light of love

light of love
Terjatuh


__ADS_3

Keesokan harinya pada siang yang cerah, ana berjalan seorang diri tanpa kedua sahabatnya, kebetulan hari ini jadwal kelasnya berbeda dengan lisa dan adel. Ana hendak menuju gedung fakultas untuk mengurus administrasi beasiswanya. Saat sudah tiba di depan gedung tersebut, langkah ana terhenti oleh suara seseorang yang memanggilnya.


“Kenapa lagi sih dia?” gerutu ana ketika menolehkan kepalanya dan melihat rei berjalan menghampirinya.


Sudah beberapa kali dalam sehari ini ana melihat rei mengikutinya. Contohnya tadi pagi ketika ana dan kedua temannya akan masuk kelas, rei setengah berlari ke arahnya. Namun langkahnya terhenti di depan kelas karena melihat sudah ada dosen yang memulai kuliahnya. Lalu ada lagi ketika ana baru saja keluar dari kelasnya, rei berjalan mendekatinya, tapi terpisah karena ana memasuki toilet wanita. Dan sekarang lagi-lagi rei muncul di depannya, ana tidak tau ada maksud dan tujuan apa laki-laki ini ingin bertemu dengannya. Apa ada hubungannya dengan dirinya yang sekarang menjadi guru les adiknya, ana jadi menebak-nebak sendiri.


“Ana, bisa minta waktu lo sebentar?” ujar rei saat sudah berdiri di hadapan ana.


“Ada perlu apa, aku lagi buru-buru” ana menatap rei sekilas, lalu langsung mengalihkan pandangannya ke arah dalam gedung. Ia tidak mau memandang rei terlalu lama, takut jantungnya berulah lagi.


“Lo masih marah sama gue?” tanya rei yang melihat ana tidak mau menatapnya.


“Marah kenapa? Memangnya kamu udah bikin salah apa? Aku ga inget apa-apa” jawab ana. Ia mengikuti saran adel untuk bersikap cuek dan berpura-pura tidak kenal.


Rei terdiam selama beberapa saat karena sikap ana yang acuh, dia masih marah, pikir rei.


“Ada yang mau gue tanyain sama lo” ujar rei.


“Tanya apa, bisa cepet ga, aku lagi ada urusan” ucap ana tidak sabar ingin segera pergi dari hadapan laki-laki ini.


“Siapa cowo yang bersama lo waktu di cafe, dan di auditorium sehari sebelum gue sama lo..” rei menggantung kalimatnya karena melihat ana sudah melotot ke arahnya.


“Sebenarnya kamu mau tanya apa sih? kalau ga penting aku pergi” ana berbalik hendak pergi, namun rei menahannya dengan memegang lengan ana, membuat gadis itu kembali berbalik menghadap rei.


“Apa dia pacar lo?” tanya rei masih memegangi lengan ana.


“Maksudnya apa sih, cowo yang mana aku ga ngerti” ana mulai kesal.


Lalu tiba-tiba ada yang memanggil ana dari arah dalam gedung. Ana menoleh pada orang tersebut yang adalah staff administrasi fakultas yang ana kenal.

__ADS_1


“Udah ga ada lagi hal penting yang mau diomongin kan?” ana mendongak menatap rei sembari menepis tangan laki-laki itu.


Ana bergegas masuk ke dalam gedung, meninggalkan rei yang masih berdiri dengan pertanyaannya yang belum terjawab.


Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia adalah friska, wanita itu melihat ana dan rei dengan pandangan tidak suka sekaligus penasaran.


***


Malam harinya, untuk yang kedua kalinya ana berdiri di sini. Di depan rumah megah yang luasnya berpuluh-puluh kali lipat dari rumahnya sendiri. Walapun sudah pernah menginjakkan kaki di rumah ini, ana masih saja belum terbiasa dengan suasananya.


Ana masuk dengan diantar oleh pelayan rumah sampai ruang tengah. Disana tampak carrissa dan kedua orang tuannya sedang duduk di sofa sambil menonton tv. Baguslah tidak ada rei, cukup tadi di kampus saja rei menggentayanginya, jangan sampai di sini juga ia harus menghadapinya, batin ana.


“Malam tante, om.. hai carrissa” ana menyapa semua orang yang ada di ruangan itu.


“Malam ana” balas danita dengan senyum hangatnya, begitu juga dengan carrissa. Sedangkan sebastian tersenyum ramah pada ana.


“Ana sama carrissa langsung ke atas aja tante” kata ana tersenyum, menolak dengan halus.


Jujur ana masih sedikit segan dengan papa carrissa, mungkin karena pembawaannya yang cenderung dingin dan auranya yang sangat berwibawa, sehingga membuat ana agak canggung saat berada di dekat pria itu.


