light of love

light of love
Guru dan murid


__ADS_3

Sekitar lima belas menit perjalanan dengan ojek online, akhirnya ana sampai di depan sebuah rumah besar. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih pada sang driver, ana berjalan mendekat menuju depan pagar dan melihat ada seorang satpam yang menghampirinya.


“Eh.. neng ana” sahut pak satpam ramah sambil membukakan pagar agar ana bisa masuk. Pak satpam itu sudah mengenal ana yang sering datang untuk mengajar les anak majikannya.


Ana tersenyum menganggukan kepalanya kepada pria itu.


“Nico ada kan pak?” tanya ana basa-basi karena sudah tau jawabannya.


“Ada neng, ayo bapak antar” jawab pria itu sambil berjalan terlebih dulu agar ana mengikutinya.


Pak satpam mengantar ana sampai masuk ke dalam ruang keluarga, disana ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv. Wanita itu menolehkan kepalanya saat sadar ana datang bersama pak satpam. Lalu pak satpam pamit untuk keluar.


“Hai ana..” sahut wanita itu sambil tersenyum hangat menghampiri ana.


“Tante Heni” kata ana sambil mencium tangan wanita itu.


Heni adalah ibu nico, yang juga adalah teman baik dari dosen ana. Teman baiknya itulah yang merekomendasikan ana untuk menjadi guru les anaknya. Dan heni percaya akan penilaian temannya itu. Selain pintar ana juga adalah gadis yang baik dan sopan. Mungkin karena dia hanya mempunyai satu-satunya anak laki-laki, maka heni menganggap ana seperti anak perempuannya sendiri.


“Nico udah nunggu di kamar” ucap heni sambil sebelah tangannya memegang bahu ana.


“Kalau gitu ana ke dalam dulu tante” kata ana sambil tersenyum. Dan heni menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Ana pun berjalan menuju kamar nico yang tidak begitu jauh dari ruangan itu. Memang pada awalnya ana merasa aneh saat harus mengajar nico di dalam kamar, apalagi usia nico yang hanya beda satu tahun di bawah ana. Sangat tidak baik pria dan wanita berada di dalam kamar berduaan. Tapi heni sangat santai akan hal itu, pintu kamar nico juga selalu dibiarkan terbuka saat ana sedang mengajar nico. Saat sudah tiba di depan kamar nico yang besar, dilihatnya muridnya itu sedang duduk bersila di atas karpet besar dan tebal yang ada di samping tempat tidur dengan meja pendek persegi yang terbuat dari kayu di tengah karpet. Ana mengetuk pintu pelan untuk memberitahu niko kalau dirinya sudah datang. Lalu nico menolehkan kepalanya ke arah pintu dan melihat ana sedang berdiri sambil tersenyum. Seketika nico pun tersenyum lebar melihat guru cantiknya itu.


“Kenapa pakai ketuk pintu segala sih kak, langsung masuk aja sini” ujar nico.


Lalu ana pun masuk dan mendudukkan dirinya di sebelah nico, agar lebih mudah saat mengajar muridnya itu nanti. Terlihat di atas meja sudah siap buku-buku dan alat tulis yang biasa nico gunakan. Ana juga segera mengeluarkan buku-buku yang dia bawa dari dalam tasnya. Hari ini mereka akan belajar matematika. Mata pelajaran yang paling sulit menurut nico.


“Sori agak telat co” ucap ana minta maaf karena merasa tidak enak membuat anak itu menunggu walaupun hanya beberapa menit dia terlambat.


“Ga pa pa kak.. santai aja” sahut nico sambil tertawa pelan.


Nico adalah anak laki-laki dengan senyuman yang manis, hidung mancung, postur tubuh tinggi, bahkan lebih tinggi daripada anak-anak seusianya. Dia adalah salah satu anggota tim basket yang handal di sekolahnya. Dengan wajah ganteng dan tubuh yang tinggi, banyak gadis-gadis di sekolah yang naksir kepadanya.


Ana meraih buku, dan mulai memeriksa satu persatu soal dan jawaban yang nico buat. Nico memandangi wajah ana yang sedang fokus dengan buku PR nya, melihat bulu matanya yang panjang, hidung mancung ana, dan bibir mungil merah yang sexy. Nico selalu merasa tersihir tiap kali melihat wajah ana, sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi ia sangat pandai menyembunyikannya, tidak ingin membuat ana merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Nico tidak mau ana berhenti menjadi gurunya jika gadis itu tau ia menyukainya. Nico berencana akan mengungkapkan perasaannya setelah dia lulus SMA dan masuk universitas yang sama dengan ana. Nico berjanji pada dirinya sendiri akan hal itu.


Ana menjelaskan beberapa soal yang nico jawab salah, sambil sesekali memberi coretan dan catatan dengan pensil di buku PR nico. Namun sedari tadi ana tidak mendengar suara tanggapan dari nico, sehingga ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat muridnya itu. Dilihatnya nico sedang memandangi wajahnya. Nico yang merasa kepergok karena bukannya mendengarkan penjelasan ana malah asik memandangi wajah gurunya itu menjadi salah tingkah.


“I iya kak.. gimana?” ucap nico gelagapan.


Ana yang tidak menyadari kalau nico setengah mati menahan malu berkata “kirain kamu ketiduran, ga ada suaranya” ujar ana tertawa. Dan nico pun ikut tertawa mendengarnya.


“Jadi bagian mana yang masih kurang jelas?” tanya ana kembali serius.

__ADS_1


Kali ini nico berusaha untuk fokus, dia melihat coretan dan catatan yang dibuat ana di bukunya, dan menanyakan beberapa hal yang masih kurang dimengerti. Ana pun segera menjelaskan sekali lagi dengan penuh kesabaran. Setelah PR selesai, ana memberikan beberapa latihan soal untuk nico, dan membimbingnya jika anak itu mengalami kesulitan.


Tidak terasa sudah satu setengah jam mereka menghabiskan waktu, yang artinya tugas ana hari ini sudah selesai. Ketika ana akan merapikan buku-bukunya, tiba-tiba perutnya bunyi dengan suara yang cukup keras sehingga nico bisa mendengarnya. Seketika itu juga ana merasa sangat malu, ia memegang perutnya dan menoleh pada nico yang juga sedang menatapnya.


“Kakak belum makan malam?” tanya nico curiga sambil menaikkan alisnya.


“Hehe.. tadi sore pulang kuliah ketiduran, terus ga sempat makan karena takut telat kesininya” kata ana jujur. Lalu segera melanjutkan merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


“Yaudah makan dulu aja disini” ucap nico dengan wajah yang merasa bersalah karena telah membiarkan ana kelaparan selama mengajarnya tadi.


“Ga pa pa nico.. nanti kakak beli makan sekalian pulang aja” tolak ana dengan halus.


Nico yang masih merasa bersalah tidak terima “Kalo gitu aku temenin kakak cari makan” ujar nico.


Ana yang kaget mendengar kata-kata nico “Ga usah co.. ini udah malem, biar kakak sendiri aja” kata ana berusaha meyakinkan anak muridnya itu.


“Aku ga terima penolakan kak” ucap nico tegas.


Ana menghela nafasnya pelan “yaudah oke, tapi bilang mama kamu dulu ya” kata ana dengan wajah yang sedikit kesal karena tidak bisa menang melawan nico.


“Oke siap bu guru” sahut nico dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


__ADS_2