
Ana sedang bersiap-siap di kamar kosnya. Malam ini adalah hari pertama dia mengajar les untuk anak yang dua hari lalu resmi menjadi muridnya. Ana sendiri belum pernah bertemu langsung dengan anak tersebut. Ia dihubungi oleh ibu dari anak itu melalui telpon. Sebelumnya tante heni yang mengatakan pada ana bahwa temannya sedang mencari guru privat untuk anaknya, dan ia menanyakan pada ana apakah gadis itu mau untuk mengajar anak temannya tersebut. Dengan pertìmbangan nico yang beberapa bulan lagi sudah masuk kuliah dan otomatis tidak memerlukan guru les lagi, akhirnya ana memutuskan untuk meneriwa tawaran tersebut. Kemudian tante heni memberikan nomor kontak ana kepada temannya. Ana langsung menebak kalau wanita yang menelponnya kemudian itu pastilah dari keluarga yang berada, karena gaji yang ditawarkan cukup besar, lebih besar dari gaji yang ia dapatkan dari mengajar nico.
Ana berangkat dengan naik ojek online seperti biasanya menuju alamat yang sudah diberikan oleh wanita yang menelponnya dua hari lalu itu. Tidak sampai setengah jam ana sampai di depan gerbang sebuah rumah yang sangat besar. Dari luar saja suasana rumah tersebut sudah terkesan mewah di malam hari dengan warna gold dari lampu dan bangunannya. Seorang satpam membuka gerbang dan mempersilahkan ana masuk setelah sebelumnya memastikan siapa dan ada kepentingan apa ana datang. Sepertinya satpam itu sudah mendapatkan informasi sebelumnya tentang kedatangan ana. Satpam itu mengantarkan ana melewati pelataran rumah yang luas sampai tiba di depan teras rumah dengan pilar-pilar tinggi berukiran indah. Disana sudah menunggu seorang pelayan yang menyambut ana dengan ramah. Pelayan itu mengantar ana masuk ke dalam rumah.
Hal pertama yang dilihat ana saat memasuki rumah tersebut adalah sebuah ruangan yang seperti tempat pemisah antara teras dan ruang tamu. Ruangan itu berisi berbagai macam karya seni dan foto keluarga. Ana tidak sempat melihat dengan seksama foto tersebut karena mengikuti pelayan yang terus berjalan menuju ruangan lainnya. Lalu ia melewati ruang tamu yang besar dengan sofa berbahan kulit, lampu hias kristal, dan ornamen-ornamen mewah dan elegan yang menghiasi ruangan itu. Bukan sampai disitu saja kekaguman ana, ketika memasuki ruang tengah yang juga merupakan ruang keluarga, ana kembali dikejutkan dengan nuansa yang sangat megah. Dari ruangan ini, ana dapat melihat langsung ke arah taman melalui dinding kaca di satu sisi dan kolam renang yang luas di sisi sebelahnya. Semua perabotan dan interior di ruangan ini sangat mewah dan indah.
Ketika tengah asik memandangi kemegahan ruangan itu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang cantik datang menghampiri ana.
“Hallo.. selamat datang ana, saya danita” wanita itu tersenyum hangat sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan ana.
“Malam tante danita” ujar ana yang juga tersenyum menerima uluran tangan danita.
“Wah.. ternyata kamu cantik sekali ya ana” ucap danita yang sedikit terkejut karena ternyata gadis yang akan menjadi guru anaknya ini sangat cantik dan menawan.
“Haha.. tante bisa aja” ana tersipu malu “tante juga cantik banget” ucapnya jujur.
“Kamu sudah makan malam ana?” tanya danita.
“Sudah tante” jawab ana.
Setelah memperbincangkan beberapa hal, danita mengajak ana untuk mengikutinya menuju kamar carrissa di lantai dua. Danita membuka pintu sebuah kamar dan masuk ke dalamnya. Terlihat seorang gadis sedang duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
“Carrissa, kenalin ini guru privat kamu, ana” kata danita ketika berjalan menghampiri anak gadisnya.
Carrissa bangkit dari sofa mendekati ibunya dan ana.
__ADS_1
“Hallo kak ana, nama aku carrissa” ucap carrissa dengan wajah riangnya.
