Lingkaran Masa Lalu

Lingkaran Masa Lalu
Pak udin. . . I'm Sorry


__ADS_3

Tiba dirumah, aku selalu gagal fokus dengan semua perihal yang ku lakukan dirumah seharian. Bahkan sekedar minum dan memakan sesuap nasi rasanya sulit. Aku terus memikirkan ucapan maulida, aku terus merasa gelisah dengan cerita pak Ahmad.


oh tuhan, benarkah seberharga itu aku di mata pak udin? Benarkah ia menyukai ku tuhan??? haha ini sangat konyol. bagaimana bisa seorang guru menyukai muridnya dengan perasaan cintaaaaaa. . . Tapi,Aaargh aku benar-benar merasa bersalah dibuat nya.


Ku lihat ibu sesekali memandang ku, ketika aku sebentar-sebentar tarik nafas panjang, sebentar-sebentar melamun. Aku jadi salting, Kau tau??? Semenjak Aku masuk SMA, ibu selalu jadi teman plus sahabat dan sandaran ketika aku butuh teman curhat selain Maulida. karena ada saat dimana tidak semua aku mampu luapkan dengan seorang sahabat terdekat ku, secara. . . Maulida suka ember juga. hehe


Tapi. . . tidak semua pula aku mampu bercerita kepada ibu, aku masih memiliki rasa malu dan takut-takut ibu berpikir dan khawatir aku akan salah dalam suatu hubungan.


Ku lihat ibu masih menatap ku dengan tersenyum. . .


"Chella. . . ada apa Nak??? tampak nya kau begitu gelisah. . . ada masalah apa lagi? sini cerita sama ibu" Ibu mendekatiku sembari mengajak ku duduk di depan teras rumah.


Memang feeling seorang ibu tidak mudah di bohongi meski aku berkata dengan tegas, hanya kelelahan. Kemudian ibu memulai ceritanya, dengan mengenang semua masa lalu nya, bagaimana beliau pada akhirnya jatuh dalam suatu hubungan hasil perjodohan. aku memang tidak pernah bertanya, apakah kini ibu sudah mencintai ayah??? Rasanya tidak mungkin jika TIDAK, bukan??? sedangkan aku tlah lahir dengan kasih sayang dan perhatian. meski ayah begitu cuek, tapi tak sedikitpun ayah membiarkan seseorang menyakiti ku meski hanya dengan perkataan.


"Nak, ketika kamu diberi pilihan lebih baik mencintai atau dicintai manakah yang akan kau pilih???" Tanya ibu.


Aku tertegun, memikirkan apa yang akan aku pilih nantinya. . . semoga ini jawaban yang tepat.


"pilih mencintai Bu. . . keindahan dan kebahagiaan itu kita yang menciptakan bukan? meski tak mendapatkan hal yang sama??? Yah. . . seperti rasa ku pada Khery sebelumnya. pikir ku.


Ibu tersenyum lembut menanggapinya,

__ADS_1


"sayang, jiwa seorang wanita pada hakikatnya akan mudah luluh. tapi tidak untuk bodoh, Jika ibu diminta memilih .. . ibu akan memilih dicintai" Jelas ibu pada ku.


"Apakah lebih menyenangkan nantinya bu???" Tanya ku kemudian.


"Kelak, kau akan memahami ini anak ku. sekarang, nikmati saja masa remaja mu yang akan baru dimulai ini. Namun, jangan pernah kalah dengan ego mu"


"Bu, sebenarnya. . . ada seseorang yang dia selalu berusaha untuk bisa lebih dekat dan mengenalku lebih jauh, tapi aku menolak nya lebih dulu" Jelas ku kemudian.


Ku ceritakan semua perihal dari awal bagaimana tentang ku dan pak udin pada ibu, semua yang sudah terjadi hingga kini. semua rasa bersalah ku, rasa penasaran ku, bahkan rasa yang tak pernah ku mengerti ini. Kau tau bagaimana tanggapan ibu ku??? Ini lebih dari sekedar menyakitkan.


