
Seakan semua terasa saling bertimbal balik. Aku yang sudah jatuh hati pada seseorang di dunia maya, menggila dan patah hati karena di cap sebagai pelakor bagi wanitanya di dunia nyata. Namun di sisi lain, pak Udin yang tadinya bertunangan dengan teman sekelasku dulu. Kini kembali terus mendekatiku setelah hubungannya berakhir dengan Ningsih.
Hari ini aku sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur ku, karena ini hari libur. Seperti biasa aku selalu memainkan ponsel ku, pengenalan ku dalam dunia maya semakin membuatku candu.
Drrrrttt. . .
Dudut memanggil, segera aku menerima panggilan teleponnya.
********Hmm. . . kenapa beb?
Aku sudah memblokir nya dari akun facebook mu.
Siapa******?
Tanya ku mulai heran.
******Kau tau siapa yang ku maksud, ebeb ku.
Kau? kenapa tidak ijin dulu sih, buka akun ku sembarangan. Kau hack akun ku ya?
Apa boleh buat? ini untuk kenyamanan mu kan beb, ku tidak ingin kau terusik***.
Tapi dia memang benar wanitamu bukan?
Sesaat. Tapi hatiku sudah terikat olehmu meski kita tidak pernah bertemu, dan hanya melalui dunia maya ini***.
Degh,
serasa perih di hati saat dia menyadarkan akan cintaku padanya kali ini adalah sebuah kegilaan yang besar. Bagaimana tidak? Aku jatuh hati pada seorang cowok yang jelas-jelas hanya ku ketahui dan ku kenal di facebook. Hahaha konyol gak sih?
Klik !!! ku matikan begitu saja panggilan teleponnya itu.
Tuhan, bisakah kau musnahkan rasa di hatiku ini untuknya? untuknya yang hanya bermula dari keisengan ku di dunia maya. Ini tidak benar, aku bisa gila jika terus begini. Aku masih waras, konyol sekali jika aku sungguh jatuh hati pada bayangan semu.
Drrrt. . . Drrrt. . .
Kembali ponselku bergetar, sebuah panggilan masuk yang tak lain adalah pak Udin.
Oh astaga, di hari libur ku yang ingin sekali ku nikmati dengan bermalas-malasan tanpa beban kenapa malah jadi terusik begini.
** Ada apa lagi sih pak?
Tanya ku cetus.
__ADS_1
Galak banget sih, duh jadi takut bapak ini. Halus dikit kalo ngomong, kamu kan cewek. Gak cantik dong,
Mendengarnya berbicara begitu aku semakin marah, sejak kapan dia mulai mengaturku.
***Lah, saya memang tidak cantik. Tapi bapak masih mau menelpon ku kan? weee. . .
Ih mulai berani ngeledek guru mu ya,
Duh tau ah, ada apa bapak nelpon?
Bapak boleh main kerumah mu Chella***?
So what? main kerumah? jangan gila deh ya.
***Apaan sih pak? Jangan ngaco deh. Saya sibuk !
Sibuk apa? ini hari libur. pasti kamu dirumah aja hari ini kan? bapak main kerumah mu gak sendiri. Tapi bareng kepsek, masih gak boleh?
Apa? ih apaan sih pak bawa-bawa pak kepsek. Sengaja ya?
Pokoknya bapak udah di jalan mau kerumah mu hari ini***.
Bip, bip, bip. . .
Aku yang mengetahui hal ini kebingungan gak jelas pada akhirnya beranjak dari posisi ku mondar mandir gak jelas di kamar.
Iih nyebelin gak sih ini guru satu, aku harus gimana dong???
Kemudian aku berlari keluar kamar untuk mencari ibu dan ayah, ku lihat ibu sedang asyik menonton sinetron di tv.
"Bu, pak udin dan kepala sekolah Chella saat di SMP dulu sedang menuju kemari. "
" Oh ya? wah suatu kehormatan dong "
Jawab ibu ku dengan senyuman sumringah.
" *Bu, ayo lah jangan bercanda. ini serius. . . "
" Apa ibu juga bercanda? Ibu sangat senang mendengarnya. Ibu akan menyiapkan beberapa cemilan dan minuman enak untuk disuguhkan pada mereka nanti. Kau tunggu saja di teras depan rumah*. " jawab ibu ku kemudian sembari berdiri melewatiku menuju dapur.
