Mafia Hunter

Mafia Hunter
Nasehat Boby


__ADS_3

"Kucing? Apa itu tak terlalu imut?!" tanyaku bingung.


"Itu karena caraku berburu, aku akan mempermainkan mangsaku sampai aku lapar!" kata Zidane.


"Seperti Feri, bapak sudah tau dia berhianat--kan?" kataku.


"Kau cukup pintar!" jawabnya mengiyakan pernyataanku.


"Sudah waktunya kita beraksi!" kata Zidane yang langsung berdiri ketika melihat seluruh anggota keluarga Gubernur Jakarta sudah memulai memakan hidangan yang dihidangkan di depan mereka masing-masing.


"Maaf mengganggu!" kata Zidane Arkana yang langsung nyelonong dan mengangkat cucu lelaki Gubernur dari kursinya. Mafia itu menempati kursi sang cucu dan memangku cucu Gubernur itu, benar-benar pemandangan yang amat langka.


"Kalian pasti kenal saya--kan!" kata Zidane.


"Tentu saja, tapi jika ini untuk kontrak kontruksi Jakarta Palace, maafkan saya Tuan Zidane!" kata Gubernur itu tegas.


"Awalnya kontrak receh semacam itu tak penting, tapi sekarang jadi cukup penting!" kata Zidane.


Aku maju dan memberikan amplop-amplop yang sudah dinamai, aku hafal nama-nama keluarga Gubernur karena mereka sering muncul di acara berita terkini.


"Hermansyah adalah anak pertama anda, dia baru saja membuat perusahaan kontruksinya! Aku yakin dia akan menang tender Jakarta Palace!" kataku.


"Haikal menantu anda seorang pengembang di sandbox dia juga mengembangkan kemudi otomatis! Tapi baru beberapa bulan kan,selamat ya kau mungkin mendapat tender kemudi otomatis di Jakarta Palace!" lanjutku.


Aku bisa melihat setiap reaksi yang ditunjukkan oleh nama-nama yang kusebutkan. Mereka tersenyum meremehkan kami, karena mereka berpikir kami datang ke sini untuk menjilat mereka. Karena ini mendapatkan sesuatu.


"Tapi jika itu terjadi! Apa yang ada di dalam semua amplop itu akan keluar di media!" kata Zidane dia dengan santainya menyuapi cucu Gubernur itu dengan daging yang sudah di potong-potongnya.


"Enak?" tanya Zidane pada cucu Gubernur itu. Cucu lelaki itu hanya menampilkan senyum bahagia karena perlakuan lembut Zidane Arkana.


"Semoga apa yang ada di amplop itu tetap menjadi rahasia kalian masing-masing!" kataku.


Semua orang di sana yang menerima amplop sangat terkejut dan diam seribu bahasa. Setelah membuka isi amplop itu secara seksama.


"Kami akan menunggu sampai pagi, dan saya suka kabar baik!" kata Zidane. Dia menurunkan cucu Gubernur kembali ke kursinya dan pamit pulang dengan penuh rasa hormat dan diiringi lambaian tangan anak kecil itu.


"Cara anda benar-benar tak terduga, pak!" pujiku pada atasan ku yang kejam itu. "Mereka tak akan bisa mengelak dengan kesepakatan anda, bagaimana satu keluarga berisi sampah semua!" lanjutku.


Zidane hanya tersenyum penuh makna ke padaku yang memujinya.


Malam itu aku tidur dengan nyenyak sekali tapi tidak dengan Zidane yang terjaga sepanjang malam di depan komputer.


Pagi harinya kami mendapat kabar baik, Arkana Grup mendapat kontrak penuh atas pembangunan kota terapung Jakarta Palace.


.

__ADS_1


.


.


.


Rapat pemegang saham


Hampir semua pemegang saham memgacungkan tangan kecuali tiga orang, meski salah satu dari mereka memegang 15% saham Arkana tapi tak ada yang bisa menandingi saham 35% Zidane.


.


.


.


.


Sekarang


Zidane hanya diam sepanjang perjanan kembali ke rumahnya, aku serta Boby tak berani mengucapkan kata apa pun. Aku bisa melihat Zidane sedang tertekan, pasti banyak yang sedang difikirkan oleh orang ini.


