Mafia Hunter

Mafia Hunter
Lukas Arkana


__ADS_3

Rasa bersalahku pada Feri hanyalah setetes air dilautan, jika dibandingkan dengan traumaku karena kejadian malam 14 tahun yang lalu itu.


Karena ingatan malam 14 tahun yang lalu itu terpicu kembali, aku tak akan tidur dengan tenang jika tak minum obat tidur.


14 tahun mungkin sudah berlalu tapi kejadian itu seolah baru terjadi kemarin. Aku sama sekali tak bisa melupakan setiap siksaan yang dilakukan oleh orang itu. Rasa sakit dan putus asanya diriku, masih tergambar jelas di pikiranku.


.


.


.


.


Sarapan pagiku hari ini adalah sebuah pesan singkat dari Alan di Tim Alpha yang melaporkan jika Lukas sudah membunuh seseorang semalam.


Memang di luar nalar, perilaku setiap anggota keluarga Arkana. Hidup bergelimang harta sejak kecil, membuat mereka tak bisa menghargai nyawa sesamanya.


Anggota keluarga Arkana tak pernah menganggap ada manusia yang setara dengan mereka. Mereka menganggap diri mereka dewa mitologis yang patut disembah.


Semua orang harus tunduk pada mereka, jika ada beberapa nyawa hilang karena mereka anggap saja sebagai persembahan. Semacam itu pemikiran setiap Anggota Keluarga Arkana.


Nyawa manusia lain bukanlah sebuah hal yang penting bagi mereka, apa lagi nyawa orang-orang yang bekerja pada mereka. Mereka terkadang menganggap kami seperti pengemis yang meminta uang mereka secara cuma-cuma.


Mata mereka selalu merendahkan kami, makanya hanya orang-orang dengan mental baja serta pintar cari muka saja yang bisa naik ke posisi tertinggi di Arkana.


Namun itulah kelemahan mereka, mereka tak punya kewaspadaan karena mereka berpikir kesetiaan seseorang bisa dibeli oleh uang yang mereka punya.


Dari semua hal di dunia ini, hanya Tim Alpha yang tak bisa disentuh oleh Keluarga Arkana.


Tim Alpha dibentuk saat Pimpinan Husein Arkana masih hidup, Husein Arkana adalah pendiri Arkana Grup.


Kabarnya sejak awal berdiri, Tim Alpha memilih anggota mereka tanpa campur tangan Anggota Keluarga Arkana. Tugas Tim Alpha juga masih sama, yaitu menjaga dengan cara apa pun supaya Keluarga Arkana tetap aman.


Kak Brian juga ditunjuk oleh Pemimpin Tim Alpha sebelumnya, sementara dia menempatkanku sebagai wakilnya. Secara tak langsung Kak Brian menunjuku sebagai penggantinya.


Alhasi semua yang terjadi di Keluarga Arkana adalah tanggung jawabku sepenuhnya, saat Kak Brian tak ada ditempat. Meski aku sudah menjadi Sekertaris Zidane, tetapi aku masih bagian dari Tim Alpha. Zidane tidak bisa banyak menuntut aku, jika itu permasalahan pekerjaanku di Tim Alpha.


..... .....


Pagi ini aku tak sempat mandi lagi, aku harus secepatnya ke tempat Lukas Arkana melakukan pembunuhan.

__ADS_1


"Jane kau mau kemana?" tanya Boby.


Dia melihatku berlari kencang di dalam rumah dengan sepatu hak tinggi, seperti sedang dikejar hantu. Lelaki berambut pirang itu pasti bingung dengan tingkahku yang seperti itu, sepagi ini.


Namun aku juga tak kalah terkejut dengan setelan jas rapi Boby, tak biasanya Boby sepagi ini sudah siap kerja.


"Kau sendiri?" aku keluar dari rumah sebelum Boby.


"Kayaknya sudah menjadi kebiasaanmu, kalau ditanya malah balik nanya!" ujar Boby kesal.


Dengan kakinya yang panjang itu, dengan mudah dia mengimbangi langkah tergesaku menuju parkiran.


Tak ada waktu mengubris guyonan Boby, karena aku harus segera mengurus


"Nanti siang Pak Zidane akan mengadakan pertemuan Keluarga! Usahakan kau datang sebelum itu!" kata Boby.


Langkahku langsung terhenti, aku segera membalikkan badanku ke arah pria berambut pirang itu.


"Apa kau bilang?" aku tak menyangka Zidane akan bergerak secepat ini. "Memang apa tujuannya?".


"Ya mana ku tau,!" ujar Boby.


