
"Sakit Jane!" kata Boby.
"Kenapa kau bilang begitu ke Pak Zidane?" tanyaku.
"Karena aku mencium dulu gadis yang kusuka, baru aku merayunya!" kata Boby dengan polosnya.
"Di jaman sekarang hal semacam itu namanya pelecehan seksual, kau bisa dipenjara!" bentakku.
"Untung hal itu kulakukan jaman aku masih SMA dulu!" kata Boby, dia malah tertawa cengengesan.
"Bilang ke Pak Zidane itu bukan cara yang bagus! Jika sampai dia melakukan hal itu kepada seorang wanita dan dilaporkan kepada polisi, saham Arakana Grub bisa jatuh lagi!" kelasku.
"Kau saja--lah yang bilang! Aku harus cepat pergi karena aku diberi tugas lain!" kata Boby yang langsung pergi keluar setelah mengancingkan kembali kemejanya.
.
.
.
.
Aku pergi ke kamar Zidane karena aku ia panggil memalui pangilan telfon, aku pun langsung pergi ke kamar Zidane secepat yang kubisa. Lelaki itu bilang, ada sesuatu yang amat penting yang ingin dia bicarakan padaku.
Seperti biasa dia berdiri di depan dinding kaca kamarnya, dan memandang pemandangan di luar.
Di meja sudah ada banyak dokumen dan aku mengenali beberapa di antaranya, itu adalah beberapa tender yang dimenangkan oleh Kak Brian atas nama Pak Jendral.
"Jane, kau bisa membersihkan itu?" tanya Pak Zidane.
"Arkana mengunakan cara kotor untuk banyak tender, tak mungkin membersihkan semua dalam waktu bersamaan!" kataku.
Meskipun keluarganya sangat membencinya tampaknya orang ini masih ingin melindungi mereka. Aku tidak menyangka jika ada orang sebaik ini yang masih hidup di bumi yang penuh oleh kepalsuan.
"Bacalah dulu baik-baik!" kata Zidane.
Aku pun duduk di sofa hitam panjang itu dan mulai membaca satu persatu dokumen itu.
Tender taman hiburan di Singapura, dimenangkan oleh Arkana Grup tapi beberapa bagian kontruksi dikerjakan oleh perusahaan lain, perusahan cangkang yang tak jelas.
Tender gedung di Dubai, Jembatan antar pulau di Tokyo, dan masih banyak lagi. Ada satu perusahaan cangkang yang ikut membantu Arkana, Vano Company.
Kenapa ada nama perusahaan konstruksi lain di tender Arkana Grup, padahal Arkana juga mempunyai perusahaan konstruksi sendiri yang sangat dikenal oleh masyarakat dunia.
"Vano Company apa ini perusahaan Kak Brian?" tanyaku pasa Zidane.
Aku sangat mencurigai Vano Company karena tidak akan ada perusahaan luar yang berhasil memasuki Tender Arkana selama ini.
__ADS_1
"99% iya!" kata Zidane tanpa ragu.
Laki-laki orang ini sudah menyelidiki, tugas yang akan dia berikan kepadaku.
"Lalu apa yang akan bapak lakukan, pada Vano Company?" tanyaku.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Zidane.
"Kita harus menghentikannya, mungkin saja pelengseran anda kemarin hanya untuk membuat lubang agar perusahaan cangkang ini bisa dipublikasikan!
"Dilihat dari data yang ada, perusahaan ini dibangun dengan uang Arkana Grup!" kataku.
"Bagaimana jika perusahaan itu dibuat hanya untuk menjebakku?" tanya Zidane padaku.
Aku terdiam sejenak, aku mengingat sebuah kejadian di mana kak Brian tiba-tiba menyuruhku mencari tiket untuk dia pergi ke kota Bengkulu. Tapi dia naik pesawat ke kota Lubuk Linggau yang ternyata kota itu terletak di perbatasan Bengkulu dan Sumatra Selatan.
"Maksud bapak?!" tanyaku bingung.
"Bisa saja Vano Company tak akan dipublikasikan ke umum, sampai aku menemukan perusahaan cangkang itu!
"Mereka bisa saja menjadikanku kambing hitam, saat aku menyelidiki Vano Company!" jelas Zidane.
