
Zidane ditangkap polisi
Tubuhku terasa amat dingin sekali, seolah aku baru saja terbangun dari kematian.
Mataku akhirnya bisa terbuka, aku memegang kepalaku yang masih pusing. Aku mencoba duduk, seseorang membantuku karena tubuhku terasa sangat lemah. Aku bisa melihat wajah orang yang menolongku, dia amat cemas karena kondisiku.
Seingatku aku pingsan di lantai lorong rumah sakit, tapi sekarang aku berada di atas ranjang rawat dengan selang infus di tanganku.
"Kau tak papa, Jane?" tanya seorang lelaki dengan suara yang sangat kukenali itu.
"Kenapa kau di sini, bukankah kau harus mengawal Pak Zidane?!" tanyaku pada Boby yang sudah berdiri di depanku.
"Aku menelfonmu beberapa kali, tapi tak ada jawaban!
"Lalu suster disini menelfonku melalui ponselmu, dia bilang kau pingsan siang tadi dan belum siuman!" jelas Boby, dia duduk di sampingku dan memperhatikanku yang tampak melamun.
Aku ingat kalau aku baru mengingat hal yang sangat penting, ternyata dia ada di dekatku sejak lama.
"Kau tak mengawal Zidane?!" tanyaku pada Boby.
"Pak Zidane ditangkap polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap gadis di bawah umur, 14 tahun yang lalu!" kata Boby.
Aku melepas jarum infus di tanganku dengan paksa.
"Kenapa kau melepasnya?" tanya Boby.
"Aku harus pergi,untuk membantu Pak Zidane!" kataku. "Kenapa kau malah di sini?" bentakku.
"aku mencarimu!" jawab Boby polis
"Berdirilah! Antar aku ke kantor polisi begokkkk!" teriakku.
Sesampainya di kantor polisi aku segera menghampiri pak Zidane yang duduk di lantai dengan setelan jas berwarna navy.
Tak langsung berdiri, Boby malah memandangku dengan tatapan aneh, seperti ada banyak hal yang ingin dia katakan padaku.
Tapi aku segera menarik tangan bodyguard andalan Zidane Arkana itu untuk segera pergi dari sana.
.
.
.
.
"Saya akan jadi pengacara anda, Pak!" kataku pada Zidane yang masih terlihat cool meski berada di balik terali besi.
"Nona apa anda keluarganya?" tanya seorang polisi yang mendekatiku.
"Saya pengacaranya!" kataku dengan tenang, tapi aku tak bisa tetap tenang saat polisi itu memandang Zidane dengan tatapan meremehkan.
"Berani sekali kalian menangkap Zidane Arkana, apa kalian punya bukti?" tanyaku.
"Telepon genggam ini milik Pak Zidane Arkana dan ini ditemukan di dekat korban!" kata polisi itu.
Telepon genggam jadul yang ditemukan di dekat korban, kenapa aku tak mengingat ada telepon genggam semacam itu di daftar bukti.
"Jane aku akan menunjuk pengacara lain!" kata Zidane dari dalam jeruji, dia berdiri dari duduk santainya.
"Kenapa anda ingin menunjuk orang lain?! Sementara Pengacara Pribadi anda sudah ada di sini?
"Saya yang akan menagani kasus ini!" kataku kekeh.
.
__ADS_1
.
.
.
Aku sudah duduk di ruangan detektif yang bertangung jawab atas khasus Zidane. Aku memeriksa bukti yang dipunyai polisi sebelum menyangkal tuduhan mereka.
"Kenapa tiba-tiba ponsel itu ada di sini?" tanyaku.
"Dari dulu memang ada di sini!" kata Detektif itu.
Aku membuka tabletku dan membuka file tentang khasusku dulu. Karena khasus ini tujuanku masuk ke Firma Arkana, meski aku harus menyuap seorang jaksa agar mendapatkan file ini.
"Lihat, di sini bukti itu tak ada!" kataku.
"Kau...!"
Sejenak aku berfikir, kenapa pak Zidane bisa dituduh dengan kasus seperti ini. Bukankah masih banyak khasus lain yang lebih bisa membahayakannya.
"Apa salah satu keluarga Arkana yang menyuruhmu menangkapnya ?" tanyaku.
"Anda jangan asal bicara, Nona!?" detektif itu membentakku, seketika aku bisa melihat raut ketakutan di wajah detektif itu meski sekilas.
