
"Mendekatlah!" Zidane menyuruhku duduk lebih dekat dengannya.
"Tidak Pak, saya di sini saja!" kataku.
Meski aku butuh, tapi aku bukan tipe wanita yang pandai merayu pria. Lebih tepatnya aku jijik dengan hal-hal intim semacam ini.
Zidane menuangkan wisky kedalam dua gelas pendek, tak lupa dia juga memasukkan beberapa es batu kedalamnya.
Dia mungkin sedang berharap aku bisa melakukannya saat kondisiku mabuk berat. Jaman aku kuliah dulu, aku pernah minum alkohol meski tidak baik untuk kesehatan, tetapi aku tidak pernah sampai lupa diri jika mabuk berat.
Apa aku bisa lupa diri malam ini? Sudah lama sekali aku tak minum, baiklah aku akan minum banyak malam ini. Aku ingin mabuk berat, sampai aku bisa memaksakan diriku melayani Zidane.
"Minumlah, sepertinya kau butuh sesuatu untuk hiburan," Zidane memberikan satu gelas wine yang ia racik padaku.
Isinya hanya seperempat gelas, jadi aku langsung menegaknya sekali telan.
Meski posisiku sedang meminum minuman keras, aku bisa melihat jika Zidane tersenyum sekilas karena tingkahku.
"Kau kuat minum?" tanya Zidane.
"Tidaaakk jugga!" aku terbata karena gugup.
Zidane meraih sebuah amplop besar di sampingnya, lalu meletakkannya dihadapanku.
Apa ini???
Dia memanggilku tengah malam seperti ini, hanya untuk pekerjaan...
Aku menghela nafas panjang karena merasa lega, tapi tiba-tiba aku merasa kecewa karena malam ini tak akan ada api yang menyala.
"Jika kau bisa menyelesaikan itu, aku akan mengabulkan satu permintaanmu!" kata Zidane tanpa keraguan.
Aku termenung melihat wajah Zidane, ekspresi mukanya sama sekali tak ada siratan kebohongan.
Semudah inikah aku mencapai tujuanku??? Apa Zidane benar-benar sudah mempercayaiku???
"Apa kau tak ingin melihat pekerjaan pertamamu?" tanya Zidane, dia membuyarkan lamunanku.
Apa pun tugasnya, pasti bukan tugas yang mudah. Sebelum aku merasa bahagia sampai ke surga, aku harus melihat dulu pekerjaan apa yang Zidane berikan padaku.
Dokumen Rahasia
Judulnya sudah membuatku ketar-ketir.
Aku membaca halaman pertama setelah judul saja langsung bisa menebak, apa maksut Zidane memberiku dokumen ini.
Dokumen Rahasia Penyelundupan senjata yang sudah lama dilakukan oleh Sadewo Arkana. Namun sudah 10 tahun Arkana tidak melakukan penyelundupan senjata lagi.
"Apa ada masalah?" tanyaku.
"Seseorang menyelundupkan sejata atas nama Arkana!" kata Zidane.
Aku seketika bingung, jika hal itu benar terjadi, Kak Brian pasti akan mengetahui sebelum Zidane. Karena setahuku, Kak Brian adalah orang yang paling dipercaya oleh Sadewo Arkana.
Kak Brian juga pernah bercerita padaku, jika tugas pertamanya dari Pak Sadewo adalah mengawasi gudang senjata ilegal di pedalaman Kalimantan.
__ADS_1
"Sejak 10 tahun lalu, sampai sekarang!" lanjut Zidane.
Sorot mata predator terpancar lagi di mata Zidane, seolah dia akan menelanku hidup-hidup.
"Tidak mungkin...,"
"Jangan membantah perintahku!" ucap Zidane dengan sangat tegas.
"Baik! Saya akan menyelidikinya!" kataku.
"Aku tak ingin kau menyelidikinya saja!" kata Zidane. "Aku ingin kau membereskannya tanpa sisa!".
Orang ini benar-benar pintar membuatku terprovokasi, Kata-katanya selalu pendek tapi membuatku takut.
Namun apa katanya tadi??? Zidane tak hanya ingin aku menyelidiki saja, tapi juga membereskannya. Apa ini artinya Zidane sudah benar-benar menaruh kepercayaan padaku.
"Anda janji, kan? Akan mengabulkan satu permintaanku jika aku berhasil membereskan ini?!" aku harus memastikan, jika Mafia ini bukan orang licik.
Aku adalah orang yang sangat pintar memanfaatkan sebuah situasi, apa lagi sekarang aku sudah punya celah untuk masuk.
"Apa pun permintaanmu akan kulabulkan!" kata Zidane.
Matanya kini berubah menjadi sedikit sayu, seolah dia sedang memintaku menuruti permintaanya.
"Baiklah, aku akan melakukannya tanpa kebisingan dan sangat bersih!" kataku dengan gayaku yang selengekan.
Wajah Zidane yang sangat serius masih melihatku dengan tatapan tajam, aku baru sadar telah melakukan kesalahan yang berat.