"Kalau begitu kita harus memusnahkan perusahaan cangkang itu secara diam-diam!" kataku.
"Apa kau bisa melakukannya, untukku?" tanya Zidane.
"Dana pembangunannya dari Arkana dan biyaya pemeliharaannya juga dari Arkana. Tapi hasilnya tak jelas, mengalir kemana!
"Jika publik diarahkan untuk mempercayai jika Vano Company adalah perusahaan cangkang yang anda buat, maka akan sangat bahaya bagi anda!" jelasku.
"Tapi saya bisa melakukannya, pak! Saya akan menghancurkan perusahaan itu!" kataku mantap.
Jika dugaanku benar perusahaan cangkang itu dimanfaatkan untuk menghancurkan Zidane untuk kedua kalinya, maka nama Brian akan semakin tercoreng di mata Zidane. Aku harus membuat Zidane begitu membenci Brian.
Hari kematiannya akan semakin dekat.
Tapi aku juga harus hati-hati bisa jadi perusahaan itu hanya umpan belaka, karena aku sangat tahu Brian adalah orang yang sangat licik.
.
.
Aku keluar dari ruangan Zidane dan pergi ke ruang Monitoring, Di sana aku menyuruh Meri untuk menelusuri perusahaan cangkang Vano.
"Pak Brian tak punya akses lagi untuk masuk ke Firma Arkana!" kata Meri.
"Benarkah?" tanyaku kaget.
__ADS_1
"Siapa yang melarangnya?"
"Pak Zidane, siapa lagi?!" kata Meri.
Aku hanya berusaha menyembunyikan senyuman puasku ditatapanku yang sedih, karena melihat data yang ditunjukkan Meri. Aku berdiri dan mencondongkan tubuhku di depan meja kerja Meri yang berisi tujuh komputer dengan layar menyala semua.
"Narkotika!" kataku terbelalak.
Aku bahkan tidak mempercayai apa yang baru saja kulihat di salah satu layar monitor komputer milik Meri.
"Keamanan di sana pasti sangat ketat!" kata Meri.
"Kau benar, tapi aku harus ke sana!" kataku.
Aku sedang memikirkan cara untuk memasuki tempat itu tanpa diketahui oleh Kak Brian dan Pak Jendral.
"Cari tau tempat itu secata detail dan katakan padaku apa yang bisa kau temukan!" kataku.
"Siap bos!" kata Meri.
Aku beranjak dari ruang Monitoring ke dapur khusus ruang Monitoring. Aku membuat kopi instan dan meminumnya di sana. Ingatanku menuju awal aku masuk ke sini yang tak boleh masuk ke ruang Monitoring ini.
Setelah dua tahun aku diberi khasus-khasus receh yang dengan mudah kumenangkan di persidangan. Aku baru diijinkan masuk ke sini dengan menandatangani kontrak hidup dan mati dengan Arkana Grup.
Aku menghela nafasku panjang, karena aku tidak bisa memikirkan cara untuk masuk ke dalam perusahaan yang diciptakan oleh Kak Brian.
"Mbak Jane! Pak Brian sedang menelfon ruang Monitoring!" kata seorang heaker ruang Monitoring.
Aku segera ke Ruang Monitoring dan memberi aba-aba untuk mengangkat telfon dari Kak Brian.
"Meri, apa Jane ada di sana?" tanya Brian .
"Tidak pak!" kata Meri tegas.
"kirimkan satu tim sapu bersih, Pak Jendral membunuh satu wanita di hotel Arkana!" kata Brian dibalik telfon.
Aku cukup terperangah saat Kak Brian bilang Pak Jendral melakukan pembunuhan, sedangkan Pak Jendral mungkin sedang dirawat di rumah sakit karena gagar otak akibat dipukul beberapa kali oleh Zidane di kepalanya, setelah rapat pemegang saham kemarin selesai.
"Baik pak, saya akan segera kirimkan!" kata Meri.
"Tunggu Meri, lacak apa Kak Brian masih di sekitar hotel itu?" tanyaku.
"Tidak ada, dia di Arkana Grup!" kata Meri yang langsung melacak keberadaan ponselnya Kak Brian.
"Aku yang akan ke TKP!" kataku.
.
__ADS_1
.