Mafia Hunter

Mafia Hunter
Menyusup Di Rapat Pemegang Saham


__ADS_3

Untung saja aku tak lagi bisa melihat Zidane, Mafia Eropa itu pasti sudah masuk kedalam mobilku.


"Pak Zidane punya alibi yang bisa di buktikannya, tentunya!" kataku.


"Jane, apa kau yakin!" tanyanya.


"Apa maksut Pak Brian?" tanyaku.


"Kau yakin Pak Zidane bukan pelakunya?" tanyanya.


Brian Devano pintar sekali kau menyembunyikan rasa takutmu menjadi khawatir.


"Tidak juga! Mataku ditutup oleh penjahat itu dengan kain! Jadi aku tak bisa melihat wajah penyerangku, karena itu sampai saat ini polisi tak dapat menangkap pelakunya!" kataku.


Meski sedikit, aku bisa melihat ekspresi lega di wajah Kak Brian yang masih pura-pura khawatir padaku.


"Sekarang Zidane bukan Eksekutif di Arkana Grup lagi! Jadi kau bisa kembali ke Firma Arkana besok!" kata kak Brian.


"Tentu saja!" kataku santai.


Yaaaa karena aku sadar Pak Zidane sudah pergi ke dalam mobilku sejak tadi.


"Tentang wanita tadi...!" kata Brian.


"Aku merasa harus mundur sangat jauh kali ini!" kataku,


"Mundur?! Apa maksutmu Jane?"


"Ya... Aku hanya merasa tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanita tadi!" kataku, aku pun melanjutkan langkahku dan melewati tempat berdirinya Kak Brian menuju mobilku.


"Kau cemburu?" tanya kak Brian.


"Kenapa aku harus cemburu?" tanyaku, aku mencoba ekting salah tingkah di depan Kak Brian sambil berlari cepat menuju mobilku.


Zidane yang sudah kursi dikemudi, jadi mau tak mau aku duduk di kursi penumpang.


"Harusnya kau memukulnya!" kata Zidane. Kami sudah berjalan cukup jauh dari hotel.


"Harusnya bapak tak memukulnya! d


Dia yang membuat bapak dilengserkan!" kataku.


"Darimana kau tau, jika semua itu ulah Brian?!"


"Jika dibandingkan khasus yang lain, khasus 14 tahun yang lalu itu termasuk kecil!

__ADS_1


"Hanya kasus itu yang tidak ada hubunganya dengan Arkana Grup dan hanya Kak Brian yang tau betul tentang kasus itu!


"Makanya mereka menggunakan kasus itu untuk menjatuhkan bapak! Tanpa Kak Brian, kusus itu tak akan terungka di kalangan Keluarga Arkana yang lain?!" kataku.


"Hanya Brian tau aku ditahan 14 tahun yang lalu! Dia bahkan tak menjengukku! Sejak saat itu hubungan kami rengang sampai sekarang!" kata Zidane.


Rapat Pemegang Saham


"Aku tak menyangka dia akan memanfaatkan khasus itu untuk menjatuhkanku!" kata Zidane, aku bisa melihat lelaki ini sangat kecewa.


Kekecewaannya sangat bagus, semakin banyak kesalahan yang dilakukan oleh Kak Brian terhadap Zidane hal itu membuatku memiliki peluang yang cukup besar untuk membuat mereka saling bersaing.


Meskipun sebenarnya aku tidak ingin melibatkan Zidane, tetapi Siapa lagi orang yang mempunyai kemampuan sebaik Zidane untuk membunuh seseorang.


Maafkan aku karena aku sudah memanfaatkanmu, aku sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi.


Kami sampai di garasi rumah Zidane, dan sudah ada beberapa pengawal yang sedang menjaga rumah besar ini. Zidane turun dan langsung menuju ke dalam rumahnya yang sudah di isi parabot baru.


Aku membantunya mengangkat belanjaannya ke kamarnya, dan menyusunnya di ruangan gantinya yang kosong.


Berapa banyak yang dia belanjakan hari ini, tak ada satu pun barang yang murah. Bahkan pakaian dalam juga bukan merek sembarangan.


Setelah selesai menata semua belanjaan Zidane di ruang gantinya, sesuai dengan tempatnya masing-masing aku turun dan tak mendapati Zidane, malahan aku menemukan Boby masuk ke rumah Zidane dari pintu belakang.


