
Malam harinya di rumah kediaman Adhitama, ana seperti biasa akan mengajar carrissa setiap dua kali seminggu. Tidak terasa sudah satu bulan ana menjadi guru privat anak itu. Ana bertemu dengan danita dan sebastian di ruang keluarga, berbasa-basi sebentar lalu bergegas menuju kamar carrissa di lantai dua. Ketika berjalan di lorong, tiba-tiba pintu di sebelah depannya terbuka. Rei keluar dari kamarnya dan melihat ana.
Ana menghentikan langkahnya, ia jadi teringat kejadian tadi pagi saat rei mengaku sebagai pacarnya dan mengatakan menyukainya. Ana hendak meminta penjelasan, namun baru saja ana membuka mulutnya untuk bicara, rei sudah menarik tangan ana dan masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintunya.
“Kak rei mau apa?” tanya ana curiga dan sedikit takut. Ia teringat akan kejadian di ruang perlengkapan dulu.
Rei terdiam selama beberapa saat, memandangi ana dengan sangat dalam. Sorot mata yang selalu membuat jantung ana berdebar hebat, seperti saat ini.
“Aku ga tau apa kamu udah sadar akan hal ini atau belum, tapi seperti yang aku bilang tadi pagi” rei berhenti sejenak “aku suka sama kamu ana, aku ingin kita ga hanya sekedar sebagai teman, tapi lebih dari itu” rei berkata dengan lugas, keseriusan nampak di wajahnya.
“A aku” ana terbata, terkejut dengan pernyataan rei yang sangat tiba-tiba. Ia bingung harus menjawab apa.
“Aku ga maksa kamu untuk jadi pacar aku sekarang” ujar rei yang melihat wajah bingung ana. “Kamu pikirin dulu, tentang perasaan kamu. Tapi yang perlu kamu tau, aku serius sama kamu. Ga tau kenapa ketika aku bersama kamu aku merasa menemukan kedamaian dalam hati aku. Ada perasaan dimana aku ingin selalu dekat sama kamu. Aku ga bisa bohongin hati aku sendiri kalau aku mengagumi kamu, aku harap kamu ngerti tentang perasaan aku na”.
Ana tertegun, Ini bukan yang pertama baginya mendapat pernyataan cinta dari seorang pria, tapi entah mengapa kali ini rasanya berbeda. Hatinya berdesir mendengar perkataan rei, jantungnya berdetak sangat kencang.
“Cewe yang tadi pagi itu siapa?” ana melontarkan pertanyaan yang seharian ini mengganjal di hatinya.
__ADS_1
“Dia friska mantan aku. Kita udah lama putus, tapi dia minta balikan dan ngejar-ngejar aku terus walaupun aku udah nolak dia” jawab rei. “Maaf kalau tadi dia udah ngomong kasar sama kamu. Tapi setelah apa yang aku omongin ke dia tadi, aku yakin dia ga akan ganggu kamu atau aku lagi”.
“Gimana kalau suatu saat aku yang ada di posisi dia? kamu juga akan memperlakukan aku sama seperti itu? Ninggalin aku buat cewe lain?” tanya ana.
Rei tersentak, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ana.
“Hal itu ga mungkin terjadi ana, perasaan aku ke kamu beda sama yang lain. Aku ga akan ninggalin kamu ataupun nyakitin kamu. Aku janji akan berusaha untuk jadi yang terbaik bagi kamu dan akan selalu membuat kamu tersenyum bahagia ana” wajah rei nampak sangat bersungguh-sungguh.
Hening sesaat. Pikiran ana berlarian kemana-mana, mengingat kembali semua yang telah ia alami bersama rei. Tidak bisa dipungkiri, selama ini rei telah berhasil mendapatkan tempat di hatinya. Sebenarnya di sudut hatinya yang terdalam ia juga telah menyadari kalau dirinya menyukai rei. Namun ia masih ragu jika harus menjalin hubungan yang serius dengan rei, mengingat track recordnya sebagai laki-laki yang sering berganti pacar. Ana terlalu takut dikecewakan.
“Tunggu sebentar” ujar rei, lalu berjalan ke meja dan mengambil sesuatu di lacinya.
“Ini apa?” tanya ana, mengambil kotak tersebut dan membukanya.
Betapa terkejutnya ana ternyata isinya adalah sebuah kalung dengan liontin hati permata yang sangat indah.
“Ini apa?” tanya ana sekali lagi.
__ADS_1
“Ini kalung” jawab rei.
“Iya aku tau ini kalung, tapi buat apa kakak kasih ini ke aku? Aku ga bisa nerima ini” ana mengernyitkan dahinya menatap rei.
“Aku mohon jangan nolak, ini nilainya ga seberapa dibanding jawaban yang akan kamu kasih nanti. Kalau kamu terima aku, kamu pakai kalung itu. Tapi kalau kamu balikin artinya aku belum bisa dapetin hati kamu” ujar rei menatap ana dengan penuh harap.
Ana menghela napasnya. Perasaan bimbang merasuki hatinya.
“Aku.. akan pikirin hal ini kak” kata ana, tidak bisa memutuskan pergulatan dalam hatinya saat ini.
“Makasih ana” ucap rei tersenyum.
Kemudian ana keluar dari kamar rei, dengan pikiran yang masih campur aduk. Saat membuka pintu, dirinya dikejutkan oleh carrissa yang berdiri tidak jauh darinya.
“Ca carrissa.. maaf kamu nyariin kakak ya” ucap ana terbata, merasa salah tingkah karena dirinya baru saja keluar dari kamar rei.
“Ga apa apa kak, aku baru aja keluar kamar kok” ujar carrissa, melihat ana dengan sorot mata tidak terbaca. Ia melirik kotak yang dipegang ana, carrissa cukup tau apa isi di dalamnya.
__ADS_1
‘Gerak cepat juga ternyata kak rei’ kata carrissa dalam hati.