Aku melihat ke arah Boby dan memandangnya lekat-lekat. Kalau-kalau dia pusing atau gimana kepalanyakan tadi terluka.


Tetapi aku tidak melihat ekspresi aneh dari wajah Boby. Pengawal nomor satu Zidane Arkana ini memang sangat perkasa dan kuat. Luka semacam itu mana bisa membuat Boby merintih kesakitan.


"Kenapa?" tanya Boby.


"Kau harus mengobati kepalamu dulu!" kataku.


"Aku tidak papa kok Jane!" kata Boby.


"Aku harus masuk sekarang, jangan sampai aku disuruh masuk ke dalam labirin!" kata Boby.


Aku pun menyerah dan melepaskan tanganku dari Boby, tapi aku menunggunya sampai dia keluar lagi. Aku memaksanya ke rumah kami, bagaiamanapun Boby terluka di kepala. Hal semacam itu pasti akan sangat berbahaya jika tidak cepat ditangani.


"Jane ini hanya luka kecil biasa!" kata Boby.


"Kau tau, ini cukup dalam!" aku pergi kekamarku untuk mengambil kotak medisku, setelah Boby duduk di sofa ruang tamu.


Aku duduk di sebelah Boby dan menyuntikkan bius karena luka Boby harus dijahit.


"Kamu yakin bisa?" tanyanya.


"Aku kuliah kedokteran dua tahun, sebelum aku kuliah hukum!" kataku.

__ADS_1


Aku menjahit luka di kening Boby dengan hati-hati, lalu menutupnya dengan membalutnya dengan perban.


"Bisakah kau melihat luka di perutku, sepertinya aku tadi kena tendang di sana!" kata Boby.


"Buka bajumu!" kataku.


Boby membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dada bidangnya yang sempurna. Luka sayatan bekas dia dihajar waktu Zidane dipenjara masih dibalut perban dan terihat darah merembes di perban itu.


"Kenapa kau memaksakan diri, sampai seperti ini?!" kataku marah.


Bagaimana mungkin seorang manusia bisa menahan rasa sakit karena luka selebar ini.


Aku segera membuka perban itu dan membersihkan darahnya dengan kasa yang kuberi cairan infus. Ada beberapa jahitan yang putus, pasti tendangan yang didapat oleh Boby tadi pagi sangat keras.


"Berbaringlah, biar aku mudah menjahitnya!"kataku. Boby segera berbaring terlentang di sofa dengan bantuanku.


Aku menyuntik lagi obat bius di area itu dan mulai menjahit luka Boby. Luka sabetan benda tajam yang menyobek kulit luar perut Boby dijahit beberapa hari lalu. Belum juga sembuh, jahitan itu robek karena tendangan kaki manusia.


"Hari itu kau pingsan karena apa?" tanyaku.


"Brian memukul kepalaku!" kata Boby.


"Kau harus hati-hati mulai sekarang jangan terlalu banyak bergerak selama tiga hari!" kataku.


"Jane kenapa kau memihak Pak Zidane?" tanya Boby.


"Karena Pak Zidane janji padaku tentang sesuatu!" kataku.


"Kau sendiri kenapa di sini?" tanyaku.


"Dulu waktu aku hampir dibunuh Brian, Pak Zidane menyelamatkan aku!" katanya sambil tersenyum manis.


Aku tidak heran jika Boby pernah mengalami hal semacam itu. Boby mungkin adalah salah satu pegawai di Tim Alpha, Kemungkinan dia melakukan kesalahan yang membuat Kak Brian kesal.


"Apa kau langsung jatuh cinta ke Pak Zidane!" godaku.


"Aku masih normal Jane!" belanya.


"Masa? Kau tahu bagaimana cara mengumandangi Pak Zidane itu?!


"Itu seperti Cinta yang amat suci!" godaku lagi.


"Aku memandangnya dengan perasaan hormat, bukan cinta!" ralat Boby. "Pak Zidane bertanya padaku bagaimana menakhlukan hati seorang gadis! Apa gadis itu kamu?" tanya Boby, dia malah balik menggodaku.


"Kurasa bukan!" kataku, padahal ya berharap. "Lalu kau bilang apa?"

__ADS_1


"Cium saja gadis itu! Jika dia membalasnya maka gadis itu bisa diambil hatinya, tapi kalau tidak...!" kutempelang kepala Boby dengan keras.


__ADS_2