
Mau tak mau Kak Brian menyerahkan tugas membuat kopi instan hangat padakumengunjung. Dia pergi dari dapur menghampiri Zidane dan duduk di ruang televisi. Mereka duduk di sofa yang sama, tapi saling berjauhan.
"Apa jalan-jalanmu menyenagkan?" tanya Zidane pada Kak Brian.
Meski jarak antara ruang televisi dan dapur cukup jauh, aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
"Anda pikir saya jauh-jauh ke sana hanya untuk jalan-jalan?" Kak Brian malah balik bertanya pada Zidane.
"Aku menganggapnya begitu!" kata Zidane.
Tampaknya Zidane tak mau kalah argumen dengan Kak Brian.
"Terserah saja, apa yang kau fikirkan!
"Tapi aku ke Eropa ada keperluan mendesak, yang tak bisa kuceritakan padamu!
"Lalu apa membuat bapak mengunjungiku sepagi ini?" tanya Kak Brian pada Zidane.
Bahasa yang digunakan Kak Brian saat berbicara pada Zidane sangat santai, ternyata bukan bualan belaka jika mereka sangat dekat dari kecil.
"Kenapa? Apa aku harus punya waktu tertentu, untuk mengunjungi saudarak?!" kata Zidane.
Aku sempat melihat ekspresi kak Brian yang seperti meremehkan dan agak kecewa dalam waktu bersamaan, saat Zidane bilang kata "saudaraku".
Apa mereka sedang bertengkar, ya tentu saja Zidane pasti sudah memeriksa file yang kuberikan padanya.
Zidane pasti sedang marah besar, karena penghianat di keluarganya adalah sahabatnya sendiri.
Aku mengantar dua gelas kopi yang kubuat ke ruang televisi, aku sajikan masing-masing satu gelas pada mereka berdua. Lalu aku kembali ke kamar karena mau mengambil tas tanganku.
"Bagaimana orang rendahan sepertiku bisa menjadi saudaramu Zidane Arkana?!" tanya Kak Brian,
"Karena aku mengangapmu saudaraku! Sejak dulu!
"Bahkan sampai sekarang aku masih mengangapmu saudaraku!
"Tapi jika kau tak ingin kusebut saudara lagi, terserah kau saja!" kata Zidane.
Aku mendengar suara seseorang beranjak dari tempat duduknya, lalu diikuti oleh langkah kaki yang makin lama makin hilang.
Apa Zidane sudah pergi ???
Aku keluar dari kamar Kak Brian, dia masih duduk di posisi yang sama dengan waktu aku menyajikan kopi. Tapi dia tampak memikirkan sesuatu.
Zidane sudah tidak ada di sana, dua cangkir kopi yang kusuguhkan untuk mereka tampaknya tak dijamah sama sekali.
"Kak aku pulang ya?" tanyaku.
Kak Brian memandangku dengan sorot mata kesal, tapi langsung berubah sendu.
"Mau kuantar?" tanyanya dengan suara yang seperti serak.
"Tidak, aku--kan bawa mobil sendiri!" jawabku berusaha sesantai mungkin.
Aku segera keluar dari rumah itu, menghampiri mobilku yang diparkir di luar pagar dari pagar.
Tubuhku tersentak karena mataku melihat Zidane bersandar manis di kab belakang mobil BMW ku.
Tanpa kata-kata kutepuk dadaku dengan tanganku keras-keras.
__ADS_1
Untung aku punya jantung yang sangat kuat, kalau tidak mungkin aku sudah pingsan dari tadi.
Lelaki itu kembali menatapku dengan sorot mata dinginnya, untung cuma sekilas jadi aku tak sempat membeku.
"Biar aku yang menyetir!" kata Zidane.
"Bapak nggak bawa mobil?" tanyaku.
"Aku menyuruh Boby pulang duluan!" kata Zidane.
"Tapi Bapak bisa...!"
Tanpa banyak kata lagi Zidane medekatiku dan mengambil kunci mobilku yang sudah kugenggam. Ia langsung masuk dan duduk di kursi kemudian, sementara aku hanya bisa pasrah pada keputusannya.
Bukan apa-apa aku cuma khawatir dia melakukan hal-hal di luar nalar. Karena aku yakin dia pasti salah paham padaku.
Aku muncul dari dalam kamar orang yang menghianatinya, alasan apa lagi yang bisa kubuat sebagai alibi.
Aku sudah terpojok di sudut dan hampir ditikam. Aku harus khawatir meski hanya satu pergerakan dari orang ini.
Aku hanya diam seribu bahasa di dalam mobil, dan memasang radar kewaspadaan lebih besar. Sementara Zidane tampak tak mungkin memgadakan perlawanan, karena dia sepertinya sangat fokus menyetir.
