Lingkaran Masa Lalu

Lingkaran Masa Lalu
Kembali Terulang, Ningsih. . .


__ADS_3

"Ciye yang mulai on terus di facebook" Maulida mulai meledek ku lagi.


"Hah. . . yah. . . sekedar penghibur saja. paling tidak kan guwe gak terlalu sedih putus dengan cowok breng*** seperti Angga" Jawab ku.


"Wo wo woooh. . . udah move on niye, jadi elu udah mulai kasian neh dengan air mata elu yang dibuang sia-sia buat cowok brengs*** seperti dia tuh??? Andai aja deket udh guwe hajar. Huh" Jawab maulida sembari mengepalkan kedua tangannya.


Haha lucu melihat nya bersemangat konyol seperti itu seolah lupa. . . jika saja Angga satu kota dengan ku, bukan kau yang menghajarnya Da. tapi guwe yang bakal merobek mulut nya yang semena-mena itu.


Aku mulai aktif di dunia maya, segala akun sosial media aku mengaktifkan nya. Bahkan ke sekolah pun aku lebih sering membawa handphone.


sesekali, kadang aku kepoin beranda Angga yang memang masih dengan status-status nya menyindir ku tanpa henti. hah. . . Masih saja aku kepo meski nyessek membaca semua status yang dia update di beranda facebook nya.


Dan. . . Dudut sii psikopath, Hampir setiap dimana ada kesempatan aku membalas sapaannya di mesenger, dia selalu menanggapi diriku dengan candaan, sesekali gombal, dan kau tau. . . dia benar-benar gockiel habis. Aku suka dengan gayanya yang selalu tetap tenang dan santai, dewasa, kecuali. . . dalam keadaan lapar dan ngantuk, dia selalu marah dan ngomel gak jelas. hihi, cute banged ketika sedang marah yang di bahas makanan khas di kota dan daerah lanjut desa kemudian kampung se indonesia. Kami mulai bertukar no Hp, wo woh. . . secepat itu??? iya dong. Awalnya niat kami hanya untuk saling menghibur kala kejenuhan menghampiri, dalam waktu seminggu saja. dia begitu peka dan memahami semua isi hati dan otak ku.


how wah. . . cowok idaman nih. pikir ku, tapi sayang. . . hanya di dunia maya.


----------------------


Bel jam istrahat aku dan maulida berjalan sembari bersenda gurau menuju kantin.


namun. . . Wati memanggil kami, untuk ikut serta bergabung dalam 1 meja bersama nya dan juga lucy yang sudah duduk manis sedaritadi.


Kami pun duduk bersama, ntah darimana obrolan kami di mulai begitu riang gembira ribut ramai gak karuan di kantin, haha. . . secara. . . kami jarang berkumpul begini saat di kantin.


"Wey pak .. . pak udin sini sini" panggil wati pada pak udin setengah teriak.


Seketika aku menoleh ke belakang, dan benar. . . pak udin sudah berdiri tegak di pintu lalu menuju ke meja kami.


Maulida menyenggol lengan ku, dan berbisik. . .

__ADS_1


"Awas lu hati-hati. . . jangn salting dan banyak omong. wati ini masih sepupu pak udin, dan sedikit ember" Kata maulida setengah berbisik.


Oh my God. sejak kapan mereka jadi sepupu??? kenapa aku baru mengetahuinya???


Pak udin sudah menghampiri kami, dan menarik srbuah kursi kosong untuk ikut bergabung dengan kami. yang kemudian duduk tepat di samping ku, Huhft. . . andai. . . andai waktu bisa ku hentikan saat ini juga, ingin rasanya kabur dari posisi ini.


"Ciyeeeee pak udiiin. . . Lama gak ketemu nih moro-moro udah mau tunangan aja.. . huhhuuuy" Wati menyapa pak udin dengan terkekeh meledeknya.


"Ah kamu nih, jangan ribut-ribut wati. . . suka sekali sebar gosip, cuma sekedar pertemuan antara kedua orang tua masing-masing saja kok, haha" jawab pak udin sembari tertawa dan melirik ku.


Sementara aku sama sekali masih tidak menyadari obrolan mereka, Aku mencoba menyibukkan diri dengan memutar-mutar sebuah sedotan di gelas minuman ku.


"iiih kenapa sih meski banyak yang tau kalo sudah begitu berarti udah serius tuh pak" jawab wati kemudian.


"Ya gak kejutan dong, Lagian Ningsih masih lanjut Study di Luar kota, jadi kami masih belum saling bertemu kembali" Jelas pak udin.


"Eh bentar, pak udin. . . mau tunangan??? sama. . . Ningsih??? Ningsih temen kita di SMP dulu kah???" Maulida menyeka obrolan mereka. Membuat ku angkat kepala seketika mendengar nama Ningsih di sebut.