Apa yang sebenarnya disembunyikan para polisi ini?
.
.
.
.
Aku kembali ke sel di mana Pak Zidane ditahan untuk sementara sebelum ditetapkan menjadi terdakwa dan dia akan dimasukkan ke lapas.
.
.
.
.
Malam itu aku pergi ke rumah lamaku, aku meminta keluargaku agar rumah di biarkan seperti dulu dan aku menelfon Kak Kian untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
Zidane masuk penjara karena tuduhan palsu. Dia dituduh sebagai pelaku yang menyerangku 14 tahun yang lalu.
Aku merasa ada yang jangal dalam khasus ini. Tapi aku adalah korbannya dan aku sudah tau pelaku sebenarnya.
"Hallo, Kak!" sapaku.
"Bukankah di Indonesia sudah malam?! Kenapa kau menelfonku? Apa ada yang penting?" Kak Kian langsung mencercaku dengan banyak pertanyaan sekaligus.
"Kakak bilang, kakak mendatangi acara kampus dan menginap di rumah teman saat hari aku di serang, kan?!
"Apa kakak masih ingat Zidane Arkana?!Bukankah kalian seangkatan ?" tanyaku.
Sebelumnya aku membaca riwayat pendidikan Zidane di indonesia dan dia sempat masuk ke kampus kedokteran. Kebetulan kampus dan tahun masuk Kak Kian sama dengan Zidane, meski Zidane dikatakan keluar di semester dua.
.
.
.
__ADS_1
.
Sore itu Zidane digiring oleh polisi untuk pergi ke lapas karena sudah ditetapkan menjadi tersangka dan didakwa oleh Jaksa. Aku segera berlari dari mobilku ke arah para wartawan yang mengerumuni Zidane yang masih tampan meski menggunakan pakaian penjara.
"Berhenti!" kataku, pada detektif itu.
"Jangan menghalangi kami!" kata detektif itu.
"Ini, bukti kalau Zidane Arkana bukan pelaku penyerangan gadis SMA 14 tahun yang lalu!" kataku sambil menunjukan flasedisk.
Kami kembali masuk ke dalam ruangan introgasi, dan mereka memeriksa bukti yang kubawa dengan malas.
Usaha mereka untuk menjebloskan Zidane ke penjara, tinggal selangkah lagi. Namun aku malah membuat mereka memeriksa bukti yang bahkan tak ditemukan 14 tahun lalu.
.
.
.
.
"Zidane, kenapa!"
"Hari ini Zidane Arkana ditangkap, karena dituduh melakukan penyerangan kepadaku 14 tahun yang lalu.
"Alasannya hanya karena telepon genggam yang pernah kusebutkan itu muncul !" jelasku.
"Jadi pelakunya Zidane?!
"Tapi tidak mungkin, Jane! Aku melihatnya pulang dari acara sekitar jam 11 malam!
"Jika dia naik mobil pun, dia akan sampai di sana setelah jam 11!
"Bukankah kau bilang orang itu masuk saat hari masih hujan?! Tetangga bilang, hujan selesai sebelum pukul 10:30!"
"Apa mungkin, Zidane adalah orang yang memecahkan kaca kamarku dan menelfon polisi?" tanyaku.
Malam itu juga aku langsung ke kampus yang dimaksud kakakku. Aku menemui sekuriti di sana, ternyata mereka masih mengunakan kamera CCTV dari perusahaan yang sama sejak 15 tahun yang lalu.
Jadi aku bisa dengan mudah mendapatkan rekaman ketika Zidane meninggalkan kampus di malam 14 tahun lalu.
.
.
.
.
Aku menyodorkan lagi beberapa foto dari dalam tasku. Foto yang diambil di acara kampus dan di dalamnya ada foto Zidane yang tampak ceria.
Lelaki itu tersenyum seperti mahasiswa pada umumnya. Ia tak terlihat dingin dan kejam di foto-fito itu.
Detektif itu tampak kesal padaku, dan mau tak mau dengan semua bukti itu mereka harus melepaskan Zidane malam ini.
.
.
.
.
"Maaf telah membuat anda menginap di sini semalaman!" kataku.
__ADS_1
"Kau tak harus melakukan ini!" kata Zidane.
"Apa bapak tau korban khasus yang menjerat bapak ini adalah saya?" tanyaku.