light of love

light of love
Nyaman


__ADS_3

Keesokan harinya, di saat matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, ana terbangun oleh bunyi alarm ponselnya. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk lari pagi, yang sudah menjadi kebiasaannya saat hari libur. Ana beranjak dari tempat tidurnya dan berganti pakaian dengan baju kaos putih yang pas di tubuhnya dan celana jogger hitam panjang, lalu mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda. Ia keluar kamarnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Saat sudah selesai dan membuka pintu kamar mandi, dirinya dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di depan pintu.


“Kaget aku” ana mengelus dadanya saking terkejut. Tepat di depannya, rei dengan muka bangun tidur hendak ke kamar mandi untuk buang air kecil.


“Mau kemana?” rei memperhatikan penampilan ana dari atas ke bawah.


“Mau jogging” jawab ana santai. “Kak rei mau ikut?” tanya ana karena rei masih saja berdiri di tempatnya menghalangi jalannya.


“Mau” jawab rei cepat.


“Yaudah cepetan cuci muka dulu, aku tunggu di depan ya” ujar ana.


Lalu rei menggeser badannya agar ana bisa lewat, dan dia cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai rei bergegas menuju depan rumah. Dilihatnya ana yang sudah siap dengan sepatu larinya sedang melakukan pemanasan di halaman. Rei memakai sneakersnya dan menghampiri ana.


“Yuk” ana menghentikan pemanasannya saat melihat rei berjalan mendekat. Kemudian mereka mulai berlari dengan kecepatan sedang.


“Lo sering jogging kayak gini?” rei menoleh pada ana yang sedang berlari di sebelahnya.


“Lumayan, tiap libur seminggu sekali aku sempatin buat lari” jawab ana sambil mengatur nafasnya. “Kalau kak rei suka olahraga?”.


“Kadang gue ngegym di rumah” jawab rei.


“Oh..” ana membayangkan peralatan fitness yang lengkap di rumah laki-laki itu.


Selama hampir tiga puluh menit ana dan rei tidak berhenti berlari diselingi dengan berjalan kaki. Mereka melewati rumah-rumah warga, pepohonan di sepanjang jalan, hingga sampai di sebuah taman yang cukup ramai oleh orang-orang yang juga sedang berolahraga ataupun sekedar bersantai. Terlihat juga anak-anak yang sedang bermain dengan orang tuanya. Banyak penjual makanan di sekeliling taman tersebut, seperti ketoprak, nasi uduk, bubur ayam, dan berbagai macam jajanan seperti cilok, telur gulung, dan masih banyak yang lainnya. Di ujung jalan, terlihat pasar kaget yang penuh dikerubungi masyarakat. Ana dan rei berhenti untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah berkeringat.


“Istirahat disana yuk kak” ana menunjuk sebuah bangku kayu panjang di pinggir taman.


Rei mengangguk dan mengikuti ana. Mereka duduk meluruskan kakinya yang pegal, sambil memandangi keramaian orang di sekitar mereka.


“Dulu ayah selalu temanin aku lari pagi waktu beliau masih hidup” ujar ana tiba-tiba.


Rei menoleh, dilihatnya ana sedang memandang lurus ke depan sambil tersenyum. Pasti ana sedang mengingat kenangan manis bersama almarhum ayahnya, pikir rei dalam hati.


“Ana” ucap rei lembut. Ana menoleh.


“Kalau boleh tau.. kenapa ayah lo meninggal?” rei bertanya ragu-ragu.


“Ayah meninggal karena kecelakaan” ana kembali memandang ke depan, namun sorot matanya menjadi sangat sendu dan seperti menerawang jauh ke masa lalu yang menyakitkan. “Sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong karena kehabisan darah dan luka di kepala yang cukup parah”.


Rei bisa merasakan kesedihan yang mendalam saat ana mengucapkannya.


“Sori” rei merasa bersalah telah membuat ana sedih.


“Ga apa-apa kak” ujar ana tersenyum. “Dulu awalnya memang sangat menyakitkan tiba-tiba ditinggal oleh ayah, rasanya ga percaya dan seperti mimpi buruk yang amat panjang. Aku bahkan hampir ga bisa bedain antara mimpi dan kenyataan, karena setiap aku tidur selalu mimpi tentang ayah. Tapi seiring waktu akhirnya aku bisa menerima kenyataan kalau ayah udah pergi lebih dulu. Ibu selalu menghibur aku, walaupun aku tau dia sendiri sangat sedih dan terpukul dengan kepergian ayah. Ibu hampir tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan aku dan angga, dia berusaha untuk tetap kuat menjadi seorang ibu sekaligus ayah untuk anak-anaknya. Jadi aku juga harus kuat supaya ga bikin ibu khawatir”.

__ADS_1


Rei tertegun mendengar kata-kata ana. Dia baru saja melihat sisi lain dari gadis itu, seorang gadis yang kuat dan sangat mencintai keluarganya.


“Lo hebat ana” rei menatap ana lembut. Tanpa sadar tangannya terulur menggenggam tangan ana.


Ana yang terkejut langsung melepaskan tangannya dari rei. Dilihatnya rei sedang memandanginya dengan sorot mata yang dalam, membuat ana jadi salah tingkah.


“A aku mau jajan, kak rei mau juga ga, aku beliin ya” ujar ana gugup dan langsung beranjak pergi menuju tukang jualan yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.


‘Kenapa aku jadi deg-degan ya’ batin ana saat dirinya sudah jauh dari rei.


