
"Kau sudah menuruti usulku untuk terapi hipnotis?" tanya Pak Robet, dia yang sudah cukuran jengot dan potong rambut jadi tampak seperti manusia normal.
"Sudah kok pak!" jawabku sopan.
"Apa ada perubahan?" tanyanya.
"Tidak juga, aku hanya merasa lebih tenang sedikit saja Pak!" kataku bohong.
Aku mendapat panggilan dari Zidane.
"Benar ini alamatnya?" tanya Zidane, aku mendengar suara mobil memasuki halaman rumah mewah yang terbengkalai tempat kami bertiga bersembunyi.
"Iya, Pak! Saya bisa mendengar suara mobil bapak!" kataku.
Zidane datang dengan Boby dan Leo, Leo adalah seorang Heaker di Ruang Monitoring.
"Saya yakin Brian sudah memperketat penjagaan di dua tempat itu!" kataku kami berenam berkumpul di dalam rumah itu.
"Untuk di pertambangan, saya sudah mendapatkan aksesnya!" kataku memberikan sebuah kartu pada Boby yang akan ke pertambangan bersama Xia dan Pak Robet.
Karena dinilai kilang minyak mentah lebih berbahaya. Aku, Leo dan Zidane yang akan ke sana.
Kami harus bergerak cepat sebelum Brian dan Pak Jenderal menyadari pergerakan kami.
Mungkin saat ini mereka sudah menyadari pergerakan yang kami lakukan, tapi mereka pasti belum memikirkan cara bagaimana melawan kami jika besok urusan di tempat ini sudah selesai.
"Kau yakin Jane, penanggung jawab ke tiga tempat ini orang yang sama?" tanya Zidane.
Aku bisa menilai orang dengan cepat, apalagi aku sangat mengenal Brian. Brian biasanya akan menyerahkan sesuatu yang ilegal pada orang yang sanggup memimpin banyak orang.
Orang yang bisa menghabisi mangsanya dalam waktu sekejap, orang yang sangat kejam dan setia padanya.
Aku sempat melihat seorang pria berbadan tinggi besar, yang membantah beberapa perkataan dari penjaga pabrik CPO.
Aku yakin orang itu pasti yang dipercaya oleh Brian untuk menjaga ketiga tempat dimana Vano Compeny menjalankan bisnisnya.
"Benar sekali, pak!" kata Xia yang menunjukkan hasil retasannya di pabrik CPO.
"Ini Jane!" kata Xia yang berhasil membuat kartu masuk ke dalam kilang minyak.
"Penanggung jawab yang kau bilang itu, sedang menuju kilang minyak Xia!" kata Leo yang melihat ke arah labtob Xia.
"Kita harus bergegas!" kata Zidane, yang sudah siap dengan kostum hitam-hitam. Dia memakai topi hitam yang membuat wajahnya semakin manis.
__ADS_1
Aku tidak menyangka ada sisi semacam itu di diri Zidane yang amat kejam.
Kami mengunakan dua mobil dan berpisah menuju area masing-masing.
"Kau tak papa?" tanya Zidane sambil melihat ke arahku yang sibuk melihat pergerakan orang yang kami lacak di labtob.
"Saya tidak papa, pak!" jawabku singkat.
"Jane, apa kau yakin membantuku sampai sejauh ini?" tanya Zidane padaku.
"Saya sudah bilang akan berdiri di samping bapak, apa pun yang terjadi!" kataku.
"Sampai kapan?" tanyanya.
"Sampai kapan pun!" kataku mantap.
"Aku pasti akan sangat hancur jika kau menghianatiku nanti!" kata pak Zidane.
"Kenapa bapak berfikir saya akan menghianati bapak?" tanyaku.
"Hubungan saya dengan kak Brian itu bukan sebuah hal yang mutlak! Saya bergabung di Tim Alpha bukan untuk Kak Brian, tapi untuk janji bapak padaku waktu itu!" kataku.
"Maaf jika bapak merasa saya manfaatkan, tapi bapak harus menepati janji itu nanti!" jelasku.
