
Pak Zidane terlihat juga habis mandi karena rambutnya masih basah, dia memgenakan piama panjang yang pasti harganya tak murah.
Aku membawa dua amplop dan Flashdisk yang kudapat dari Meri tadi sore.
"Apa kau sedang merayuku?" tanya Zidane, saat lelaki itu pertama kali memandangku memasuki kamarnya. Sepontan aku noleh kekanan dan kekiri, mencari seseorang yang mungkin berada di sekitarku, karena kehadiranku di sini sama sekali tidak ada tujuan merayu Mafia Italia itu.
"Maksut bapak, saya?" tanyaku.
"Bajumu!" katanya.
Aku memeriksa pakaian yang kukenakan, memang celana yang kupakai ini terlalu pendek, sepertinya tidak. Ada banyak model celana yang lebih pendek dari celana yang kukenalkan saat ini.
Tetapi aku tidak mungkin mengabaikan perkataan bosku, jadi aku memutuskan untuk berganti pakaian. Namun saat aku mau berbalik untuk keluar dari kamarnya, Zidane menghentikanku.
"Kau mau kemana?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Ganti baju, pak!" kataku lemas.
"Tak perlu! Duduklah di sini!" kata Zidane.
Kenapa dia mengatakan hal seperti tadi padahal dia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang kukenakan. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Zidane, sepertinya orang ini sedang dalam kondisi emosi yang labil.
"Lain kali jangan mengunakan pakaian semacam itu, jika hanya bersama seorang pria dalam ruangan tertutup seperti ini!" kata Zidane.
"Saya biasa seperti ini ketika malam hari!" jawabku santai.
"Boby melihatmu memakai pakaian seperti ini?" tanya Zidane, lelaki ini terlihat sangat terkejut dengan pernyataanku.
"Tentu saja, kami--kan tinggal di satu rumah!" kataku.
"Besok belilah kaus yang lebih tebal dan celana yang lebih panjang!" kata Zidane, dia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, lalu orang itu tampak mengetik sesuatu.
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan aku membukanya karena memang dari tadi aku menggenggamnya, aku mengucek mataku kasar, karena aku baru saja menerima pesan dari nomor bank.
Ini bukan mimpikan?!
Uang masuk dari rekening Zidane Arkana sebesar 200 juta rupiah, apa orang ini salah pencet?!
__ADS_1
"Sepertinya ini terlalu banyak, pak! Kalau buat beli kaus tebal sama celana panjang aja, bisa-bisa semanga dua kuangkut semua!" kataku.
"Terserah kamu mau beli apa saja, itu uangmu!" kata Zidane.
Aku hanya tersenyum senang baru saja mendapatkan rezeki nomplok. Memang apa yang yang dikirim Zidane padaku, bukanlah nominal yang sedikit jika dibilang sebagai uang jajan.
Uang ini pasti adalah sogokan agar aku menjalankan tugas yang dia berikan kepadaku dengan baik dan benar.
Sekali dayung banyak pulau yang kulampaui. Aku bisa mendapatkan uang sambil membalaskan dendamku pada Brian, Bukankah apa yang aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang sangat brilian.
Aku memasang Flacedisk di labtop Zidane, aku membuka data perusahaan cangkang Vano Compeny yang sudah diretas oleh Meri.
"Inti perusahaan ini terletak di perbatasan Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Bengkulu, diduga karena ke amanan dari pihak berwajib di sana cukup lemah, serta pemeriksaan dari dinas yang mudah di manipulasi!" kataku.
"Mereka terdiri di atas lahan pabrik CPO(minyak kelapa sawit mentah) yang menanam ganja secara ilegal di area pertanian mereka!
"Serta tambang batu bara ilegal, dan pengeboran minyak mentah ilegal!" lanjutku.
"Perputaran uang di Vano Compeny adalah 10 milyar dalam sehari!" pungkasku.
Lokasi Pabrik CPO Vano Compeny.
Aku masuk ke dalam pabrik mengunakan mobil mewah yang biasa dikendarai Kak Brian. Aku bisa mengetahui tentang hal ini, dari Meri yang berhasil meretas CCTV pabrik cangkang ini.
