Lingkaran Masa Lalu

Lingkaran Masa Lalu
Ketidak sengajaan ini. . .


__ADS_3

Ini hari ke tiga, Ali masih cuti berada dirumahnya. di kota tempat ku tinggal, Dan kami kembali menggila di setiap ada kesempatan bertemu di waktu dan tempat yang mendukung kami untuk berduaan kemudian berciuman lagi.


Aku tau ini gila, sangat konyol, bahkan lebih menggila. Kenapa??? kenapa aku tidak bisa lepas dari hubungan terlarang ini??? Setiap harinya aku gelisah, menghadapi rasa takut yang berlipat ganda. Bahkan kau tau, keluarga Ali begitu sangat menyukai hubungan kedekatan ku dengan Ali. tapi tidak dengan orang tua dan keluarga ku, mereka menentang keras hubungan ini dengan alasan, kami masih bersaudara. Darah persaudaraan diantara kami begitu kental, oh tuhan. . . ini buruk. buruk sekali, sementara aku sudah berupaya menjauh namun pada akhirnya tetap kembali berlari dalam pelukan Ali.


Bahkan. . . Keberadaan Dudut di hari-hari ku tak lagi berpengaruh meski dia selalu menasehati ku ketika aku meluapkan segala kisah ini padanya, meski Dudut bersedia menjadi pelarian ku. Tapi usaha yang sia-sia, nihil. Bagaimana bisa??? Dia hanya di dunia maya, sedang di dunia nyata??? Ali tidak pernah melepaskan genggaman tangan ku.


Aaaaaaaarght rasanya aku ingin menghilang saja dari bumi ini.


Hari ini, di sekolah. . . ku lihat Wati sedang memain-mainkan ponselnya di depan ku, dia putar-putar ponsel nya, sesekali ketika berdering nada pesan dia tersenyum kecentilan sembari melirik ku dengan tatapan picik.


Heh. . . maksud lu??? ingin membuat ku cemburu??? dan elu mau pamer itu pesan dari Ali??? hahaha. . . Wati, kau memang teman ku, kita cukup dekat dan akrab satu sama lain, tapi aku tau. . . di balik semua itu, kau merasa tersaingi semenjak kedekatan ku dengan jojo dan Khery di SMP dulu. hanya saja, aku berpura-pura tidak mengetahui kelicikan mu itu agar kita tetap bisa berteman baik.


"Ciye. . . yang udah mulai jagain hp tiap detik" Lucy menggodanya. Wati tersenyum puas,


"wey wey. . . ketinggalan gosip nih guwe, siapa siapa siapa pacar barunya Wati???" Tanya maulida nimbrung.


"Iih belum pacar kok, baru Pendekatan aja. dia ngajakin guwe ketemuan, aaaaaah guwe gerogi duluan nih. . . " Jelas wati dengan genit.


Bathin ku. . .


Haha, terus aja lu kegirangan begitu. Lu gak tau sih, guwe dan ali udah kayak apa, elu yakin bisa bikin ali klepek-klepek dan mengganti posisi guwe di hati nya??? huhu. . . ingin ku tertawa guling-guling di lantai.


Aku hanya melihatnya dengan senyuman sinis, tapi jujur. . . aku mulai memaki Ali dalam hati. berani sekali kau mengirimi pesan pada Wati diam-diam di belakang ku hah? Awas aja nanti kalo ketemu.


---------------


Pulang sekolah, Aku bersama maulida menuju pintu gerbang sekolah. dengan canda ria kami saling kejar, hingga akhirnya. .. aku terkejut menghentikan langkah ku. ku lihat Ali sedang berdiri di dekat Motor yang ia kendarai.


Astaga, jangan-jangan beneran lagi. dia datang kesekolah untuk bertemu Wati.


Breng*** lu Li, guwe benci ma elu. tega lu ya, giniin guwe. . . rasa cemburu ini mulai timbul.


"Hai brow, udah lama gak nungguin???" Sapa Aril yang kemudian muncul dari belakang ku.


Ali tersenyum membalasnya,


"Ah enggak ko, baru 10 menitan lah brow"


Aku pura-pura cuek, melewatinya.


"Yakin nih mau pura-pura gak kenal dengan sepupu sendiri" sapanya tiba-tiba.

__ADS_1


Huhft. . . masih menganggap ku toh, pikir ku. Aku menghentikan langkah ku, kemudian memperkenalkan nya dengan maulida.


"Ooooh. . . jadi ini yang namanya Ali, hmm. . . ya ya ya, kesini mau ketemu Wati ya??? hihi" tanya maulida sembari cekikikan.


Aku mencubitnya, Ali tersenyum melihat tingkah ku.


"Mmh. . . sebebarnya sih enggak, cuma ingin tau sekolah baru sahabat-sahabat lama ku disini" Jawab ali sok cool sembari melirik ku.


"Yaudah brow, ayo cari Wati nongkrong dulu di kantin gimana???" Ajak Aril.


"Mmh. . . besok-besok aja deh, suasana lagi memanas nih. hahaha" Jawab ali dengan tawa. Aku tau, dia menyindir ku karena sedaritadi aku cuek dan sedikit manyun menggerutu dalam hati.


"Eh itu wati. . . watiii. . . hey sini. . . !!!" Teriak maulida kemudian memanggil wati yang baru keluar dari pintu gerbang.


Aaaaaaarght. . . brengs***. Maulidaaaaaaa gak paham banged sih ma hati ku kali ini, atau dia sengaja nih. Aku menoleh Wati dengan muka datar saja, ali menggenggam tangan ku diam-diam. Aku terkejut dan menepisnya, gak mungkin dong di depan semuanya demikian.


Wati menghampiri kami, dan. . . benar saja. Ali menyapanya dan memperkenalkan diri lagi.


