
"Harusnya kau mendaftarkan diri menjadi bintang blue film! Ekspresi dan stamina--mu sangat mengagumkan!" ucapku pada Lukas.
Aku dan Lukas sudah duduk berdua, aku sebagai sopir dan Lukas duduk di sebelahku sambil menonton hasil rekaman kekasihnya yang ia bunuh semalam.
"Biarkan aku menyimpan ini!" kata Lukas.
"Sepertinya kau memang suka dimasukkan ke ruang Labirin Zidane!" bentakku pada Lukas.
Vidio di ponsel Daniel bahkan kualitasnya lebih bagus dari vidio dua tahun lalu, jika itu tersebar. Mungkin Lukas tidak bisa tinggal di Indonesia untuk selama-lamanya.
"Wahhhh... Sekarang kau punya senjata ampuh untuk mengancamku!" desah Lukas, ia melempar ponsel Daniel ke pangkuanku.
"Kita hapus saja! Jangan sampai siapa pun melihat ini, apa lagi Zidane!" ucapku.
"Kau perhatian sekali padaku! Atau pada kakak ku?" tanya Lukas.
"Entahlah... Aku hanya malas mendengar, orang membicarakan posisi bercinta--mu dengan lelaki, ketika aku makan siang di luar!" ucapku santai.
"Kau benar-benar!" Lukas pasti kesal juga, saat mendengar ucapan jujur ku.
Aku hanya diam saja, sebab aku merasa hari ini tak akan ada tragedi lagi. Jenasah Daniel sudah kuserahkan pada Tim Keamanan.
Aku membuat seolah-olah Daniel akan pulang kampung ke Bandung dengan sepeda motor. Naasnya pemuda itu dirampok di jalanan sepi menuju desanya. Dan kejadiannya akan diberitakan besok pagi, karena Tim Keamanan dan Tim Monitoring akan mengeksekusi rencana itu nanti malam.
"Kenapa Kak Zidane mengadakan rapat Keluarga, mendadak gini!" tanya Lukas padaku.
"Aku juga tidak tau! Kakakmu itu jarang sekali bicara pada manusia!" jawabku.
Aku sebenarnya menduga, rapat keluarga kali ini pasti ada hubungannya dengan berkas yang Zidane berikan padaku semalam.
"Kau benar!" pungkas Lukas.
.
.
.
.
Kami sudah sampai di depan Gedung Utama Arkana Grup. Gedung yang hanya bisa disambangi oleh orang-orang penting Arkana Grup saja.
Sebenarnya pertemuan semacam ini bisa dilakukan di kediaman Arkana, tetapi ada sebuah pertengkaran yang mencuat, ketika terakhir kali pertemuan ini di adakan di kediaman Pribadi Sadewo Arkana.
Apa lagi pertemuan ini diketuai oleh Zidane yang tak pernah dianggap sebagai pewaris Arkana Grup oleh para saudaranya.
"Jane apa kau tau julukan para karyawan Arkana Grup, dengan pertemuan macam ini?!" tiba-tiba Lukas bertanya padaku.
__ADS_1
Padahal kami sudah berada di area pintu masuk gedung terbesar milik Arkana.
"Jangan membuatnya sebagai lelucon!" aku membentak lagi pada Lukas.
Dari semua anggota Keluarga Arkana hanya Lukas yang punya selera humor bagus dan tak mudah tersinggung. Jadi sejauh ini, aku paling dekat dengan bocah gila ini.
"Kau tau, ternyata?!" Lukas tampak terkejut.
Bagaimana aku tak tau jika keluarga yang kulayani di sebut sebagai 'Rombongan Psychopath'.
"Kenapa kau tak menegur mereka?" tanya Lukas padaku.
Aku memandang sinis ke arah Lukas yang masih duduk di sampingku.
"Pekerjaanku amat banyak, sampai aku belum makan sebutir nasi pun hari ini! Dan kau memberi perintah tak masuk akal semacam itu?!" aku kembali geram pada Lukas.
"Maaf dehhhh, maaf!" ucap Lukas.
Kami menunggu antrian, sebab di depan kami ada mobil anggota Keluarga Arkana yang lain.
Ternyata di depan mobilku adalah mobil Zidane, lelaki itu tampak sangat karismatik meski hanya turun dari mobil. Kenapa Tuhan menciptakan makhluk sempurna seperti itu dengan tempramen yang buruk.
Memang betul semua pasti berada di porsi yang adil, aku faham tak ada manusia yang sempurna seutuhnya begitu pula dengan Zidane.