Pria ini memang sangat setia pada Zidane, setiap diperintah dia tak pernah menolak atau bahkan mempertanyakan alasan ia diperintah. Padahal semua tugas yang diberikan Zidane padanya, adalah tugas yang berat dan penuh resiko.


"Baiklah!" kata Boby.


Pria besar dengan kekuatan fisik luar biasa, tapi sangat polos dan amat patuh. Boby memang sosok yang menarik.


Entah dia punya tujuan rahasia seperti aku tau tidak, tapi seperti kataku, kesetian seseorang bukanlah sebuah hal yang bisa dibeli dengan uang. Jadi aku percaya Boby pasti punya alasan kuat untuk berada di sisi Zidane.


.


.


.


.


Setelah mengendarai mobil selama 20 menit aku sampai juga di Arkana Hotel Jakarta Selatan. Aku sudah tau no kamar yang ditempati Lukas, jadi aku langsung menaiki lift.


Karyawan di Arkana Hotel Jakarta Selatan ini sudah amat hafal dengan wajahku. Tempat yang paling sering ku kunjungi setelah Gedung Firma Arkana (markas Tim Alpha), adalah Hotel Arkana.

__ADS_1


Kebanyakan kesalahan fatal yang dilakukan Jendral Arkana, Yahara Arkana dan Lukas Arkana adalah di Hotel ini. Mereka seolah punya banyak energi untuk melakukan aktivasi seksual, tapi selalu malas-malasan jika sedang bekerja.


Memang jika ditelusuri secara silsilah semua pemimpin Arkana Grup punya setamina ranjang yang bagus.


Contohnya Husein Arkana punya dua istri, meski hanya punya dua putra. Satu istri satu putra.


Lalu Sadewo Arkana kabarnya juga punya dua istri. Istri pertamanya melahirkan tiga anak yaitu Jendral Arkana, Yahara Arkana dan Lukas Arkana. Lalu Zidane adalah putra dari istri kedua Pak Sadewo yang tak dinikahi secara resmi.


Semua itu bukan rahasia perusahaan, publik sudah tau semuanya.


Cerita tentang Zidane Arkana yang dibuang ke Eropa dengan alasan 'Anak Haram'. Dibesarkan oleh kelompok Mafia, tak diakui oleh Arkana, menjadi aib besar Arkana Grup.


Tapi tak ada satu--pun khasus yang berhubungan dengan wanita, yang berhasil menjerat Zidane.


Isu sebagai penyuka sesama jenis Wakil Presiden Direktur itu juga masih sering dibicarakan. Tetapi Zidane tampaknya tak terganggu akan isu itu, sebab sudah beberapa kali Kak Brian meminta Zidane menikahi seorang wanita, tetapi Zidane selalu menolak dengan keras.


Awalnya aku juga merasa curiga, Zidane benar-benar pria belok. Tetapi kejadian tadi malam membuat kecurigaanku terpatahkan.


Zidane normal, tapi permainannya rapi. Bahkan orang-orang di sisinya tak pernah tau jika Zidane bermain wanita juga.


.


.


Pemandangan pertumpahan darah di sebuah kamar hotel kini sudah berada di depanku.


"Kau gila!" desahku setelah melihat berapa berantakannya kondisi kamar hotel Lukas.


"Dari dulu, aku memang gila!" jawab Lukas santainya.


Lelaki gagah berambut merah cerah karena cat rambut organik itu tampak begitu santai. Wajah tampannya tak tergurat segaris dosa sedikitpun.


"Ceritakan kronologinya tanpa ketinggalan satu--pun!" pintaku pada Lukas.


"Dia datang sekitar jam 11 malam, dan aku sampai di sini setengah jam kemudian. Lalu kami bercinta di sana!" Lukas menunjuk ruang tamu kamar hotel ini.


Dua lantai paling atas Arkana Hotel hanya tersedia kamar dengan tipe Presiden suite. Bahkan karyawan biasa tak bisa masuk sembarangan ke lantai 27 dan 28 gedung ini.


Privasi dan keamanan di dua lantai ini sangat ketat dan moderen, hanya beberapa pelanggan tetap dari kalangan kelas atas saja yang bisa menginap di kamar-kamar presiden suite di lantai 27 dan 28 Arkana Hotel.


Bahkan tak semua Pemimpin Negara bisa menginap di sana.

__ADS_1


Kawasan elite dengan privasi dan keamanan gila-gilaan. Markas Tim Keamanan Arkana Grup yang dijaga ketat, bahkan lebih ketat dari penjagaan di Kediaman Pribadi Keluarga Arkana.


__ADS_2