"Apa kau mendapatkan sesuatu?" tanya Zidane dia tiba-tiba menghentikan laju mobilku di pinggir jalan.
"Apa aku harus mendapatkan sesuatu darinya malam-malam begini?" bodohnya aku malah balik bertanya padanya.
Zidane memutar tubuhnya menghadapku dan secara refleks aku malah memutar tubuhku juga ke arahnya tanpa, tau dia juga akan berputar ke arahku.
Apa yang aku lakukan?
Apa aku mau mati?!
Apa yang sedang kubaca dari sinar matanya itu, rasa khawatir yang dalam terhadap diriku atau terhadap pilihanku.
"Jangan pergi ke sana lagi kalau begitu!" katanya, dengan jelas aku melihat raut mukanya menjadi gugup dan suaranya agak bergetar.
"Baik, Pak!" jawabku, aku juga mundur kembali ke posisiku semula.
Tangan Zidane terlihat meremas setir kemudi dengan kasar dan menyalakan mobilku lagi.
Saat sampai di garasi rumahnya, Zidane langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa memberikan kunci mobilku kembali.
Aku pun tak bisa apa-apa, tidak mungkin aku mengungkit meminta kunci mobilku padanya. Hari sudah hampir pagi dan aku akan menumpang di mobilnya, jika berangkat bekerja besok
Aku berjalan santai ke rumah yang kutempati, aku langsung masuk dan berbaring di kasurku.
Apa Zidane ke tempat Kak Brian hanya untuk menyapa???
Aku memang tak pernah melihat Kak Brian dan Zidane bicara akrab tapi kalau memang mereka punya hubungan baik, pembicaraan yang kudengar di rumah Kak Brian tadi termasuk jangal.
Apa mereka tau rencana satu sama lain?
Akan ada perang besar di Arkana Grup?!
Aku melihat ponswlku karena ada beberapa pesan masuk, siapa lagi kalau bukan pesan dari Kak Brian.
Apa kau sudah sampai
Kau tidak terluka kan
__ADS_1
Jane jawab aku
Jane apa aku harus ke rumah Pak Zidane sekarang
Jane tolong jawab aku, aku khawatir sekali
Aku mengetik dan menjawab pesan kak Brian.
Aku baik-baik saja, kakak tak perlu khawatir. Aku bilang pada Zidane kalau kita pacaran.
Aku berbohong supaya punya alasan untuk masuk lebih dalam ke kehidupan pribadi Kak Brian yang dulu sangat kuhindari.
Dia bilang apa
Dia bilang itu bukan urusannya.
Aku ngantuk, besok aku harus bangun pagi. Aku tidur dulu ya.
Tidurlah yang nyenyak, mimpikan kencan kita juga....
Aku memikirkan kamar yang ada di rumah Kak Brian lagi.
Apa aku harus pergi ke psikiater dan membuat ingatanku pada malam itu mwnjadi jelas. Karena aku hanya mengingat rasa sakitnya makanya aku jadi sangat ketakutan sampai sekarang. Serta tampaknya aku melupakan beberapa kejadian yang sesungguhnya.
Apa benar penyeranganku 14 tahun lalu ada hubungannya dengan Kak Brian, atau itu hanya kebetulan.
Hari itu aku menjalani aktifitas pagiku seperti biasa sebagai Sekertaris Zidane Arkana.
Aku membacakan jadwal Zidane yang cukup sibuk sampai malam.
"Pak hari ini saya meminta ijin untuk ke rumah sakit!" kataku setelah menyelesaikan membaca jadwal Zidane.
"Kau sakit?" tanyanya.
"Tidak, saya hanya akan ke pesikiater untuk menjalani terapi hipnotis!"
"Apa kau sedang tertekan?"
"Saya hanya berusaha mengingat sebuah kejadian, yang pernah kualami di masa lalu!" kataku.
"Pergilah ke rumah sakit, kapan pun kau mau!" kata pak Zidane.
"Saya sudah membuat janji temu sore nanti!" kataku.
Zidane mengangguk mengerti
"Apa semalam aku mengangumu dengan Brian?" tanyanya.
"Tidak, Pak!"
"Kau tampak jengkel padaku!"
"Apa bapak curiga padaku?"
"Aku tak pernah merasa curiga padamu!" kata pak Zidane.
Aku melihat bayangan Zidane dari pantulan kaca sepion di atas kepalaku.
Dia melihat ke jendela luar mobil dan meletakkan dagunya di tangannya yang bersandar di pintu mobil. Wajah maskulinya yang mulus tanpa cacat, dengan badan kekar tegap dan tinggi. Pria idaman semua wanita yang pintar dan kaya raya, serta sifatnya yang dingin tapi hangat di dalam.
__ADS_1
Aku tak menyangka, orang ini adalah batu loncatanku.