Karena aku mengenakan mobil yang biasa dipakai oleh pimpinan mereka, jadi semua orang menyambutku dan tampak sedikit bingung karena aku yang keluar dari mobil mewah itu bukan Brian.
"Mbak ini, siapa ya!" tanya salah satu pegawai di sana, dia mungkin pengawal yang bertugas mengamankan tempat ini, karena pakaian dan auranya mirip sekali dengan Boby.
"Kami adalah utusan Pak Brian, karena Pak Brian tak bisa datang ke mari jadi kami diutus untuk pemeriksaan rutin!" kataku.
Hari ini memang bertepatan dengan pemeriksaan rutin, yang biasa Brian lakukan di tempat ini. Kuharap mereka tidak terlalu curigaan dengan kedatanganku.
Aku datang tak sendiri, aku datang dengan Xia dan ayahnya yaitu Pak Robet.
Kami segera diajak ke ruangan yang mirip ruang Monitoring di dalam pabrik itu. Ruangan itu untuk mengakses CCTV setiap pergerakan di area bisnis ilegal Vano Compeny.
"Boleh saya memeriksanya sebentar, pak?" tanya Xia yang langsung diperbolehkan duduk di salah satu monitor.
__ADS_1
"Oh iya, Mas! Pak Brian memintaku melihat itu secara langsung!" kataku, mengalihkan perhatian pengawal itu dari layar monitor yang diperiksa Xia.
"Maksut mbak, ladang kentang?!" kata pria paruh baya yang sedikit bodoh, tapi tampaknya orang ini yang menjadi penanggung jawab di tempat ini.
Kak Brian adalah orang yang sangat teliti, tidak mungkin dia menyerahkan tanggung jawab tempat sebesar ini kepada seseorang yang bodoh. Pasti ada orang lain yang membantu pria ini menjaga tempat ini.
"Iya Pak! Ladang Kentang yang baru!" kataku.
"Yang baru?!" kata pria tua bodoh itu tampak sedikit bingung.
Apa aku salah bicara?! Gagal sudah jika aku salah bicara. Seingatku Meri memberiku informasi tentang lahan baru yang digarap oleh mereka, untuk menanam ganja.
"Tapi agak jauh mbak!" kata pengawal yang selalu mendampingi pria tua tadi.
"Nggak papa mas!" kataku dengan senyuman yang cantik.
Kami hanya pergi bedua dengan mengunakan mobil bergardan untuk sampai di ladang ganja yang cukup luas. Ternyata lahan kentang yang baru di buka, dibuat seperti lahan untuk pembibitan yang ditutup jaring hitam di atasnya.
"Wah mereka cantik sekali!" kataku, melihat tanaman ganja yang tumbuh subur di harap aku.
"Apa mbak bernama Jane Monika?" tanya pengawal itu. Aku memandang raut wajah waspada di sana.
Apa ini jebakan?!
"Ohhhh Mbak Jane Monika, yang memeriksa komputer tadi!" kataku.
Aku sangat yakin Kak Brian tau aku akan ke sini. Aku bisa menebak dia tak akan menyakitiku makanya aku bilang Xia adalah aku.
Tak lama aku melihat satu mobil penuh dengan pengawal menuju lokasiku.
Ada untungnya lokasi ini begitu luas dan tidak ada banyak pohon tinggi yang bisa menutupi pandanganku, jadi aku bisa melihat beberapa mobil yang penuh dengan pria kekar yang pasti bersenjata, menuju ke arahku.
Aku segera mengeluarkan pistol dari dalam jasku, tanpa aba-aba aku menembak kepala pengawal yang datang bersamaku. Karena aku mengunakan peredam di pistolku maka tak muncul suara tembakan yang mengelegar. Sulit untuk mereka yang baru datang mendeteksi keberadaanku yang berbadan kecil, bersembunyi di sela-sela rak pembibitan.
Aku menyeret mayat pengawal itu ke tempat yang tak terlihat, tak lupa aku mengambil pistolnya yang masih penuh dengan peluru pada selongsongnya. Aku segera memasang peredam juga pada pistol yang kuambil dari pengawal itu.
Aku menghubungi Xia Melalui earphones yang baru kupasan, jika aku memasangnya dari tadi pasti orang-orang di depan pabrik akan mencurigaiku.
__ADS_1