
Daniel adalah pemuda yang polos, harusnya dia tak jeli jika akan melakukan kejahatan.
Tapi dengan cara ia tak membawa ponselnya ke TKP pembunuhan Lukas, hal itu menunjukkan Daniel punya rencana jahat pada Lukas.
"Jane! Aku menemukan lokasi terakhir nomor ponsel yang kau kirim!" kata Meri di panggilan ponsel kami.
Aku sengaja tak memutus panggilanku pada Meri, karena biasanya tak butuh waktu lama bagi Tim Monitoring untuk melacak sebuah nomor ponsel dan juga memanipulasi CCTV sebuah gedung.
"Dimana?" tanyaku pada Meri.
"Sebuah gedung kosan bernama Privilege Rose, Jakarta selatan," kata Meri.
Privilege Rose adalah nama gedung yang kini aku pijak, itu artinya ponsel Daniel masih ada di dalam kamar ini.
"Aku juga sudah berhasil masuk kedalam sistem keamanan gedung!"
"Masuk saja ke sistem CCTV mereka! Secepatnya cari riwayat bepergian Daniel!" perintahku pada Meri.
"Dia terakhir terlihat keluar dari kamarnya semalam pukul 10:36,"
Kata Lukas dan CCTV di hotel, Daniel tiba di hotel jam 10:59 mengunakan taksi. Artinya Daniel tidak punya waktu untuk mampir ke tempat lain.
"Apa ada orang lain yang masuk ke kamar kosan Daniel setelah dia pergi?" tanyaku pada Meri.
"Aku akan memeriksanya lagi!"
Apa aku yang terlalu overthinking, semua orang kuanggap sebagai penjahat. Semua orang seperti sedang mengincar untuk menyakiti anggota keluarga Arkana, mataku mungkin sudah buta.
Semenjak kejadian malam 14 tahun lalu itu, aku selalu melihat manusia lain dari sisi buruknya saja. Aku tak bisa memikirkan, ada manusia yang suka pada manusia lain hanya karena ketulusan.
Aku selalu berpikir, saat manusia bersedia dekat dengan manusia lain, mereka pasti punya tujuan tertentu. Entah sebuah manfaat akan keadaan, uang atau ketenaran, aku melihat dunia dengan kaca mata seperti itu semenjak 14 tahun lalu.
Kenapa aku tidak bisa melupakannya saja, kenapa aku tidak bisa mengikhlaskannya saja.
Memang ada banyak masalah yang kelihatannya tidak bisa di selesaikan, mati-matian untuk di selesaikan. Tetapi bisa selesai hanya dengan ketulusan dan keikhlasan.
Aku tau itu.
Tapi alam sadarku telah direnggut oleh orang itu, telah di racuni oleh orang itu dengan sebuah setikma. Jika rasa sakit adalah sebuah hukuman pada sebuah kecerobohan.
Usiaku kala itu masih 14 tahun, kenalaran saja pasti aku belum punya. Aku masih seorang gadis kecil yang tak bisa membedakan sesuatu yang jahat dan baik. Aku ceroboh karena aku tak belajar membela diri, aku ceroboh karena menikmati rasa kesakitan yang menghancurkanku.
"Tidak ada!" ucap Meri.
__ADS_1
Aku terperanjat akan sebuah kenyataan, karena lagi-lagi aku menemui seseorang yang tulus meski sudah disakiti tanpa henti.
"Ponselnya pasti masih di sana!" ucap Meri.
Jantungku seolah berhenti berdetak, jiwaku terasa tak menapak tanah, aku berguman dalam kediaman yang lama.
Karena aku mendengar bunyi dering ponsel.
Selama ini aku memandang dunia dengan selimut kegelapan, lalu sebuah cahaya perlahan menghampiri aku. Mataku masih terlalu beku untuk cahaya seterang itu.
Apa ini pertanda, jika aku harus menyerah.
Tidak, aku tak akan menyerah. Aku akan tetap memburunya, karena ternyata bukan hanya fisikku yang terluka oleh orang itu, namun juga mental dan kesadaranku.
"Jane! Kamu nggak papa?" tanya Meri padaku.
Aku tak menjawab Meri karena masih fokus dengan dering ponsel yang berasal dari almari.
Daniel bahkan tak mematikan ponselnya, apa maksut semua ini.
Aku membuka almari kayu itu, telingaku masih bisa mendengar deringnya, tapi mataku belum menemukan bentuk fisik ponsel Daniel.
