
Malam harinya, rey, adit, nesya, dan dua orang temannya yang lain sudah berkumpul di ruang tamu tempat kos nesya. Ruangan itu berukuran cukup besar, di dalamnya terdapat sofa panjang bentuk L dan meja tamu persegi yang cukup lebar. Buku-buku, kertas, beberapa buah laptop, dan peralatan tulis lainnya sudah memenuhi bagian atas meja tersebut.
“Gue udah catet poin-poin apa aja yang akan kita bahas sesuai dengan tema dan judul makalah kita”. Nesya berbicara kepada teman-teman satu kelompoknya, sejak tadi ia lebih mendominasi dalam mengarahkan anggota kelompok yang lain. “Buku-buku dan jurnal yang udah kita kumpulin akan jadi bahan referensi pembahasan makalah kita” ujarnya lagi.
“Siap ketua!” sahut adit.
“Siapa ketua?” tanya nesya mengernyitkan dahinya menatap adit.
Adit menunjukkan jari telunjuknya pada nesya dengan cengiran di wajahnya.
“Ga ada ketua-ketuaan disini, kita semua sama” kata nesya dengan wajah datar.
Adit hanya tersenyum miring mendengar ucapan nesya. Walaupun dia awalnya kesal karena sifat gadis itu yang suka sok ngatur, tapi sekarang dia kagum akan sosok nesya yang pintar, tegas, dan bertanggung jawab.
Selama beberapa saat kelima orang itu terlihat sibuk dengan tugasnya, diselingi dengan diskusi dan perdebatan ringan. Hingga tiba-tiba adit merasa ada sesuatu yang kurang sejak mereka berada disini.
“Ketua.. lo ga ada niat nyuguhin kita minum gitu? Gue haus banget ini” ucap adit dengan muka memelas.
“Oh sori gue lupa.. lo ambil sendiri aja ya di kulkas di dapur lantai dua” ujar nesya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.
“Lah kenapa jadi gue yang ambil dah, gue kan tamu” sahut adit.
“Gue lagi tanggung ini, sekalian ambilin buat yang lain juga ya” kata nesya.
Adit yang merasa malas untuk bergerak hanya diam saja di tempatnya.
“Biar gue aja yang ambilin” tiba-tiba rei bangkit dari duduknya, sebenarnya dia juga merasa haus sejak tadi.
__ADS_1
Adit tersenyum lebar kepada rei, seolah temannya itu adalah seorang pahlawan yang tiba-tiba muncul untuk menyelamatkannya dari bahaya besar.
Lalu rei pun beranjak dari ruangan itu dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai tersebut yang pertama kali dilihatnya adalah ruangan cukup besar dengan sebuah tv, beberapa sofa kecil, dan karpet yang tergelar di depan tv. Mungkin ini semacam ruangan berkumpul untuk anak-anak kos, pikirnya. Karena belum menemukan dapur disini, ia kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri lorong melewati beberapa pintu yang tertutup rapat. Hingga di ujung lorong, dilihatnya sebuah ruangan yang terbuka pintunya. ‘Mungkin itu dapurnya’ katanya dalam hati, lalu rei pun segera mendekat kearah pintu tersebut. Namun di ambang pintu langkahnya terhenti, dilihatnya ada seseorang sedang berdiri membelakanginya menghadap dapur. Seorang wanita, rambutnya digulung ke atas, memakai baju kaos putih dan celana pendek hitam sepaha yang memperlihatkan kulit putih mulusnya. Rei berjalan mendekat ke arah wanita itu. Lalu wanita itu membalikkan badannya dan seketika terkejut hingga menjatuhkan piring yang sedang dia pegang tadi.
“Lo.. kenapa bisa ada disini?” tanya ana yang melebarkan matanya karena terkejut melihat rei.
Rei juga sangat kaget bisa bertemu ana lagi di tempat yang tidak terduga ini. Dia terdiam sebentar melihat wajah ana yang sedang menatapnya lekat-lekat, lalu berjongkok mengambil piring yang terjatuh tadi.
