Mafia Hunter

Mafia Hunter
Pak Sadewo


__ADS_3

Leo memgepalkan tangannya sementara aku hanya diam menunggu serangannya, aku bisa melihat dia melayangkan tinjunya dengan cepat. Anak ini ternyata terlatih.


Tapi aku juga bukan gadis lemah yang tak bisa beladiri, aku bahkan ikut pelatihan militer yang ketat selama beberapa bulan untuk sampai di titik ini.


Dengan mudah aku bisa menghindari pukulan-pukulan Leo dan aku menghentikan serangan Leo dengan memanfaatkan celah karena dia begitu emosional


Bruakkk


Aku berhasil memukul wajah Leo sampai dia tersungkur, aku bisa melihat darah keluar dari bibir mungilnya. Leo bangkit dan menatapku, dia tak banyak bicara seperti sebelumnya.


Aku menanti dia bangun untuk menyerangku, dia pun bangun dan kembali menyerangku kini dia mengunakan beberapa jurus beladiri yang lebih berfariasi. Aku bisa menangkis jurus-jurus Leo dengan mudah tapi dia membuatku terpojok mau tak mau aku harus menyerang balik Leo.


Aku menyerang dengan cepat di titik-titik fital tubuhnya, aku belajar ilmu ke dokteran dan ilmu beladiri di militer dengan Kak Brian. Aku yakin Leo belum pernah melewati hal semacam itu, jadi mudah bagiku melumpuhkannya hanya dengan tangan kosong.


Dengan sisa tenaganya dia memaksakan tubuhnya yang sudah cedera karena jurus-jurus andalanku, untuk berdiri. Tapi aku sudah tersulut emosi dengan apa yang sedang terjadi, berani sekali kau memanfaatkan bocah ingusan ini Kak Brian dan kenapa kau menghianati kepercayaan yang sudah Zidane berikan padamu Leo.


Kenapa begitu mudahnya engkau berpaling, apa tujuan memang dari awal kau tak setujuan dengan Zidane. Tetapi aku juga tak bisa menyalahkan Leo secara sepihak, karena aku suka melakukan banyak cara licik agar aku dapat membalaskan dendamku kepada Kak Brian. Namun tetap saja aku tidak bisa mengampuni Leo.


Kupelintir tangannya dan kubanting tubuhnya ke lantai sebelum dia bangun aku menaiki tubuh ramping tapi berotot Leo. Kupukul wajahnya berkali-kali, aku tak memandang ekspresi semua orang yang berada di sini, tapi aku yakin ekspresi kesal terpancar di wajah Kak Brian. Karena lagi-lagi kami berhasil menangkap tikus peliharaannya, meski kami harus kehilangan Pak Sadewo.


Aku memukul Leo tanpa henti sampai dia tak bergerak lagi, tetapi dia belum mati hanya pingsan.


Aku berdiri dengan tangan tangan kananku bersimbah darah, aku pun turun dan tak mengatakan sepatah kata pun. Aku berlari ke dalam mobilku dan menangis di sana, penyesalan ku yang menyesakkan hatiku aku baru tau aku hanya dimanfaat kan olehnya selama ini.


.


.


.


.


HARI INI

__ADS_1


"Pak Sadewo sudah pulang, dia ke vila memang untuk bertemu Brian!" kata Boby ketika aku keluar dari kamarku. Mataku masih lengket dan aku langsung masuk ke kamar mandi karena udah ke belet pipis.


Aku memutuskan mandi sekalian karena harus berangkat kerja juga, malam ini Leo tidur di kamar nomor dua yang letaknya tepat di depan kamarku. Seharusnya aku tak boleh membawanya kemari, tapi hilangnya Pak Sadewo membuatku bingung dan memutuskan sesuatu seenakku sendiri tanpa persetujuan Zidane terlebih dahulu.


.


.


Pagi hari ini begitu cerah dan gerah, karena aku dikelilingi oleh dua matahari sejak tadi. Aku sudah siap dan dua pria di hadapanku juga sudah siap.


"Kenapa Leo memakai seragam pengawal?" tanyaku pada Boby.


"Pak Zidane sudah mengijinkannya tinggal di sini!" kata Boby.