"Lalu??? apa kau pun menyukainya Nak? Tanya ibu ku kemudian. tanpa berpikir aku mengangguk,


"Jika ibu menyetujuinya" Tanya ku kemudian.


****************


Di sekolah, aku terus memikirkan apa pesan ibu semalam. membuat ku tidak bisa memejamkan mata sedikitpun, hingga menjelang pagi. Hari ini di sekolah cuaca lagi gak bersahabat, hujan turun dengan deras. menambah suasana hati ku semakin sesak memandangnya,


Aku terus berdiri di amperan kelas atas memandangi hujan yang turun, menikmati pemandangan indah ini. serasa damai menyelimuti, ku tarik nafas panjang, ku lihat sekeliling halaman dan sekolah SMP ku. Terkenang semua cerita di masa itu dengan mereka orang-orang yang ku cintai. Dan pandangan ku tertuju dengan sosok lelaki yang juga berdiri di pintu ruang UKS SMP menatap ku dari kejauhan.


What??? Pak udin??? benarkah??? dia sudah kembali masuk ngajar??? haaaah syukurlaaaah. . . aku lega melihatnya. ku lihat masih beberapa tertempel perban di bagian tubuhnya, lama kami saling memandang dari kejauhan.

__ADS_1


Kemudian maulida mengagetkan ku dari belakang,


"Hayooow mikirin siapa???" Sapa nya dengan nada keras.


"Iiiwh bisa gak jangan ngagetin muluuuu??? kaget tauuuu, gangguin aja" cetus ku dengan kesal.


"ciyeeee gangguin elu Halu. . . hahahahaa" Ledeknya kemudian.


Ku pandangi kembali Pintu ruang UKS pak udin sudah menghilang dari sana.


Howah. . . apaa-appaan ini??? ku yakin tadinya hanya halusinasi saja. ya tuhaaaan aku sudah gilaaaa.


Hujan mulai mereda, hanya gerimis halus kembali menghiasi suasana semakin adem dan damai bau tanah dan rerumputan, bunga-bunga nan pepohonan di sekolah semakin lekat tercium kala angin menerpa. Maulida bergegas turun mengajak ku ke kantin untuk menyeruput teh hangat dan beberapa cemilan, hujan deras ini membuat perut kami lapar.


Sedang asyk ku seruput teh hangat, tiba-tiba maulida menendang kaki ku dengan keras.


"Eh pak udin dataaaaang, dia sedang menuju kemariiii, Lihat" Bisik maulida membuat ku terbatuk-batuk serasa mencubit tenggorokan teh hangat yang ku minum ini.


Pelan ku angkat kepala untuk menoleh nya, Benar saja. . . beliau sudah di kelilingi para kakak dan adik kelas perempuan di sekolah kami, dan beberapa staff sekolah bergantian menanyakan kabarnya. Dia terus menatap ku, dengan berkata bahwa beliau sudah membaik dengan cepat. hanya saja kurang di perhatikan ,hoho. sontak semua menggodanya, apaan coba??? maksudnya nyindir aku??? hah???


Tiba waktu pulang sekolah Hujan kembali turun dengan deras. aku berlarian sambil gandengan tangan dengan maulida, kami tertawa ria menikmati hujan ini. sangat bahagia rasanya, andai. . . jojo .. . khery. . . bersama kami saat ini. aku memejamkan mata merasakan dinginnya air hujan ini, namun terasa hangat bagi ku. Kemudian maulida mencubit pinggang ku, Aw. . . ku buka mata seketika dan menolehnya dengan wajah cemberut. Maulida memberi ku isyarat, aku mencari-cari kemana tujuannya.

__ADS_1


Degh !!! Kau tau??? pak udin kembali memandangi ku di balik jendela ruang kantor SmP. Oh tuhan. . . bagai mengalir deras seketika ini darah ku, dinginnya air hujan berubah bagai api yang membakar ku. Aku tersenyum, Lama kami saling memandang, namun. . . aku kembali teringat pesan ibu semalam. Kemudian aku berlalu pergi begitu saja dengan maulida. aku tidak peduli saat dia terus memandangku dengan wajah penuh harap.


I'am sory Pak Udin


__ADS_2