Suara dering masih menggema liar di sana, instingku segera memacuku untuk membuka sebuah tumpukan baju.
Your My World LD
"Bajingan gila!" keluhku kesal.
Usahaku mengerahkan seluruh pasukan yang dimiliki oleh Tim Alpha hanya sia-sia belaka, karena Daniel hanya menyembunyikan ponselnya di almari pakaiannya.
Kupikir aku harus membunuh seseorang lagi ketika memulai khasus ini, namun nyatanya aku hanya harus membuat alibi lain untuk menutupi pembunuhan yang dilakukan oleh Lukas.
"Apa kau sudah menemukannya, Jane?" tanya Meri padaku.
"Sudah Mer. Akan kusambungkan ponsel Daniel ke alat penyadap, kau pecahkan kata sandinya!" perintahku pada Meri.
"Ok!" jawab Meri.
Aku segera memasang sehelai kabel USB yang baru saja kuambil dari dalam tasku, ke alat penyadap dan ponsel Daniel.
Sementara itu aku memikirkan cara terindah untuk kematian Daniel, selain untuk mengelabuhi publik tentang kebenaran kronologi pembunuh. Aku juga harus memastikan, Lukas tak akan terkena imbas apa pun dalam kematian Daniel kali ini.
"Sudah kubuka kunci sandinya Jane, kau bisa mengeceknya secara manual!" ucap Meri.
__ADS_1
"Baiklah!" aku memutus panggilan suaraku dengan Meri.
Pertama yang kubuka adalah aplikasi chat dan pangilan. Ternyata apa yang dibicarakan Lukas tentang Daniel, adalah sebuah kenyataan.
Hanya ada beberapa nomor ponsel orang lain yang disimpan oleh Daniel di ponselnya.
Lalu aku memeriksa akun media sosialnya, yang ternyata sangat biasa saja. Tak ada foto Daniel bersama Lukas yang sangat jelas, hanya ada tulisan-tulisan motifasi hidup yang sangat biasa.
Lalu aku beralih ke file penyimpanan, di sana ada banyak sekali file foto dan Video. Aku segera membukanya satu persatu.
"Apa yang ingin Daniel tunjukkan pada Lukas?" tanyaku bingung pada instingku
Aku yakin sekali, dengan ponselnya yang dia sembunyikan di tempat yang mudah dijangkau. Itu menunjukkan arti, jika seseorang yang menyembunyikannya ingin barang yang ia sembunyikan cepat ditemukan.
Satu-satunya manusia yang mempunyai akses penuh ke kamar ini, selain Daniel, adalah Lukas.
Aku segera menghubungi Lukas melalui panggilan suara.
"Apa kalian suka membuat video, ketika kalian bercinta?" tanyaku pada Lukas.
"Aku tak melakukannya kali ini Jane! Aku tak ingin mengulangi kejadian dua tahun lalu!" ucap Lukas.
Dua tahun lalu, pacar Lukas menyebarkan vidio mesum mereka. Alhasil semua orang di dunia tau jika Lukas adalah pria penyuka sesama jenis. Karena alasan itulah Lukas langsung didiskualifikasi atas haknya, menjadi Pimpinan Arkana Grup.
"Lalu Daniel membuatnya sendiri, tanpa sepengetahuan--mu!" ucapku.
"Apa??? Daniel merekam tanpa sepengetahuan--ku?!" Lukas terdengar sangat marah.
Artinya Daniel memang punya rencana buruk pada Lukas. Malam itu Daniel pasti tak mengira akan mati secepat itu. Jadi Daniel sudah menyiapkan amunisi untuk perang dengan Lukas.
Lelaki itu ingin lepas dari Lukas setelah kuliahnya selesai, tapi ternyata ada perempuan yang dia suka. Sehingga Daniel memutuskan untuk mengancam Lukas secepatnya, dengan video dan foto-fotonya bersama Lukas.
............
Sebuah pepatah pernah mengatakan.
Ibarat menolong anjing yang sedang terjerat.
Anjing yang dijerat, pasti punya pemilik. Sesuai sifat dasar Anjing yang setia, meski mendapatkan majikan baru yang baik.
Anjing tak akan melupakan majikan lamanya, meski sering menyiksanya.
Artinya, jangan mengambil sesuatu yang ditakdirkan bukan untuk kita.
__ADS_1
Daniel buka pria Gay dari lahir, jadi meski merasa nyaman dengan Lukas. Hasratnya kepada Wanita tak akan pernah padam.