"Jangan bilang apa-apa pada Kak Zidane!" kata Lukas dengan wajah tegang, seolah yang dia lihat adalah hantu. Padahal kami sama-sama sedang memandangi Zidane.
"Semoga kakakku yang paling tampan itu, sedang dalam kondisi mood yang baik!" Lukas berdoa pada Tuhannya.
Keluarga Arkana beragama Katolik, bahkan Arkana punya beberapa gereja dan Sekolah Katolik di banyak tempat di Indonesia.
"Sepertinya dia dalam kondisi mood yang jelek!" timpalku dengan sepontan.
Entah kenapa aku malah memikirkan apa yang terjadi di kamar Zidane semalam.
"Jane! Jangan menakutiku!!!" Lukas memohon padaku dengan sangat ketakutan.
"Aku tak menjamin. Kupikir dia akan meledak hari ini! Harusnya aku tak santai seperti ini!" gumamku.
Aku sama sekali tak punya pengalaman bekerja dengan Zidane sebelumnya, jadi aku tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Zidane, jika lelaki itu sedang memendam hasrat seksual.
Aku hanya harus berhati-hati agar lelaki itu tidak menimbulkan kekacauan parah di Gedung Utama Arkana Grup.
......
Setelah mobil Zidane maju, aku keluar dengan Lukas. Kuserahkan kunci mobilku pada salah satu pengawal Tim Keamanan. Aku harus selalu berada di sisi Zidane karena aku adalah sekertarisnya sekarang.
Kami berjalan dengan beberapa rombongan Anggota Keluarga Arkana yang lain. Zidane hanya berdua dengan Boby, sementara di depan rombongan Zidane ada rombongan Putri tunggal Sadewo Arkana beserta suami. Di belakang Zidane ada aku dan Lukas.
__ADS_1
Kami berdiri di depan Lift bersama, tak ada yang bersuara. Padahal Nyonya Yahara dan suami punya hobi berceletuk tanpa pandang situasi.
Mungkin karena ada Zidane di tengah-tengah kami, makanya Nyonya paling dimanja oleh ayahnya ini hanya diam 1000 bahasa.
Saat pintu lift terbuka aku segera masuk, setelah Boby dan Zidane, namun Nyonya Yahara serta suaminya, apa lagi Lukas tak mau masuk bersama kami.
Akhirnya pintu lift tertutup, aku benar-benar merasa canggung berdiri di apit oleh dua lelaki kekar ini.
"Boby, kau persiapkan pertemuan!" perintah Zidane.
"Siap, Tuan!" ujar Boby.
Saat pintu terbuka, Boby segera meninggalkan kami. Sementara aku dan Zidane harus tetap di dalam lift menuju lantai paling atas, di mana kantor Wakil Pimpinan Arkana Grup ini berada.
"Bagaiaman masalah Lukas?" tanya Zidane padaku.
"Sudah selesai, Pak!" jawabku dengan tegas.
"Kenapa kau memanggil Brian dengan sebutan Kakak?" tanya Zidane padaku.
Aku sampai menoleh ke arahnya karena kaget dengan pertanyaan Zidane.
"Karena dia lebih tua dariku...," ucapku bingung.
Semenjak aku bertemu dengan Kak Brian di Tim Alpha aku secara reflek memanggilnya begitu.
"Bukankah kamu orang Jawa? Kenapa tidak memanggilnya Mas saja?!" tanya Zidane.
Aku masih bingung dengan pertanyaan Zidane, apa yang ingin lelaki ini sampaikan dengan bertanya hal absurd macam itu.
"Saya rasa, panggilan Mas kurang umum di sini!" aku tak bisa mencari alasan lagi.
"Coba panggil saya dengan awalan 'Mas'!" kata Zidane.
"Hehhhhh?" aku kaget setengah mati.
Orang ini, apa dia benar-benar menaruh hati padaku.
"Jujur aku merasa risih! Seumur hidupku aku tak pernah dipanggil seseorang dengan sebutan 'Pak'. Jadi itu mengganggu--ku!" jelas Zidane.
"Tapi saya yang terganggu jika harus memanggil anda 'Tuan', apa lagi 'Mas'! kataku jujur.
"Alasannya?" tanyanya.
"Saya tak bisa memanggil anda Tuan, hanya karena saya bekerja pada anda! Meski saya bekerja pada anda, saya bukan budak yang bisa anda perlakuan dengan semena-mena!
"Saya juga tak bisa memanggil anda Mas, karena kita tidak sedekat itu!" jelasku.
__ADS_1