
Rei mondar-mandir di depan pintu kamar carrissa, sedang menimbang apakah ia harus benar-benar bertanya pada adiknya itu. Belum selesai memutuskan, terdengar suara memanggilnya.
“Ngapain kakak mondar-mandir di depan kamar aku?” tanya carrissa ketika berjalan ke arah kamarnya. Ternyata gadis itu ada di lantai bawah sejak tadi.
Rei tidak menjawab, sekarang malah mematung di depan adiknya.
“Kakak kenapa sih? Aneh banget” carrissa mengernyitkan dahinya menatap kakaknya, lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya.
Rei mengikuti carrissa masuk ke dalam kamar, lalu duduk di ranjang adiknya. Carrissa semakin bingung, tidak biasanya rei masuk ke dalam kamarnya dan lagi tingkahnya sangat aneh.
“Kenapa sih? Tumben banget kesini?” tanya carrissa lagi, berdiri di depan kakaknya.
Rei tampak ragu-ragu, kemudian akhirnya memutuskan untuk bertanya saja “menurut lo, cewe bakalan senang ya kalau dikasih barang-barang yang dia suka dari cowo?”.
Carrissa tersenyum miring, ternyata kakaknya ini mau membicarakan masalah perempuan. Baru kali ini rei meminta pendapatnya soal perempuan. Lalu carrissa ikut duduk diranjangnya, sekarang mereka saling berhadapan dengan duduk bersila di atas kasur.
“Pada dasarnya, cewe itu suka diperhatiin. Perhatian di sini bukan berarti ngasih cewek hadiah, barang-barang mahal, dan sebagainya. Tapi ketika ada cowo ngasih barang yang dia suka walaupun sederhana, artinya cowo itu perhatian sama dia karena tau apa yang dia suka”.
Rei mendengarkan penuturan adiknya dengan seksama, bagaimanapun carrissa lebih mengerti perihal wanita dibanding dirinya.
“Aku pikir kakak yang udah sering gonta-ganti pacar lebih ngerti masalah kayak gini?” ucap carrissa.
“Selama pacaran dulu, gue ga pernah peduli sama kemauan pacar gue. Kalau bukan mereka yang ngomong langsung, gue ga akan tau apa maunya mereka. Gue ga peduli dan ga pernah berusaha untuk cari tau” ujar rei.
__ADS_1
Rei jadi teringat kejadian di kantin tadi siang, ia menggeram kesal, merasa sudah kalah langkah dengan gilang.
Carrissa memandangi kakaknya, ‘hebat banget dia bisa bikin kakak galau kayak gini’ batinnya dalam hati.
“Tapi yang paling penting dibanding semua hal, cewe itu suka cowo yang apa adanya dan ga dibuat-dibuat. Cewe suka sama cowo yang jujur sama isi hatinya” ucap carrissa, menatap rei dengan sorot penuh arti.
***
Keesokan paginya, ana berjalan dengan tergesa menuju ruang kelasnya yang sebentar lagi akan dimulai. Ana terlambat dari biasanya karena ada masalah di bus kampus yang dia naiki tadi. Saking terburu-burunya, ana tidak sadar ada seseorang yang sengaja menyenggolnya dengan cukup keras dari arah yang berlawanan.
“Auww” ana meringis menahan sakit di pundaknya.
“Lo lagi!” bentak friska.
“Mata lo tu dipake buat jalan, jangan cuma dipake buat jelalatan liat cowo orang” hardik friska.
“Apa maksud kamu? Aku ga pernah kayak gitu” ujar ana tidak mengerti.
“Jangan pura-pura ga tau deh, lo sengaja deketin rei kan?” friska menuding wajah ana dengan jari telunjuknya. Friska sudah beberapa kali secara tidak sengaja melihat rei bersama ana. Dan ada gosip yang beredar bahwa rei sudah mempunyai pacar lagi.
Ana terkesiap, ‘jadi dia marah karna rei, jadi benar mereka pacaran. Tapi kan bukan aku yang salah, aku ga pernah deketin rei, dia yang selalu ngikutin aku terus’ kata ana dalam hati.
“Sebenarnya ada hubungan apa lo sama rei? Gue kasih tau ya, gue sama rei itu..” belum sempat friska menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada yang datang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Gue sama lo apa?” tanya rei, berdiri di samping ana.
Friska terkejut, tidak menyangka rei akan tiba-tiba muncul.
“Re rei.. gu gue” ucap friska gelagapan.
Ana heran melihat sikap friska yang mendadak panik dan salah tingkah.
“Tadi lo tanya ada hubungan apa dia sama gue?” ujar rei menaikkan sebelah alisnya. “Dia cewe gue” ucap rei, lalu mengangkat tangannya untuk merangkul pundak ana.
Baik friska maupun ana sangat terkejut dengan apa yang baru saja rei katakan.
“Lo bercanda kan rei? Ga mungkin lo suka sama cewe kampungan kayak dia kan?” ujar friska yang merasa tidak terima.
“Gue ga bercanda, gue suka sama dia, dan dia bukan cewe kampungan. Dia cewe paling luar biasa yang pernah gue kenal” rei berkata tegas “jadi lo jangan ganggu kita lagi” tambahnya menatap tajam friska.
Friska merasa malu sekaligus kesal, ia pun bergegas pergi meninggalkan rei dan ana.
Ana yang saking terkejutnya dengan apa yang rei ucapkan, tidak sadar kalau sejak tadi rei merangkulnya, sampai rei melepaskan tangannya dari pundak ana.
“Kak rei” ana menoleh menatap rei yang juga sedang memandanginya. “Yang tadi itu..” kalimat ana terpotong oleh seruan seseorang yang memanggilnya, setengah berlari ke arah ana.
“Ayo buruan na, kita udah telat!” sahut adel menarik lengan ana dan membawanya berlalu meninggalkan rei, yang masih memandangi punggung gadis itu sampai kejauhan.
__ADS_1