light of love

light of love
Antara Modus dan Siasat


__ADS_3

Keesokan harinya di kampus, setelah menyelesaikan salah satu jam kuliah, ana, lisa, dan adel bergegas menuju tempat yang diberitahukan oleh gilang untuk meeting panitia acara peringatan ulang tahun fakultas. Tampak disana sudah ada lumayan banyak orang yang datang, sedang duduk menunggu meeting dimulai. Ana, lisa, dan adel pun mengambil tempat untuk mereka duduk. Tak lama setelah itu, gilang dan beberapa orang yang adalah pengurus BEM masuk ke dalam ruangan. Ana sedikit terkejut ternyata di antara orang-orang itu ada nesya.


“Gue baru tau kak nesya pengurus BEM” ujar ana sambil memandang nesya yang sedang berdiri di depan ruangan bersama pengurus BEM lainnya.


“Kak nesya siapa?” tanya lisa.


“Tetangga sebelah kamar kos gue” jawab ana.


“Oh..” kata lisa. Adel yang mendengarkan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Meeting pun dimulai, gilang membukanya dengan ucapan terima kasih kepada semua orang yang datang atas kesediaannya untuk menjadi panitia acara ini. Lalu ia menjelaskan mengenai rangkaian acara yang akan berlangsung selama satu minggu. Acara tersebut terdiri dari beberapa rangkaian acara, mulai dari seminar, bazar, bakti sosial, dan berbagai macam lomba atau kompetisi. Gilang juga menjelaskan mengenai susunan panitia acara tersebut, dan mengenalkan masing-masing ketua dari setiap tim. Untuk selanjutnya ketua tersebut yang akan mengkoordinir anggotanya. Ana, lisa, dan adel masuk ke tim bazar, dengan beberapa orang lainnya yang mereka tahu dari jurusan sebelah.


Setelah sekitar satu jam berlalu akhirnya meeting selesai. Orang-orang tampak bubar meninggalkan ruangan, begitupun ana, lisa, dan adel. Saat sudah keluar ruangan, tidak jauh dari sana ana melihat nesya sedang mengobrol dengan gilang dan dua orang temannya yang lain. Ana menghampiri nesya, diikuti oleh lisa dan adel.


“Kak nesya” sahut ana saat dirinya sudah dekat dengan nesya.


Nesya, gilang, dan dua orang lainnya menoleh. Nesya dan gilang tersenyum melihat ana.


“Kak gilang” ana juga menyapa lelaki tinggi itu dengan sopan.


“Hai ana” balas gilang yang terus tersenyum melihat ana. “Adel, lisa” tambahnya saat melihat kedua gadis yang berada di sebelah ana itu.


“Hai kak” balas adel dan lisa sambil tersenyum ke arah gilang.


“Aku baru tau kalau kak nesya pengurus BEM, kok kakak ga pernah cerita” ucap ana pada nesya.


“Kamu ga pernah nanya, ya kakak ga cerita” jawab nesya sambil tertawa.


“Iya sih” kata ana yang ikut tertawa.

__ADS_1


“Makasih ya na, kamu udah mau bantu jadi panitia acara ini” kata gilang.


“Sama-sama kak, hitung-hitung buat pengalaman” jawab ana.


“Oya.. kita mau makan siang di kantin, kalian ikut yuk” ujar nesya sambil menatap ana, lisa, dan adel.


“Boleh kak, aku juga udah laper nih” sahut adel sambil mengusap perutnya.


Dan mereka pun berjalan bersama menuju kantin yang tidak begitu jauh dari tempat itu.


Setibanya di kantin, mereka memilih meja panjang kosong yang letaknya ada di tengah-tengah ruangan. Ana, lisa, dan adel, duduk bersebelahan, sedangkan gilang, nesya, dan kedua temannya duduk di kursi seberangnya dengan gilang berada tepat di depan ana.


“Kalian mau makan apa, biar sekalian aku pesanin” tanya gilang pada semuanya.


Setelah semuanya menyebutkan pesanan masing-masing, gilang bangkit dari kursinya untuk memesan makanan.


“Ketua!” tiba-tiba terdengar seruan seseorang dari arah meja di pojok kantin.


Lisa menyikut lengan ana “itu kak rei” bisiknya di sebelah ana. Ana hanya diam dan segera mengalihkan pandangannya dari rei yang terus menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam, membuat bulu kuduknya merinding. Tidak lama gilang kembali ke tempat duduknya.


“Jadi kamu sama nesya tinggal satu kos?” tanya gilang.


“Iya kak, kamar aku sebelahan sama kak nesya” jawab ana.


“Kalau pulang naik apa, kebetulan aku searah” ucap gilang yang menatap wajah ana lekat-lekat.


“Aku nebeng mobil adel kak, sama lisa juga” jawab ana lagi.


Adel dan lisa menahan senyum saat melihat gilang sedang berusaha melakukan pendekatan dengan ana.

__ADS_1


“Modus lo gilang, gue aja ga pernah lo tanya pulang naik apa walaupun lo tau searah” sahut nesya sambil mencibir ke arah gilang.


“Rese lo nes.. boleh dong gue usaha” kata gilang sambil tertawa.


“Kalau kayak gitu modusnya ga mempan buat ana kak, udah kebal dia” sahut adel mengompori.


“Terus gimana ajarin aku dong del” kata gilang bersemangat.


“Apaan sih kak gilang, adel!” sungut ana kesal karena merasa dijahili oleh senior dan temannya itu.


Mereka yang ada di meja itu pun akhirnya tertawa.


Lalu tiba-tiba ada bunyi pesan masuk ke hp ana. Ana mengambil hpnya dari dalam tas dan melihat isi pesan tersebut.


‘Ana, minggu ini kamu jadi pulang kan?’ dari ibu.


‘Jadi bu’ balas ana.


‘Oke sayang, nanti ibu masakin makanan kesukaan kamu’ balas ibunya.


‘Makasih ibuku sayang yang cantik’ ketik ana, tidak lupa menambah beberapa emoticon di pesannya, lalu mengirimnya.


Kemudian seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka, dan ana pun segera meletakkan hpnya. Selama kurang lebih tiga puluh menit mereka menikmati makan siang dengan diselingi obrolan dan canda tawa. Setelah itu mereka pun beranjak pergi dari kantin setelah sebelumnya membayar terlebih dulu di meja kasir.


Sementara itu di pojok kantin, “si nesya masih jutek aja, padahal kan kemarin kita udah menghabiskan waktu bersama dengan penuh kehangatan” kata adit lebay.


Lalu ia menoleh pada rei yang duduk di sebelahnya. Dilihatnya rei hanya diam dengan wajah muram memandang kepergian ana dan gerombolannya.


"Ngomong-ngomong lo sama kirana gimana, belum ada kemajuan?" tanya adit.

__ADS_1


"Lo liat aja nanti" jawab rei.


Lalu rei tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berjalan cepat ke arah meja tempat ana tadi makan. Diraihnya sebuah benda pipih di atas meja itu. Dan seketika sebuah seringaian terbentuk di bibirnya.


__ADS_2