Tidak lama ana kembali dengan membawa dua buah telur gulung. Saat dirinya sudah hampir sampai di dekat rei, ana melihat ada sekelompok anak perempuan yang sedang berbisik-bisik sambil tertawa cekikikan melihat ke arah rei.


“Kak.. banyak yang ngeliatin tuh” kata ana ketika sudah duduk di samping rei dan mengulurkan satu telur gulung untuknya.


“Siapa?” tanya rei setelah mengucapkan terima kasih pada ana.


“Ya cewe-cewe lah” jawab ana sambil menguyah makanannya.


“Kenapa ngeliatin gue?” tanya rei lagi yang juga sudah menghabiskan setengah telur gulungnya dalam sekali gigitan.


“Ya karna kak rei ganteng kali” jawab ana cuek.


“Jadi menurut lo gue ganteng?” rei menatap ana dengan cengiran di wajahnya.


“Tapi menurut lo gue ganteng kan?” rei masih terus menatap ana.


“Apa sih” ujar ana salah tingkah. “Udah yuk kita pulang” ana bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan rei yang sudah tertawa-tawa melihat ana yang salah tingkah.


***


“Rei, ayo sarapan dulu, tante udah masakin nasi goreng” naura memanggil rei saat lelaki itu keluar dari kamar mandi yang berada di sebelah dapur.


Rei sudah terlihat segar sehabis mandi dengan memakai baju dan celana pendek selutut yang dibelinya tadi saat melewati pasar kaget sepulang jogging bersama ana.


“Iya tante” ujar rei.


Ana yang sudah mandi lebih dulu terlihat sedang membantu ibunya menyiapkan sarapan di meja makan.


“Angga mana sih jam segini belum keluar juga, ga telat apa tu anak” gerutu ana saat sadar belum melihat batang hidung adiknya di ruang makan. “Angga buruan sarapan!” teriaknya memanggil angga.


Tidak lama angga keluar dari kamarnya, sudah rapih dengan seragam sekolah dan ranselnya.


“Kamu ya, mentang-mentang sekolahnya dekat selalu aja berangkatnya mepet sama jam masuk” omel ana saat adiknya duduk di kursi sebelah rei. “Nanti telat gerbangnya ditutup baru tau rasa”.


“Ga bakalan ditutup, orang pak satpamnya temenan sama angga” kata angga santai sambil menyendokkan nasi goreng ke piringnya.

__ADS_1


“Ya kalau ketahuan guru sama aja, pasti kamu dihukum nanti” ujar ana gemas dengan adiknya yang terlihat sangat cuek.


“Angga kan murid kesayangan, ga mungkin dihukum lah, palingan juga disuruh push up sepuluh kali beres” ucap angga dengan sangat percaya diri.


Angga memang murid yang terkenal berprestasi di sekolahnya, baik di bidang akademik maupun olahraga. Walaupun perilaku angga yang kadang tidak taat pada aturan, namun karena prestasinya dan sikap angga yang pandai mengambil hati orang-orang, membuat para guru menyukainya.


“Bener-bener kamu ya, mereka ga tau aja kelakuan kamu yang sebenarnya” gerutu ana.


“Hush udah-udah, malu didengerin rei” naura menghentikan perdebatan kakak beradik itu.


“Biarin aja bu, supaya kak rei tau kalau kak ana itu sebenarnya galak dan cerewet kayak nenek-nenek” ujar angga.


Rei yang sejak tadi menyimak “Haha.. udah tau kok, udah berapa kali kena semprot ana” rei tertawa mengingat beberapa kali pertemuannya dengan ana.


Ana melebarkan kedua matanya menatap rei yang tersenyum lebar ke arahnya.


“Tuh kan, ternyata bukan aku aja yang jadi korban kegalakkan kak ana, nasib kita sama kak” angga mengangkat sebelah tangannya untuk adu tos dengan rei, yang disambut baik oleh laki-laki itu.


Ana memberengutkan bibirnya melihat kekompakkan dua laki-laki di hadapannya itu. Sejak kapan mereka jadi akrab gitu, batin ana.


Setelah menghabiskan sarapannya, angga pamit untuk berangkat ke sekolah.


Tidak lama setelahnya. “Rei juga pamit mau pulang tante” ujar rei setelah semua orang menyelesaikan sarapannya.


“Loh.. udah mau pulang?” tanya naura ketika akan membereskan meja makan.


“Iya tante, makasih banyak udah boleh nginap disini, maaf ngerepotin tante” ujar rei.


“Ga ngerepotin kok, makasih juga udah nganterin ana pulang semalam” balas naura tersenyum.


Kemudian rei mengulurkan tangan untuk bersalaman dan mencium tangan naura. Ana mengikuti rei keluar rumah.


“Makasih ya kak udah nganterin aku pulang kemarin malam” ujar ana saat sudah berada di depan mobil rei.


“Harusnya gue yang makasih.. gue seneng bisa ngabisin waktu sama lo” rei tersenyum sambil mengusap kepala ana, yang membuat gadis itu sedikit terkejut.


“Lo kapan balik ke kos?” tanya rei.


“Besok” jawab ana. Lusa sudah awal minggu yang artinya sudah harus masuk kuliah.


“Oke.. gue pulang dulu ya” pamit rei saat membuka pintu mobilnya.


“Iya hati-hati kak” ujar ana.


Ana memandangi mobil rei yang semakin menjauh dan tersenyum. Tanpa ia sadari, dirinya sudah mulai merasa nyaman dengan sosok laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2