“Untung piring plastik” ujar rei saat bangkit dan menyodorkan priring tersebut kepada ana.
“Lo belum jawab pertanyaan gue” kata ana dengan nada agak tinggi sambil mengambil piringnya dari tangan rei.
“Kenapa lo galak banget sih sama gue? Ga kayak sama temen-temen dan pacar lo?” bukannya menjawab rei malah bertanya balik.
“Pacar? Maksud lo apa, memang lo tau apa tentang gue?” ana yang tidak mengerti akan ucapan rei juga balik bertanya, kedua alisnya menyatu karena bingung.
Rei terdiam beberapa saat, dirinya jadi salah fokus melihat ana yang berdiri di hadapannya. Dengan rambut yang digulung ke atas membuat leher dan tengkuk ana terlihat jelas, belum lagi kaos model V-neck yang memperlihatkan kulit bagian atas dadanya. Tanpa sadar rei menahan nafasnya.
Seketika rei tersadar dari lamunannya yang mulai menerawang jauh, lalu ia menghembuskan nafasnya yang tadi sempat tertahan.
“Heh.. lo kalo ngomong sama gue yang sopan, gimanapun juga gue ini senior lo di kampus, pake lo gue?” ucap rei yang sedang berusaha mengusir pikiran kotor dari otaknya.
Ana terkesiap. Ia sadar kalau dirinya sudah sangat tidak sopan pada seniornya ini, dan mengira rei sedang marah padanya sekarang.
“Eh.. sori..” kata ana yang jadi salah tingkah. “Gue.. eh a aku.. ga bermaksud ga sopan sama kakak” ujarnya sambil melihat wajah rei sekilas namun segera menundukkan kepalanya menatap lantai.
Rei yang melihat sikap ana jadi tidak tahan untuk tersenyum. ‘Dia gemesin banget kalau lagi salah tingkah’ katanya dalam hati.
__ADS_1
“Nah gitu dong.. jadi junior itu harus sopan sama senior, panggil gue kak rei” ucap rei masih dengan senyum lebarnya.
Ana mendongakkan kepalanya menatap wajah rei yang juga sedang memandanginya dengan sorot mata tidak terbaca. Mereka dengan pikirannya masing-masing.
‘Kenapa dia senyum-senyum kayak gitu, jangan-jangan dia lagi bikin rencana untuk ngerjain aku, mentang-mentang aku anak baru’ ana berpikir dalam hati.
‘Sialan.. ternyata ini cewe beneran cantik banget, apalagi kalau diliat dari dekat’ batin rei.
Lalu tiba-tiba ada seseorang yang datang, memecah kesunyian yang sedang terjadi.
“Gue kirain lo nyasar, lama banget ga balik-balik” sahut nesya pada rei saat berjalan masuk ke dalam dapur.
“Kak nesya kenal dia?” tanya ana.
“Dia temen seangkatan kakak, satu jurusan, kita lagi ngerjain tugas kelompok di bawah” jawab nesya.
“Oh..” kata ana mengganggukkan kepalanya.
Lalu nesya mengambil botol minuman dari kulkas dan beberapa gelas dari lemari dapur.
“Tolong bawain ini” nesya menyerahkan botol minuman kepada rei sedangkan dia sendiri membawa gelas yang ditaruh di atas nampan.
“Kakak ke bawah dulu ya na” ujar nesya pada ana.
“Iya kak” jawab ana.
“Bye.. sampai ketemu lagi” ucap rei sambil tersenyum pada ana sebelum melangkahkan kakinya untuk mengikuti nesya yang berjalan keluar dari dapur.
__ADS_1
Ana hanya bengong menatap punggung rei, ‘maksud dia apa, memangnya bakalan ketemu lagi sama dia?’ pikirnya. ‘Ah bodo amat lah’ batinnya lagi.
Dan ana pun segera beranjak dari ruangan itu untuk pergi ke dalam kamarnya sendiri.