Oh astaga tuhan. . . Kabar apa ini??? apa-apaan ini??? Pak udin akan bertunangan dengan Ningsih . . . temen sekolah kami di SMP dulu, dan juga merupakan murid pak udin dulu dong. . . gila. . . gila gak sih ini??? ah, pasti salah denger aja nih.


Maulida menggenggam tangan ku yang mulai meremas rok ku, dan berkeringat dingin.


"Iya. . . Ningsih temen kalian, dan murid saya dulu. haha.. . kalian pasti mau ngetawain bapak kan??? gapapa. . . namanya jodoh kan??? iya gak Chel. . .?


Aku terperanjat kaget dengan tanya nya tiba-tiba. Ku lihat pak udin memandang ku dengan senyuman sinis kali ini.


Heh. . . apa makSudnya??? Apaaa??? apaan coba??? kenapa jadi butuh pendapat ku hah??? Elu sengaja??? jadi elu puas gtu??? hai Mr. X


Aaaaaaarght. . .

__ADS_1


"Ah. .. eh. . . mmh. . . kalian cocok, Ningsih kan cantik, pintar, seksi pula, sedangkan pak udin juga cakep pinter, dewasa, periang, lucu, jenius banget" Jawab ku dengan tiba-tiba sontak membuat semua reflek terdiam memandang ke arah ku.


"Hoh. . . jadi Pak udin yang guru kamu dulu ini orangnya demikian ya Chel??? Wah. . . kalo gitu saya termasuk type cowok idaman dong??? tapi kenapa ya, seseorang malah pernah minta bapak menjauhi dia loh" Jawab nya sembari tersenyum.


Ku lihat tatapan mata nya penuh dengan kepuasan,


Hellooooooooooo. . . Chella. . . mulut elu tuh, mulut combreng elu tuuuuu. . . bisa gak rem dikit, bisa gak bersilat lidah dikit, bisa gak pura-pura diem kek atau apa gitu. . . Astaga. kali ini elu ibarat mancing di air keruh. elu gak prnah tau kalo di dalam air itu ada seekor buaya bakal lahap elu habis-habisan.


"Oh hahaha hahaha eh. . . wooh. . . bener tuh kata Chella. pak udin dan Ningsih pasangan yang serasi meski kalian dulunya sebatas murid dan guru, hahahha iya,iya. begitu kan Luc" Jawab maulida tiba-tiba dengan sedikit mencubit lengan ku.


Aw. . . Lucy tampak kebingungan. Namun tetap santuy,


"Hahahhaaa. .. iya iya bener itu, wah. .. selamat ya pak semoga lancar ke depannya" Jawab lucy kemudian.


Ku lihat wati masih melirik ku dengan tajam, kemudian bergantian melirik pak udin yang sedaritadi menatap ku dengan senyum-senyum.


Bel jam pelajaran akhir berbunyi. kemudian kami bergegas menunu kelas, ku lihat pak udin pun berjalan mengikuti kami dari belakang. Sementara, aku dan maulida di berjalan di depan pak udin, Pak udin terus memberi isyarat agar aku menoleh nya kebelakang. aku mengabaikan isyarat itu meski maulida terus menyenggol ku untuk memperlambat langkah kami.


Tiba di kelas. . . maulida menatap ku dengan tajam.


"Chel. . . Kalo elu mau nangis, yuk guwe anterin ke ruang perpus. seperti biasa, hehe"


"Apaan sih elu Da, siapa juga yang mau nangis??? emang kenapa harus nangis???" Jawab ku dengan cetus sembari memejamkan mata, ku pijit-pijit batang hidung ku.


"hmm . . . iya deh iya,,,, guwe luuppa'. Kalo sahabat guwe yang satu ini paling kuaaaat tegaaaar sabarrrrrr dan paling heeeebbaaaat dalam menutupi perasaan nya" Jawab maulida kemudian sembari melirik ku dengan senyuman.


Hah. . . Ntah lah, aku bahkan tidak tau harus meng-ekspresikan ini semua bagaimana.


Bahkan rasa patah hati ku belum usai ketika harus mundur dari perasaan pak udin, lalu kemudian dengan Angga??? pacar guwe, putus dengan alasan terburuk, kemudian. . . kali ini.. . pak udin. . . akan bertunangan dengan Ningsih, Yah. . . Ningsih teman se angkatan SMP ku dulu, Yang pernah berhasil melukai ku dengan kecentilannya dekat dengan Khery, yang tak lain juga merupakan murid dari pak udin sendiri, Aaaaaaaaarrrrrrrrgggggggghhhhgttttttttt. .. .

__ADS_1


Kenapa harus Ningsih???


__ADS_2