


“Belimbingan skripsi sama dosen killer” ujar lisa sambil tertawa cengengesan.


“Anjir bener banget lo, amit-amit. Semoga gue dapet dospem yang asik kalo skripsi nanti” kata adit dengan wajah ngeri membayangkan ucapan lisa.


“Dikocok tegang, pas keluar senang, apa coba?” adit yang tidak mau kalah, ikut mengeluarkan tebakannya.


“Ih.. kak adit jorok yaa!” sahut adel menatap adit dengan tidak suka.


Namun adit hanya nyengir dan mengedarkan pandangannya menunggu jawaban dari yang lain, setelah tidak ada yang bisa menjawab “Ibu-ibu arisan.. ngeres aja otak lo!” adit tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi adel yang malu karena telah salah berpikir yang tidak-tidak.


Adel hendak memukul bahu adit yang duduk di depannya, namun tidak berhasil karena dengan cepat adit menghindar.

__ADS_1


“Orang apa yang kalau dipukul gak sakit?” ujar adit lagi “orang gak kena, yeeeee” lanjutnya masih terus menertawakan adel, membuat yang lainnya jadi ikut tertawa, adel hanya memasang wajah cemberutnya.


Tiba-tiba ada yang menghampiri meja mereka.


“Hai.. boleh gabung?” ujar gilang berdiri di samping meja, ada nesya juga bersamanya.


“Boleh dong kak” sahut lisa. Sedangkan ana mengangguk tersenyum pada gilang dan nesya.


“Itu si gilang, yang pernah nembak ana, tapi ditolak” bisik adit pada rei. Kebetulan adit mengetahui berita yang cukup menghebohkan satu kampus itu.


Rei sedikit kaget dengan informasi itu, lalu memandang gilang dengan sorot tidak suka.


‘Cih.. tampang culun kayak gitu berani-beraninya nembak ana, yang pantes buat ana itu cuma gue’ kata rei dalam hati.


Kemudian gilang duduk di sebelah ana, membuat rei makin tidak senang.


Rei nampak enggan menggeser tubuhnya yang duduk tepat di depan ana, sampai akhirnya adit menarik lengan rei, barulah akhirnya rei bergeser dengan terpaksa.


“Gimana novel yang aku kasih kemarin, bagus ga?” tanya gilang, menatap ana dengan senyum lembutnya.


“Bagus kak, aku udah selesai bacanya, makasih ya kak” jawab ana tersenyum. Walaupun ia sudah menolak perasaan gilang, ana tetap harus bersikap sopan pada seniornya itu. Gilang adalah laki-laki yang baik.


“Bagus kalau kamu suka, nanti aku cariin lagi, aku tau banyak novel yang bagus” ujar gilang.


“Eh.. ga usah kak” kata ana merasa tidak enak.


“Ga apa apa na, aku tau kamu suka baca. Kamu boleh nolak perasaan aku, tapi jangan nolak pemberian aku juga ya” ucap gilang frontal.

__ADS_1


Semua yang ada di meja itu melihat pemandangan di depan mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda. Lisa dan adel menahan tawa melihat sahabatnya sedang dirayu oleh laki-laki yang sudah ditolaknya. Nesya yang konsisten dengan wajah datarnya. Adit yang sedikit kagum dengan keberanian gilang, kemudian menoleh untuk melihat rei. Temannya itu terlihat sangat gusar, matanya memandang tajam ke arah gilang dan ana, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal memegang sendok dan garpunya dengan sangat erat.


“Oya, minggu depan aku ngadain acara nginap sama teman-teman di villa keluarga aku. Kamu ikut ya? Sama lisa dan adel juga” ucap gilang.


Ana yang terkejut dengan undangan mendadak dari gilang, hanya diam menatap pria itu, bingung harus menjawab apa.


“Asiiik.. mau mau kak. Ana, lisa, kita ikut ya” seru adel kegirangan.


“Tapi aku..” ana ragu, ia merasa gilang masih berusaha untuk mendekatinya, dan ia tidak mau memberikan harapan pada laki-laki itu.


“Nesya juga ikut kok, tenang aja kita di sana acara seru-seruan aja kok” kata gilang meyakinkan ana.


“Iya na ikut aja, kita kan belum pernah nginap bareng di villa, hitung-hitung refreshing biar ga stress kuliah” ujar lisa.


Ana tampak berpikir sebentar “yaudah aku, lisa, adel ikut kak” ucap ana akhirnya menerima tawaran gilang.


Gilang terlihat sangat senang mendengarnya.


Lalu tiba-tiba suara seseorang mengagetkan semuanya.


“Gue juga ikut” rei berkata sambil memandangi gilang dan ana dengan tatapan tidak terbaca.


Semuanya bengong menatap rei.


“Gue sama adit boleh ikut kan, kita juga mau nginep di villa” ujar rei lagi.


Adit yang juga kaget hanya memandangi temannya itu, pasti karena ana, pikirnya.

__ADS_1


“Ehm.. ya boleh, makin rame makin seru” ucap gilang, meskipun ia heran mengapa rei yang tidak dia ajak tiba-tiba mau ikut. Mereka bahkan tidak saling mengenal. Namun ia dengan cepat mengesampingkan kebingungannya karena merasa sangat senang bisa liburan bersama ana.


__ADS_2