Kemudian ana dan carrissa pun beranjak menuju kamar carrissa.


“Mama kagum deh pa sama ana, anaknya pintar, mandiri, sopan, cantik lagi” ujar danita pada suamimya ketika ana sudah menjauh. “Jarang ada anak jaman sekarang yang seperti ana”.


“Iya ma, papa juga berpikiran seperti itu” ucap sebastian menanggapi perkataan istrinya.


Di kamar carrissa, ana dan muridnya itu sudah siap dengan buku-buku pelajaran sekolah carrissa di atas meja belajar. Tanpa berlama-lama, ana langsung melakukan tugasnya sebagai guru privat. Ana yang sudah berpengalaman dengan nico, tidak mengalami kesulitan dalam mengajar carrissa yang kelasnya di bawah nico. Hanya saja carrissa lebih aktif dan banyak bertanya dibandingkan nico. Selama hampir dua jam, akhirnya mereka menyelesaikan pelajarannya hari ini.


“Kak ana.. kok kakak mau sih ngajar les kayak gini, memang ga capek ya kak? Kak rei aja ga mau ngajarin aku” ujar carrissa sembari meregangkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama duduk.

__ADS_1


“Kakak kan kerja carris, walaupun capek ya tetap harus dijalanin” ucap ana, tersenyum mendengar pertanyaan gadis di sebelahnya ini.


“Memang orang tua kak ana kemana, kok kakak harus kerja, kan masih kuliah?” tanya carrissa lagi dengan wajah polosnya.


Carrissa benar-benar dibuat takjub oleh gadis kecil ini, begitu polos dan blak-blakan.


‘Pantas aja dulu rei bilang selalu dibuat pusing oleh adiknya’ batin ana. ‘Tunggu, kenapa aku malah mikirin kak rei sih!’ rutuk ana yang jadi kesal sendiri.


Carrissa yang melihat wajah kesal ana jadi salah paham “maaf kak.. harusnya aku ga nanya hal pribadi kayak gitu ke kak ana” ucapnya merasa bersalah.


“Eh.. kakak ga marah sama kamu carris, cuma lagi kepikiran hal lain” ujar ana.


Ana terdiam sejenak, “ayah kakak sudah meninggal sejak kakak seumuran kamu, jadi kakak kerja buat bantu meringankan beban ibu kakak” ana menjelaskan dengan singkat pada gadis manis yang sangat mirip dengan mamanya ini.


Carrissa tertegun, “maaf kak” ia semakin merasa bersalah mendengar kata-kata ana barusan.


“Kenapa minta maaf, ga ada yang salah” ujar ana mengusap kepala carrissa, ia jadi teringat angga yang seumuran dengan gadis itu.


Selama beberapa saat mereka asik mengobrol, hingga ana tersadar hari sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Ana dan carrissa beranjak keluar kamar, di ruang tengah sudah tidak ada orang tua carrissa.


“Tunggu ya kak, aku panggilin mama dulu” ujar carrissa.


“Ga usah carris, kakak langsung pulang aja” ucap ana, namun carrissa sudah berjalan cepat menuju kamar orang tuanya.


Ana menunggu. Ia kembali mengedarkan pandangannya untuk menikmati keindahan ruangan itu. Lalu ana melihat pintu kaca ke arah kolam renang yang sedikit terbuka, ia berjalan mendekatinya dan melewati pintu kaca itu. Ana terpana melihat pemandangan di depannya, kolam renang pada malam hari ternyata memiliki daya pesona yang lebih menarik dari pada siang atau pagi hari. Aneka lampu-lampu indah serta pencahayaan sudut menimbulkan estetika malam yang sangat eksotis. Ana berdiri di pinggir kolam, memandangi keindahan tersebut sambil menikmati semilir angin malam yang membelai rambutnya.


Ketika ana hendak berbalik, dirinya dikejutkan oleh sosok yang berdiri tepat di belakangnya entah sejak kapan. Saking terkejutnya, ana melangkah mundur dan terjatuh ke dalam kolam. Ana yang panik dan kolam yang cukup dalam membuatnya hilang keseimbangan. Tangan dan kakinya bergerak ke sana kemari dengan panik, yang malah membuatnya semakin tenggelam. Dan tidak lama ada seseorang yang memeluknya, menariknya ke tepi kolam. Ana mengerjapkan matanya yang terasa perih terkena air, melihat wajah laki-laki yang masih memeluknya sambil berpegangan ke pinggir kolam.


“Lo ga apa-apa?” tanya rei dengan wajah cemas.

__ADS_1


__ADS_2