
“Kamu ngapain ngagetin aku!” bentak ana, masih mengatur napasnya yang terengah.
“Siapa yang ngagetin lo” ujar rei mengernyitkan dahinya.
“Kak rei tiba-tiba berdiri di belakang aku, bikin aku kaget terus jatuh!” ana kembali membentak rei.
Rei tertegun, ia yang melihat wajah galak ana jadi ingin tertawa, menggemaskan sekali gadis ini kalau sedang marah, pikirnya.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu?” ujar ana yang melihat rei sedang menahan tawanya.
“Abis kamu gemesin” ucap rei dengan senyum jahilnya.
‘Astaga, apa-apaan sih cowo ini’ geram ana dalam hati. Mendadak ana merasakan wajahnya memanas, mungkin juga pipinya sudah memerah saat ini.
Posisi mereka yang sedang berpelukan dan rei yang terus menatapnya lekat-lekat membuat jantung ana kembali tidak karuan.
“Kalian berdua ngapain disana?” tanpa keduanya sadari, danita sudah berdiri di pinggir kolam di atas mereka, carrissa berada di sebelahnya. Wanita itu memandangi ana dan rei dengan wajah keheranan.
Ana yang kaget langsung melepaskan pelukan rei. Dengan cepat ia naik untuk keluar dari kolam, begitupun rei melakukan hal yang sama.
“Tadi ana katanya mau berenang ma” jawab rei santai dengan cengiran di wajahnya.
Ana melebarkan kedua matanya ke arah rei, ingin sekali ia memukul kepala laki-laki menyebalkan ini.
“Engga tante, tadi aku ga sengaja kepleset terus jatuh” buru-buru ana menjelaskan pada danita. ‘Gara-gara ulah anak tante yang nyebelin ini’ tambahnya dalam hati.
“Ya ampun.. yaudah kalian ganti baju dulu sana, nanti masuk angin. Ana kamu tante cariin baju dulu ya, tunggu di camar carrissa aja” ujar danita lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Carrissa yang masih berdiri disana, memandangi ana dan rei dengan tatapan aneh.
“Ngapain lo ngeliatin kayak gitu? buruan anterin ana ke kamar” ujar rei lalu beranjak pergi.
Ana dan carrissa juga akhirnya masuk ke dalam rumah.
Tidak lama setelah itu, ana sudah berganti pakaian di dalam kamar carrissa. Tadi danita membawakan dress selutut yang terlihat pas di tubuh ana, dan juga dalaman yang kelihatannya masih baru karena masih ada labelnya.
“Ana, karena kamu udah kemaleman, tante suruh rei buat anterin kamu pulang” ujar danita ketika ana sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Ana sontak terkejut, “ga usah tante, aku udah biasa kok, aku naik ojek online aja tante, ga usah repot-repot” kata ana panik.
“Ga apa-apa ana, ga repot kok, malah rei sendiri tadi yang nawarin diri waktu tante suruh supir anterin kamu” ujar danita.
‘Hah? Maunya apa sih cowo itu? Kenapa seharian ini dia gangguin aku terus?’ pertanyaan bermunculan di dalam kepala ana.
Rei mendongak ketika ana berdiri di depan pintu. Tanpa sadar ia menahan napasnya, ana terlihat berbeda saat mengenakan dress. Terlihat lebih dewasa dan sangat manis. Cukup lama rei memandangi ana, lalu kemudian membukakan pintu mobil di samping kemudi agar ana masuk.
“Harusnya kak rei ga usah repot-repot anterin aku pulang, aku bisa sendiri” ujar ana ketika rei sudah melajukan mobilnya.
“Gue ga repot” ucap rei, ia menoleh pada ana yang duduk di sebelahnya, wajah gadis itu terlihat tidak senang. “Lo masih marah sama gue?” tanya rei.
Ana hanya diam, sekarang ia memilih pura-pura tidak mendengar.
“Lo udah putus sama cowo lo?” rei mengeluarkan pertanyaan yang sejak kemarin menghantuinya.
Kali ini ana menoleh mendengar pertanyaan yang sangat aneh dari laki-laki di sampingnya ini. Dahinya berkerut menandakan kebingungan.
__ADS_1
“Maksud kakak apa sih? Dari tadi siang omongannya ga jelas banget” ujar ana kesal.
“Jadi lo ga punya pacar?” rei bertanya lagi, memastikan.
“Engga, tapi mau aku punya pacar atau engga itu bukan urusan kak rei” jawab ana.
“Ya jelas itu urusan gue, karena hal itu menentukan langkah gue selanjutnya terhadap lo” sahut rei.
“Langkah apa yang kakak maksud? Langkah untuk mencium aku secara paksa?!” ana sudah benar-benar merasa kesal sekarang, matanya melotot ke arah rei.
Rei yang sadar bahwa gadis di sampingnya ini sedang diliputi emosi “sori ana, gue tau gue salah, waktu itu gue lagi kehilangan kendali, gue ga bermaksud nyakitin lo” ucap rei.
“Haha.. kehilangan kendali? gampang banget ya ngomongnya” ana berkata sinis. “Mungkin bagi kak rei itu cuma sekedar kesalahan kecil karena kehilangan kendali sialan kamu itu, yang udah biasa kakak lakuin sama cewe-cewe lain. Tapi bagi aku, kamu udah ngerampas ciuman pertama aku secara paksa”.
Rei terhenyak, bukan karena mendengar kata-kata ana yang penuh emosi, tapi lebih karena kalimat ana yang terakhir dia ucapkan.
‘Jadi ana belum pernah ciuman sebelumnya? Gue yang pertama cium dia?’ batin rei. Ada perasaan senang dan bangga menyelimuti hatinya ketika mengetahui kenyataan tersebut.
Selama sisa perjalanan tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Ana berusaha untuk meredam emosinya yang sempat meluap. Sedangkan rei masih dengan perasaan senangnya karena sekarang ia sudah yakin ana tidak mempunyai pacar, namun tentu saja rei tidak menunjukkannya pada gadis yang masih terlihat kesal itu, bisa-bisa nanti ana marah-marah lagi.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan kos ana.
“Makasih” ucap ana tanpa basa-basi, dan hendak membuka pintu untuk segera turun dari mobil. Namun rei menahan lengan ana, membuat gadis itu membalikkan badannya lagi.
“Gue tau gue salah udah memulai semua ini dengan cara yang bikin lo benci sama gue. Tapi please kasih gue kesempatan untuk memperbaikinya” ada keseriusan di saat rei mengucapkan kata-katanya.
Ana tertegun, ia merasakan ketulusan dalam sorot mata rei.
__ADS_1
“Percaya atau engga sejak gue kenal lo, saat gue membuka mata, lo adalah orang pertama yang gue pikirin. Gue janji setelah ini akan bikin lo selalu tersenyum saat ada di samping gue”. Rei.