
Hari ini,ku dengar pertunangan pak udin dengan Ningsih sudah berlangsung tadi malam dengan resmi dan mewah. Yah. . . secara, mereka dari keluarga berada. jadi wajar saja bukan???
Sementara di sekolah, semua sedang membahas pertunangan mereka. berbagai ucapan, pujian, doa-doa baik dan konyol dari berbagai sudut sekolah hari ini. Ntah di kantin, di kantor, di taman, di perpus, bahkan di setiap pojok tidak ada satupun yang terhenti dengan tenang melainkan membahas pertunangan mereka. Bahkan kau tau??? Kini Ningsih sudah menjadi bintang kelas di sekolah nya diluar Kota, mendapat predikat siswi terbaik dan tercantik. yah. .. tetap tercantik.
Ntah kenapa, mendengar semua kabar yang meluas ini. . . aku sedikit terusik, ada rasa perih yang teramat pedih menusuk hati ku. Haha. . . konyol bukan??? Elu itu siapa chel??? Hahaha. . bahkan bathin ini ingin jua mentertawakan mu. Ayo lah. . . antara elu dan pak udin gak akan pernah bersatu. Elu cuma muridnya doang. .. elu di banding Ningsih??? elu apaan??? Pikiran ini terus mengganggu ku, bathin ku terus bergumam dengan sendirinya.
Kau tau??? Bahkan hari ini aku ingin memaki-maki pak udin, bisakah Ia enyah saja dari sekolah ini??? Tidak bisa kah dia sekedar memberi kabar, atau lewat pesan singkat. memaksa ku untuk memberinya selamat, meski itu benar-benar akan menyakitkan tapi paling tidak aku terbangun dari rasa sakit ini.
Sambil ku utak atik handphone yang sedaritadi ku genggam, jari ku terhenti di logo panggilan tak terjawab. Mata ku melotot di buat nya, Oh tuhan. . . aku gak salah liat kah??? Kenapa??? kapan??? kenapa aku tidak mengetahuinya??? atau bagaimana aku mengabaikannya??? Tuhaaaaaaan. . . aku ingin berteriak.
3x panggilan tak terjawab, Mr. X
pukul 03.15 Wita
Ingin rasanya aku berlari menemuinya kini, tapi. . . semua sudah terlambat bukan??? Bahkan aku tidak mengetahui maksud dan tujuan nya menelpon ku kembali di jam yang sama seperti yang dia lakukan dulu.
"Yak ampun tuhaaaan, jadi elu disini. . . daritadi guwe nyariin elu tau gak???" Maulida menghampiri ku, mengagetkan ku seketika, aku menyembunyikan handphone ku yang sedaritadi ku pandangi nama Mr.X tersebut.
"Eeeeh apaan tuh??? mulai mau main rahasia-rahasiaan ya ma guwe??? guwe marah nih. . ." Imbuh maulida lagi.
"Iiih. . . apaan sih lu Da, gak ada. . . sumpah gak ada rahasia-rahasiaan diantara kita chayang ku??? hehe" Aku menanggapinya dengan sedikit mencubit pipi maulida. Namun dia tetap menatap ku dengan tajam kali ini,
"Elu yakin gak ada yang elu rahasiain??? so,,, kenapa elu glagapan gitu nyembunyiin hp lu??? hayooo... ." Tanya nya lagi, lama ku terdiam. . .
"Hah. . . ntah lah Da, aku hanya tak ingin membahasnya, semua sudah terlambat bagi ku. . . untuk apa di bahas kembali" Jawab ku, Ku tarik nafas dengan panjang. serasa sesak di dada. . .
"Chel. . . tentang pertunangan pak udin kah???"
Aku mengangguk pelan, menanggapi pertanyaan maulida ini.
__ADS_1
"He'em. . . Pak udin. . . dia. . . menelpon ku jam 3 pagi tadi, dan aku sama sekali tidak tau kalo dia menelpon ku sampai 3x panggilan Da. . ."
"Ya ampun. . . berarti. . . berarti dia. . . wah. . . jangan-jangan dia berharap elu kasih ucapan selamat atau gak. . . sebuah pengakuan mungkin. . ." Jawab maulida kembali.
Dan. . . ntah, ntah darimana datangnya air mata ini. serasa panas kedua mata ku, bagai terpercik ulekan sambal mercon. panas sekali rasanya perih. . . mengalir begitu deras nya. Aku gak peduli setelah ini Maulida akan berpikir apa tentang ku, yang jelas dia memelukku dengan erat. aku semakin menjadi. . . menangis terisak dalam pelukannya. Sementara maulida terus menepuk punggung ku, sesekali mengelus lembut kepala ku. Ini terlalu sakit tuhan. . . bahkan lebih menyakitkan ketika aku harus putus dari angga. Hikst. . .