Itu insting manusia, ketika dia ketahuan melakukan kecurangan dan mendapat hukuman mereka tak cenderung berhenti, tapi cenderung mempelajari cara yang lebih baik untuk melakukan kecurangan lagi.
Hanya beberapa orang yang sangat baik yang merasa bersalah dan memperbaiki diri setelah melakukan kecurangan, tapi hanya sedikit sekali yang seperti itu.
.
.
Aku dan Zidane masuk ke dalam area kilang minyak yang jauh dari kata nyaman. Jalan tanah dan bebatuan yang hancur, serta gudang yang di bangun asal-asalan tak sesuai setandarlisasi keamanan di kilang minyak, menjadi pemandangan yang merusak.
"Mereka bahakan tak mempedulikan keselamatan para pekerja!" kataku, kami turun di bagunan paling besar. Tempat di mana mobil-mobil pembawa minyak mentah ilegal keluar masuk.
"Kenapa mereka memindah minyak dengan truk seperti itu!" kataku heran.
"Tentu saja untuk menekan biyaya oprasional!" kata Zidane.
"Tapi itu bahaya sekali!" timpalku.
"Kurasa kita tak bisa mengunakan senjata api di sini, atau semua akan meledak!" kata Zidane.
__ADS_1
Dengan sigap aku mengeluarkan pisau lipatku.
"Ayo kita mulai!" kataku sambil tersenyum ke arah Zidane dan Leo yang berdiri di belakangku.
Kami mengendap-endap di dalam bangunan yang berisi drum-drum minyak bertuliskan perusahaan ternama negara. Aku bisa melihat ada beberapa orang berbicara di sana, dan di dekat situ ada ruangan dengan banyak komputer yang disekat dengan jeruji besi.
Kami bisa mendengar percakapan mereka, karena jarak kami bersembunyi tak jauh dari mereka.
"Cepat amankan area ini dan tutup semua pintu akses, kurasa mereka belum sampai di sini!" kata seseorang pria paruh baya berbadan tambun ke pada para pengawal di hadapannya.
Pria itu mendapat panggilan di ponselnya dan keluar dari gedung untuk mengangkat panggilan yang terlihat sangat penting itu.
Zidane keluar dari persembunyiannya dan membuatku kaget, dia berjalan santai ke arah jeruji besi yang dijaga dua orang pengawal berbadan sangat kekar.
Hanya dengan beberapa gerakan beladiri yang dilakukan Zidane, pada dua pengawal yang mencoba menyerangnya itu langsung terkapar.
Para Heaker di dalam jeruji tampak ketakutan, aku membuka pintu itu dengan kartu tapi tak bisa. Akhirnya aku ingat jempol kepala pengawal di pabrik CPO.
Aku mengelapnya dulu supaya darah-darah yang tersisa di jemplo itu hilang, para heaker yang melihat tingkahku itu langsung begidik ngeri.
Cekrek
Pintu terbuka, aku menyuruh para Heaker lari dan Leo segera mengambil alih komputer-komputer di sana.
Semua data terkirim ke Meri dan Meri yang ada di ruang monitoring segera mengerahkan semua heaker di sana untuk membuat sistem baru untuk menyimpan data perusahaan itu.
Xia menghubungiku di earphone.
"Di sini sudah selesai, apa kau perlu bantuan?" tanya Xia.
"Kami baru saja memulai, tapi tampaknya semua berjalan lancar !" kataku.
Aku dan Zidane berdiri di depan pintu jeruji itu seperti pengawal yang terkapar tadi untuk melindungi Leo yang sedang bekerja memindah data ke Ruang Monitoring.
Bos tadi masuk lagi dan tampak kaget melihat dua pengawalnya yang tergeletak di lantai. Lelaki itu pasti sudah menyelesaikan panggilan yang dia terima tadi.
"Hoyyyy kenapa malah tiduran di lantai begitu....kerja yang bener!" teriak bos itu pada dua pengawalnya yang pingsan itu.
Pak Zidane dengan karismanya mendekati Bos itu,
"Pak Dewanto ya?" tanya Pak Zidane dengan nada lembut.
Puakkkk
__ADS_1