"Apa kau sudah makan Jane?" tanya Boby.


Boby duduk di meja makan dan koki di dapur yang sudah diganti, menyajikan makanan untuk Boby.


Mungkin terjadi sesuatu pada koki sebelumnya, bekerja di tempat semacam ini memang bergaji besar tetapi resikonya juga sepadan.


Karena hari telah sore dan aku sudah merasa gerah, aku pun lanjut mandi. Saat aku selesai mandi aku ganti baju dan melihat pesan di ponselku.


***


Pagi hari yang cerah, Boby mengemudi mobil Zidane, aku duduk di samping Pak Zidane dan memandang ke arah luar jendela mobil. Aku mengatur nafasku agar tak gugup, bukan gugup karena duduk bersebelahan dengan Zidane Arkana tapi gugup karena kami mau menerobos ke rapat pemegang saham Arkana Grup.


"Apa kau gugup?" tanya Zidane.


"Sedikit!" kataku


"Apa kau takut pada pacarmu itu?" tanya Zidane, laki-laki orang ini menyinggung tentang Kak Brian.


Rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan sesuatu yang keras, tetapi apalah dayaku yang hanya seorang babu baginya.


"Pacar?!" aku pura-pura tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Zidane.

__ADS_1


"Brian!"


"Kenapa aku harus takut dengan ba....dia!" ralatku, tak mungkin aku mengumpat Kak Brian di depan Zidane.


Kami sampai di depan gedung Arkana Grup. Suasananya sangat sepi karena aku yakin semua staf di gedung ini sedang fokus pada rapat pemegang saham.


Ada yang mengamankan rapat, ada yang sekedar hanya ingin tahu dan ada yang memanfaatkan situasi seperti ini untuk keuntungan pribadi seperti halnya kami.


Zidane mengenakan setelan jas biru tua yang sangat pas di badannya, sedangkan aku mengunakan setelan jas merah, karena aku merasa bersemangat pagi tadi. Sementara Boby setia dengan setelan jas hitam tanpa dasi selayaknya pengawal pada umumnya.


Kami seperti pasukan yang siap bertempur di medan perang.


Di depan gedung sampai ke lift tak ada yang menghalangi kami, aku meraba sisi kiri perutku dengan tangan kananku. Rasanya aneh ke kantor membawa pistol begini, tapi Zidane yang memaksaku dan memasangkannya untukku.


Saat kami masuk lift beberapa pengawal berjas hitam mengejar kami yang sudah di dalam lift, Zidane dan Boby hanya tenang saja sedangkan aku masih sempat mengejek mereka dari belakang pungung Boby. Karena mereka tak berani menghalangi kami karena melihat sosok Zidane.


.


.


.


.


Kami langsung menuju ruangan paling atas, di mana rapat pemegang saham Arkana Grup sudah dimulai. Salah seorang pengawal masuk ke ruangan rapat dan membisikkan sesuatu ke telinga Brian.


Brian tanpak sangat kesal dengan sesuatu yang dikatakan oleh anak buahnya itu, dia pun berdiri tanpa sopan santun dan meninggalkan ruangan rapat.


.


.


.


.


Kami keluar dari lift dan dihadang beberapa orang pengawal yang bertubuh kekar-kekar.


"Maaf pak, anda tak bisa me...!" belum juga pengawal itu selesai bicara, Zidane sudah memukul pengawal itu sampai tersungkur di lantai.


"Siapa pun yang menghalangiku adalah musuhku!" kata Zidane, tapi para pengawal bukannya mundur tapi bertambah banyak.


Aku juga tidak sempat memberikan pujian kepada Zidane yang ternyata sanggup melumpuhkan seseorang hanya dengan satu kali pukulan.


Akhirnya aku bisa mempratekkan ilmu beladiriku yang tak seberapa ini, aku sudah siap-siap dengan kuda-kudaku.

__ADS_1


Zidane dan Boby dengan gerakan sangat cepat melumpuhkan satu persatu pengawal itu, aku yang ada di belakang mereka hanya berjalan bak bos yang menendang remeh para pengawal Pak Jenderal yang sekiranya bisa bangun lagi.


Zidane dan Boby sudah menghajar 50 lebih pengawal, aku pikir semuanya sudah selesai sampai di sini. Namun tiba-tiba Kak Brian muncul di depan kami, dia membawa lebih banyak pengawal.


__ADS_2