------------
Ketika hendak pergi ke kelas, aku berjalan menuju toilet. untuk membasuh wajah dan mata ku yang mulai lusuh dan sembab, setelah menangis tanpa henti sedaritadi. Aku meminta maulida ke kantin terdahulu, memintanya membelikan ku jus jeruk. Menangis tiada henti tadi membuat ku merasa haus dan lapar, tapi selera makan ku lagi ngambek alias mogok makan.
Aku masih memandang wajah ku, di kaca toilet.
Apa lu??? hih. . . dasar cengeng, elu lemah Chel. . . bukannya elu yang mundur dari perasaan ini??? so. . . kenapa elu sekarang nangis??? buat apa??? nyessel??? udah membuang perasaan pak udin begitu aja??? hah. . . elu munafik Chel.
Aaaaarrrrght. . . bathin ku terus bergejolak menanggapi ini semua.
Clingak clinguk mata ku berkeliling mencari cari maulida, belum sempat aku memanggil nya yang ternyata masih terlihat di depan kasir. . .
seseorang memanggil ku dari belakang, suara ini. . . sangat ku kenal.
"Chel. . . cari siapa???" Pak udin. . . yah. . . pak udin menyapa ku dari belakang.
Sontak aku menghindar begitu saja dengan reflek.
"Eh. . . ah. . . cari. . . maulida pak" jawab ku dengan gelagapan. Tuhan. . . . kenapa cobaaaaaaaa, harus ketemu pak udin dalam kondisi mata dan wajah guwe kek gini. haduuuwh pasti dia bakalan GR kalo liat mata guwe sembab habis nangis pasti bakal mikir guwe nangisin dia hari ini. meskipun. . . iya sih,
"Chel. . . kamu. . .??? " Pak udin mendekatkan wajah nya melihat ku. aku terus menunduk dan kemudian menjauh, aku benar-benar ingin marah sebelum ketahuan habis nangisin dia.
"Apa sih pak??? Saya gapapa, saya gak habis nangis, saya biasa aja, saya cuma sedikit ngantuk, oh iya selamat ya atas pertunangan bapak dengan Ningsih, semoga langgeng sampe kalian nikah. dan jangan lupa undangannya pak ya" Reflek mulut ini terus ngoceh tanpa henti, sejenak mata kami saling memandang.
__ADS_1
What??? Apa apan ini mulut??? astagaaaa. . . lagi lagi dan lagi. . . apaan sih lu Chellaaaaa. . . jawaban ini mah sama aja elu bunuh diri di depan pak udin, somplaaaaaak. Kebiasaan lu ya, sekarang mau kabur kemana sementara elu terjebak di tengah kantin gini, pintu keluar masih jauuuuh jauuuuuh sekitar 5 hektaaaarrrrr loh. Astagaaaa ini bathin kembali menerjang ku dengan berbagai ucapan sadis.
"Heh. . . saya gak tanya kenapa dan ada apa kamu hari ini Chella. . . tapi terimakasih sudah menjawabnya dengan jujur tanpa saya bertanya lebih dulu" jawab nya kemudian dengan nada puas.
Ingin rasanya aku memakinya detik ini, puas kan lu pak. . . puas kaaan??? ngerasa menang??? SELAMAT pak. Anda berhasil meluluh lantahkan tubuh ini sampai hancuuuurrr berantakan.
"Emang ya, dasarnya udah sok PD dan GR, tetep aja narsis. ini gak seperti yang bapak pikirkan. Jangan terlalu puas gitu deh pak. inget. . . bapak udah tunangan sekarang. tunangan bapak teman saya dulu, dan. . . MURID bapak juga, dulu" Jawab ku dengan cetus.
"Lalu. . . kenapa semalam kamu mengabaikan telpon bapak???" Tanya nya lagi.
kemudian. . .
"Chel, yuk ah masuk kelas sebelum pak Hasan masuk kelas duluan. bisa berabe, mmh. . . permisi pak udin, kami masuk kelas dulu. eh iya selamat ya atas pertunangannya dengan teman kami, Ningsih" Curcol maulida kemudian dengan senyuman kecut. haha ku tau kali ini dia ingin melindungi ku,
Aku melewati pak udin begitu saja. mengikuti maulida, menuju kelas.
"Chel. .. Chella. . ." Pak udin terus memanggil ku.
Aku menjawab nya dengan cetus
"Tauk ah"
Maulida menertawai ku dengan cekikikan. Meski dalam hati.. . aku ingin menjawabnya,
aku ingin meminta maaf padanya. . .
tapi. . . semua sudah terlambat.
semua telah. . . usai. . . .
__ADS_1