Aku yang masih berdiri diruang Tv menatapnya tertegun tanpa satu kata dari mulut ku, kenapa jadi begini sih? ku pikir ibu akan menolaknya. Aku semakin kebingungan dan berjalan menuju teras depan rumah.
Tin, tin. . . !!!
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar, yang kemudian mendarat di depan halaman rumah ku. Aku yang berdiri di teras hanya menatap sejenak mobil mewah itu, tanpa mengetahui siapa yang berada di dalam nya. Kemudian aku duduk santai di teras dengan pakaian santaiku, memainkan ponsel ku kembali dengan menscrol akun facebook ku.
" Ehhem, uhuk uhuk " Seseorang terdengar berdehem dengan terbatuk-batuk. Aku menolehnya, dan betapa aku sungguh terkejut melihat pak Udin sudah berdiri di halaman rumah ku beserta kepala sekolah.
" Pak, pak udin??? " Ucap ku gelagapan tanpa menyapa kepala sekolah lebih dulu.
" Loh, kok cuma pak Udin aja yang di sapa. Bapak gak di sapa juga nih? " Ucap pak kepala sekolah.
" Eh, ma. . .maaf pak. Chella sedikit terkejut saja, sini pak masuk yuk. " Ajak ku dengan salah tingkah.
" Pak Udin atau bapak nih yang diajak masuk? Hahaha, "
Pak kepala sekolah menggodaku, entah sejak kapan dia jadi terlihat akrab dengan ku dengan sapaan nya yang menggodaku kali ini.
" Bapak aja, pak Udin gak usah. " Jawab ku cetus melirik pak Udin. Yang kemudian di tanggapi tawa mereka berdua mengikuti langkah ku menuju ruang tamu.
" Chella, ayah ibu mu ada dirumah kan? " Tanya kepala sekolah kemudian.
" Ada ibu saja, ayah masih bekerja. Mungkin sore baru tiba dirumah. Ada apa pak? " Tanya ku heran.
" Ada hal penting yang ingin bapak sampaikan pada mereka. Tentang mu. " Jawab beliau dengan wajah serius dan melirik pak Udin dengan senyuman yang semulai tadi diam-diam memandangiku selalu.
" Ten. . .tang ku??? " Tanya ku penuh kepanikan. Kenapa tentang ku? Ada apa dengan ku? Apa aku berbuat suatu kesalahan?
" Iya, pak Udin ingin melamarmu Chella. "
So what??? apa aku tidak salah dengar, hahaha gila. Pendengaran ku sepertinya mulai rusak. Aku terdiam tanpa ekspresi, menatap datar wajah mereka.
" Hahaha hanya bercanda Chel, kau ini. Apa kau begitu takut dekat dengan ku? " Kali ini pak Udin yang buka suara.
" Gak lucu ya Pak, ini semua. " Jawab ku cetus kemudian berlalu pergi hendak ku panggil ibu untuk menemani ngobrol dengan mereka.
Tak berapa lama kemudian, ibu datang dengan beberapa minuman segar dan cemilan untuk di suguhkan. Kemudian dengan ramah ibu menyapa dan menyambut mereka yang kini tengah berdiri melihat ibu ku dan berjabatan tangan.
" Halo apa kabar? " Sapa ibu ku dengan senyuman ramah.
" Kami baik, bu. Anda bagaimana? wah sudah lama tidak bertemu semenjak Chella lulus SMP ya, " Sapa pak kepsek.
" Halo bu, saya pak Udin. Guru komputer Chella di SMP dulu, sekaligus. . . "
" Bu, ayah masih lama pulangnya? " Jawab ku menyela ucapan pak Udin yang kemudian terhenti dengan senyuman meledekku.
Brengsek. Pak Udin ini kelewatan sekali, apa yang akan dia sampaikan pada ibu ku sebenarnya, membuat ku takut saja. Aaaarght. . . jangan lama-lama aja deh mereka ini dirumah ku. Aku jengah menahan rasa takut tidak karuan ini.
__ADS_1