“Hallo carrissa” ana tersenyum sembari bersalaman dengan gadis yang masih duduk di kelas satu sekolah menengah atas itu.
“Saya tinggal ya ana, nanti saya minta pengurus rumah untuk bawakan minum dan cemilan kesini. Kalau perlu apa-apa bilang carrissa aja ya” ujar danita.
“Iya makasih tante” ucap ana.
Kemudian danita meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya.
Carrissa berjalan menuju meja belajarnya di sisi kamar dan ana mengikutinya. Kamar itu sangatlah luas, berkali-kali lipat ukurannya dari kamar ana di rumahnya.
“Kata mama kak ana satu kampus sama kakak aku ya?” tanya carrissa saat mereka sudah duduk di depan meja belajar yang cukup besar itu.
“Oya? Memang kakak kamu angkatan berapa, jurusan apa?” ana bertanya balik, sedikit terkejut.
Seketika ana tersentak mendengar nama yang baru saja carrissa sebutkan. Tidak mungkin rei yang itu kan, batinnya.
“Kakak kenal?” tanya carrissa lagi yang melihat wajah ana sedikit pucat.
“Eh.. kurang tau juga, banyak nama rei di kampus soalnya” jawab ana berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa rei yang dimaksud carrissa bukanlah rei yang dia kenal.
Carrissa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kata ana.
Setelah menepis kekhawatiran yang barusan sempat mengganggu pikirannya, ana kemudian memulai sesi pertamanya dengan mengulang pelajaran carrissa di sekolah yang tidak dimengerti oleh gadis itu. Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu belajar, dengan diselingi obrolan ringan. Mereka yang sesama perempuan dan carrissa yang periang membuat mereka cepat akrab dan bisa mengobrol apa saja dengan santai.
__ADS_1
“Makasih ya kak, aku jadi paham setelah diajarin kak ana" ucap carrissa saat merapihkan buku-bukunya di atas meja.
“Sama-sama carrissa, kalau ada yang ga ngerti langsung tanya kakak aja ya” ujar ana tersenyum.
“Kakak pulang dulu ya” kata ana yang sudah bangkit hendak keluar kamar.
“Aku antar kak” carrissa juga beranjak untuk mengantar ana.
Ketika mereka sedang berjalan menuju tangga, tiba-tiba pintu di depan mereka terbuka, dan seorang laki-laki jangkung dengan rambut yang agak berantakan keluar dari ruangan itu. Ia menoleh pada dua orang gadis yang berdiri di dekatnya.
Rei sangat tercengang melihat salah satu gadis itu adalah ana. Ana juga sama terkejutnya seperti rei.
Mereka berdua berdiri mematung saling bertatapan, rei dengan wajah tidak percaya dan penuh kebingungan, sedangkan ana dengan wajah pucat karena kekhawatiran yang tadi terlintas di benaknya benar-benar terjadi.
Carrissa yang melihat ekspresi dua orang itu, merasa ada sesuatu yang aneh.
“Ini kakak aku yang tadi aku ceritain, kak ana kenal?” tanya carrissa memandangi ana dan rei bergantian.
Ana yang tersadar dari keterkejutannya “Oh.. iya” hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutnya, ia buru-buru mengalihkan matanya dari rei yang masih menatapnya.
‘Siaaal.. kenapa bisa rei sih? Tau gini aku ga mau terima tawaran tante heni’ rutuk ana dalam hati.
“Kak rei, kak ana ini guru privat aku. Jadi kakak ga usah takut aku ganggu kakak lagi buat ngajarin aku” sahut carrissa menyombong.
“Ayo kak” ujar carrissa menarik tangan ana berjalan melewati rei.
__ADS_1
Rei yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, terus memandangi punggung ana yang pergi menjauh dan menghilang saat menuruni tangga.
Setelah berpamitan dengan orang tua carrissa di ruang keluarga, ana bergegas untuk keluar rumah diantar oleh carrissa. Di ruangan depan langkah ana tiba-tiba terhenti. Ia mendongak melihat foto besar di dinding yang tadi ia lewati saat baru datang ke rumah ini. Foto tersebut memperlihatkan empat orang yang sedang tersenyum, salah satunya adalah rei, laki-laki yang ia hindari selama satu bulan terakhir ini.