Wati tersenyum kecentilan, sok manis dan lembut di depan kami. Ku lihat Ali tersenyum manis pada Wati, membuat ku merasa ingin sekali melahap mereka berdua. ku telan hidup-hidup, padahal di kelas, Wati adalah sosok yang sangat pecaaaaahhhhh. . .


"Yaudah sampai disini dulu, kapan-kapan kita meet up lagi" jawab Ali kemudian pamit untuk pulang.


Sementara aku terus berjalan dengan Maulida, Ali mengikuti ku.


Aku cetus menolaknya. Maulida mencubit ku, mendorongku untuk naik ke motor Ali. Terpaksa deh, kesempatan ingin meluapkan uneg-uneg ku.


Sepanjang jalan aku terdiam meski berkali-kali Ali mengajak ku berbicara.


Ali menelusuri jalan, bukan di jalan biasa menuju rumah kami.


melainkan ke taman tempat biasa, Aku mencubitnya.


"Ngapain lu ngajakin kesini siang bolong gini, panas-panasan lagi" Tanya ku dengan cetus.


Ali menghentikan motor dan memarkirnya begitu saja.


"Hati elu yang panas, ini cuaca mendung. adem tau, kenapa sih??? marah??? atau cemburu lagi???" Tanya ali dengan senyum-senyum.


Aku tetap cuek melewatinya berjalan menuju kursi taman di depan kami, aku terduduk menghempaskan tubuh ku dengan manyun. aku benar-benar kesal dibuat nya hari ini.


"Bi. . . jangan gini dong, guwe kan gak ada niatan ketemu Wati. tadi cuma janjian sama aril loh" Jelasnya dengan lembut sembari menggenggam tangan ku.

__ADS_1


"Tauk ah, terserah lu. kita kan bukan pacaran juga, ngapain kudu cemburu???" Jawab ku dengan marah.


Cup !!! Ali mengecup pipi ku.


Aku reflek menoleh nya, dengan wajah sedikit memerah. dia tersenyum genit menggoda ku,


"Guwe gak peduli apapun ikatan diatara kita kali ini" Jawab Ali kemudian dia mencium bibir ku lagi lagi dan ini terjadi lagi. dan. .. pada akhirnya, aku luluh. aku membalas ciuman Ali. Hah. . . aku sudah benar-benar gila, siang bolong gini, aku gak kenal lelah pulang sekolah menahan lapar dan haus ingin segera ketemu kasur, eh malah asyik ciuman sama ali. bisa bayangin betapa gila nya aku???


Puas berciuman, ali terus menertawai ku. aku sedikit mengangkat alis melihatnya,


"Kenapa lu???" Tanya ku masih dengan cetus.


"Haha gapapa, seneng aja liat elu udah mulai terbiasa dengan ciuman ini. bikin ketagihan tau gak??? rela deh elu marah-marah terus bi. . . asal imbalannya, ciuman bibir elu gak berpaling dari guwe" Jawab ali kemudian. Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa malu ku ini, aku berpura-pura buang muka dan melihat sekeliling taman. sedikit sepi, mungkin karna masih siang.


Dan pandangan ku tertuju pada pasangan yang sedang asyik bercumbu mesra di kursi pojok taman ini.


Sesekali, Si cowok mengelus lembut kepala si cewek. dan mencium keningnya, si cewek membalasnya dengan mengecup pipinya.


Aku sedikit tersenyum, dan tiba-tiba aku berdiri terkejut melotot memandangi seorang anak yang berlarian mengejar bola di dekat ku.


"Eh kiki??? kok disini??? bareng siapa???" tanya ku pada anak itu. Yah. . dia anak pertama dari mbak ningsih.


"Bareng mamah dan Om Angga. itu mereka disitu" Dengan polosnya anak ini menjawab sembari menunjuk ke sebuah kursi pojok pasangan kekasih yang ku pandangi sejak tadi.


Oh tuhan. . . aku terduduk kembali dengan lemas.


Ali panik, memegang bahuku.


"Bi. . . elu kenapa??? hey. . . kok tiba-tiba pucet gitu sih? terus anak kecil barusan siapa???" Tanya ali panik.


Aku masih terdiam, berpikir apa yang ku lihat tadi. . . kenapa begitu menjijikkan???


bagaimana bisa. . . bagaimana mungkin? Angga dan mbak ningsih. . . bermesraan berdua. Ya tuhan. . . tidak mungkin cerita yang sudah beredar di lingkungan rumah ku ini nyata, bahwa Angga dan mbak Ningsih. . . lebih dari sekedar sepupu saja.


"bi. . . bi. .. elu kenapa sih??? jangan bikin guwe takut dong??? elu kesurupan entar gimana???" Ali masih memanggil-manggil ku menyadarkan ku dari lamunan.


"Ali. . . boleh peluk???" jawab ku.


"Kenapa tidak??? malah harus dong di peluk???" hah. . . aku tidak tau harus bagaimana meng-ekspresikan ini semua. Aku hanya ingin memeluk sosok cowok yang di depan ku ini, yang selalu mampu menggetarkan hati ku, belum pernah mengkhiantati ku, bahkan aku yang menyakiti nya selalu berusaha lari dari genggamannya.


namun kali ini, di pelukannya. .. aku menahan banyak rasa muak dan jijik semakin ku benci Angga.

__ADS_1


Aku memeluk erat tubuh ali, wangi khas nya. . . menenangkan. . .


Ketidak sengajaan yang ku lihat tadi, semakin membuat ku percaya. . . betapa aku bodoh sudah pernah mencintai Angga sepenuh hati. dia benar-benar bukan cowok baik-baik dan bukan dari keluarga baik-baik, pikir ku.


__ADS_2