"Maksutku!" aku meralat perkataanku tadi. "Saya akan memberi kabar baik pada anda secepatnya!" kataku dengan tegas.
"Kalau begitu saya permisi!" ucapku, aku langsung berdiri dan berhambur menuju pintu keluar.
"Tunggu!" kata Zidane.
Suara lelaki itu terdengar parau, mungkin aku salah dengar. Tapi aku tetap berbalik, siapa tau ada hal lain yang ingin dia katakan padaku sebelum aku pergi.
Tangannya yang kekar menuang wine ke dalam gelas kosongku tadi, dia mengangkat gelas itu. Tapi tiba-tiba Zidane berdiri, dia berjalan pelan ke arahku sambil membuka beberapa kancing kemeja yang ia kenakan dengan tangannya yang lain.
Melihat tingkah pria gagah perkasa itu, membuat tubuhku susah bergerak.
Dia memberikan gelas berisi wine itu padaku, lalu menunduk, ia melihat wajahku lekat-lekat.
Apa ini, dia memberiku tugas ganda.
"Hadiah untuk tugasmu yang kemarin!" ucap Zidane. "Kau bisa menikmati tubuhku, aku tau kau menginginkanku!" lanjut Zidane.
"Hehhhh?" aku terbengong dengan kata-kata yang diucapkan oleh Zidane.
Dia menawarkan diri untuk dinikmati wanita, maksutnya apa???
Tangan kirinya meraih dokumen di tanganku, dia lempar sembarangan ke lantai. Lalu jemari tangan kirinya, dengan lembut menyibakkan helaian rambutku yang menutupi wajahku.
"Minumlah, aku sudah cukup mabuk sekarang!" kata Zidane.
Mata tajam yang mengerikan itu berubah satu dan agak kemerahan, pertanda jika Zidane sudah mabuk berat.
__ADS_1
Sekilas dalam ingatanku, aku melihat kejadian yang terjadi padaku 14 tahun lalu. Rasa sakit itu menyergap memenuhi renung sanubariku, sampai aku susah bernafas.
"Sebentar Pak!" reflek aku mundur dan menunduk menghindari matanya.
Ternyata aku masih belum bisa memaksakan diriku untuk menerima sentuhan mesra dari lawan jenis.
"Kenapa?" Zidane pasti kebingungan melihat rekasiku.
Dia menawarkan dirinya untuk menjadi budak nafsuku malam ini, tapi aku malah menghindarinya.
"Kau pacaran dengan Brian?" terlihat jelas Zidane bingung sampai-sampai menanyakan hal privasiku seperti itu.
"Tidak!" nada bicaraku masih gugup, karena aku belum sepenuhnya sadar dari bayangan rasa sakit yang kualamai 14 tahun lalu.
"Lalu, apa kau tak suka pria?" Zidane tampak sangat terpukul karena aku menolaknya.
"Aku suka priiiiaaa, kok!" kali ini aku terbata karena kaget, aku tak percaya penolakan ini berujung seperti ini.
"Lalu apa kau belum pernah melakukannya dengan orang lain?"
Aku mendongak, kupandang wajah Zidane yang memerah dengan tatapan sarkas.
"Aku hanya tak nyaman punya hubungan intim dengan bosku sendiri!" bentakku pada Zidane.
Lelaki itu mundur seketika. Apa dia takut padaku karena bentakkanku barusan.
Aku memanfaatkan kelengahan Zidane untuk kabur saja. Aku segera mengambil amplop dokumen yang dilempar Zidane ke lantai, lalu segera keluar dari kamarnya.
Tapi sebelum aku membuka pintu kamar Zidane, aku ingin memastikan sesuatu. Aku membalikkan tubuhku, kupandang lelaki gagah yang sedang merasa ternodai itu lekat-lekat.
"Jika aku melakukan tugas ini dengan baik, apa bapak bisa membunuh seseorang untukku?" tanyaku.
Aku tak ingin dia kaget untuk kedua kalinya, cukup penolakan malam ini yang membuatnya terguncang.
"Jadi itu tujuanmu datang kesini?" Zidane berkata seolah sudah tau siapa orang yang kumaksut.
"Bisa atau tidak?" aku kembali mengertaknya.
"Bisa!" dia juga menaikkan nada suaranya. "Manusia mana yang tak bisa kubunuh?".
Aku langsung tersenyum bahagia karena ternyata usahaku selama ini mengabdi pada Keluarga Arkana tak sia-sia.
"Kalau begitu... Selamat malam dan tidur yang nyenyak yaaa!" ucapku sambil membuka pintu.
Aku tak ingin berlama-lama di sarang Mafia ini.
.
.
.
.
Malam yang lebih menyakitkan dari kematian, satu-satunya malam yang ingin kulupakan. Sebuah kejadian yang membuatku tak bisa mempunyai hubungan normal dengan manusia pada umumnya.
__ADS_1
Jika aku bisa akrab dengan seseorang aku hanya berpura-pura, atau aku pasti tak bisa mempercayai orang itu.