Kupikir aku akan menceritakan keberadaan leo kepada sidang saat kami berangkat ke kantor, tetapi Boby si tulang ngadu itu malah sudah lebih dulu melaporkan keberadaan Leo kepada Zidane.


Kali ini apa yang dilakukan Boby ada benarnya juga, aku tidak harus bersusah payah merangkai kata yang tepat, untuk berbicara kepada Zidane tentang keberadaan Leo yang tiba-tiba aku suruh menginap di rumah belakang,


"Makasih mbak Jane!" kata Leo.


"Kalau kita jalan berdua di mol, kayak abg pacaran lho!" kataku.


"Kayak tante-tante bawa berondong, nah iya!" canda Boby, aku hanya memasang wajah masam ke arah Boby.


Entah kenapa Boby akhir-akhir ini susah untuk diajak bercanda. Kami pun keluar bersama dari rumah itu, dan siap melayani tuan kami Zidane Arkana.


Hari itu berjalan seperti biasa, sorenya aku membuat janji bertemu Pak Sadewo yang ada kediamannya.


Aku sampai di rumah mewah dengan puluhan pelayan dan puluhan pengawal milik keluarga Arkana, Pak Sadewo keluar dari halaman belakang yang adalah taman dimana dia mengoleksi tanaman mahalnya.


Ruang tamu yang bak istana yang sangat luas dengan pemandangan air terjun di dinding-dindingnya dengan desain minimalis yang elegan dan asri.


"Kau sudah datang?" tanya Pak Sadewo yang sudah berusia 60 tahunan, tapi masih terlihat muda dan bugar di usianya yang udah lumayan tua.

__ADS_1


"Iya pak!" kataku sambil memberi hormat dengan menunduk.


"Ada perlu apa, kau jauh-jauh ke mari?" tanya Pak Sadewo.


Tak mungkin aku menjawab, kalau aku tau Pak Sadewo semalam menemui Kak Brian secara teeang-terangan.


Zidane mengutusku ke sini untuk memastikan, Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Pak Sadewo dan Kak Brian semalam, Selain itu aku juga harus memastikan keselamatan Pak Sadewo di kemudian hari.


"Saya hanya mampir untuk menjenguk Pak Jendral dan memberikan ini untuk anda!" kataku, aku membelikan Pak Sadewo jam tangan antik yang sangat mahal.


"Ini dari--mu?" tanya Pak Sadewo.


"Bukan Pak! Itu dari Pak Zidane!" kataku sambil tersenyum.


"Kupikir, dia terlalu kaku! Tak mungkin dia berinisiatif sendiri untuk memberikan ke sebuah hadiah!" kata Pak Sadewo. Aku hanya menjawab dengan senyuman saja.


Apa yang dikatakan oleh Pak Sadewo memang sangat benar, Zidane itu adalah pria kaku yang tidak peduli dengan sekitarnya. Apalagi membelikan sebuah hadiah untuk orang yang dia cintai, dia sibuk kesana kemari menebarkan Aura kejamnya.


"Tetapi tempatnya kau bisa mengambil hatinya!?" kata Pak Sadewo.


"Mengambil hati siapa, Pak?!" tanyaku.


"Zidane! Kau harus menjaganya baik-baik ya, jika nantinya kalian mau menikah! Aku pasti akan merestui kalian!" kata Pak Sadewo.


Pak Sadewo adalah orang yang terkenal humoris dan banyak bercanda, meski begitu dia juga orang yang tegas tapi suka ceroboh. Selama Arkana dipimpin olehnya hanya ada kemunduran.


Pak Sadewo bukanlah sosok pemimpin yang tepat bagi perusahaan sebesar Arkana Grup.


Tapi setelah Zidane masuk ke Arkana, Arkana semakin maju, bahkan lebih maju dari pada waktu dipimpin Pak Darma Arkana kakek dari Zidane.


"Pak Zidane lebih kuat dari saya, pak! Kupikir dia yang akan menjaga saya dan semua orang di Arkana!" kataku.


"Dia itu hanya bocah yang sok kuat! Sebenarnya dia itu lemah dan rapuh sekali!" kata Pak Sadewo, aku hanya terdiam dengan ucapan beliau.

__ADS_1


__ADS_2