
"Jika Zidane memerintahkan aku untuk menyingkirkannya, maka aku akan menyingkirkan Kak Brian!" jawabku sedikit ragu.
Aku berkata seperti itu karena aku yakin sekali jika Kak Brian tidak mungkin melakukan kesalahan yang membuatku harus menyingkirkannya. Kak Brian adalah orang yang sangat menghormati Arkana Grup sepi dari siapapun.
Maka dari itu Kak Brian tidak mungkin menghianati perusahaan yang sangat dia agung-agungkan ini.
Meri memandangku begitu intens dia sedang mencari keraguan dalam perkataanku.
"Ok!" kata Meri.
Sepertinya Meri menyetujui perintahku untuk mengirimkan semua data tentang penyelundupan senjata illegal yang dilakukan oleh Pak Jendral ke dalam laptopku.
"Jika nanti ada sesuatu yang mengganggu--mu! Kau bisa menghubungi--ku kapan saja, aku akan membantumu!" ucap Meri.
Bukannya aku merasa lega, tapi hatiku malah terasa ada yang mengganjal. Seperti dugaanku tugas yang diberikan oleh Zidane kepadaku, bukanlah sebuah tugas yang biasa saja.
Aku terus memperhatikan layar laptopku, saat Meri berusaha untuk mengirim semua file data yang dimiliki oleh Tim Alpha, mengenai bisnis haram Pak Jendral.
"Yang terakhir itu adalah data yang menurutku sangat penculikan!" ucap Meri setelah ia selesai mengcopy file data dari komputernya ke dalam laptopku.
Aku segera memeriksa file data terakhir yang dikirimkan oleh Meri kepadaku. Ternyata isinya tentang semua alamat penadah yang menerima senjata ilegal dari Pak Jendral.
Karena hari sudah malam aku memutuskan untuk memeriksa file data itu di rumah saja.
.
.
.
.
Meski aku hanya melihat sekilas tentang file data yang dikirimkan oleh Meri kepadaku, aku sudah bisa melihat kejanggalannya.
Aku jadi bingung sendiri, kenapa aku harus melaporkan hal itu kepada Pak Zidane atau tidak.
Karena jika aku melaporkan hal itu kepada Pak Zidane, tirani itu pasti akan menutup Pak Jendral dan Kak Brian yang melakukan kecurangan.
Tetapi jika aku tidak melaporkan hal itu kepada Pak Zidane. Maka aku yang akan dimasukkan ke ruang labirin, jika mafia gila itu tahu aku menyembunyikan sesuatu darinya.
Alhasil karena sangat kebingungan, aku berjalan mondar-mandir antara rumah Pak Zidane dengan rumah yang kutempati.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
Sebuah suara membuatku kaget setengah mati.
Karena aku berfikir semua orang sudah tertidur, kecuali beberapa pengawal yang memang ditugaskan untuk menjaga rumah ini. Aku juga yakin jika para pengawal yang masih terjaga itu tidak akan menggunakan perkataan sekasar itu untuk menegurku.
Belum rada rasa kagetku aku segera menoleh ke arah asal suara.
Ternyata orang yang menegurku adalah Pak Zidane. Tak seperti biasanya yang berpenampilan sangat rapi, kali ini Pak Zidane menggunakan pakaian yang cukup santai. Kaus oblong hitam dan celana panjang berbahan dasar katun berwarna senada.
"Sayaaaaaa!" aku tak tahu harus menjawab apa. "Bapak sendiri sedang apa?" aku malah balik bertanya kepada Zidane.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar!" kata Zidane.
Aku terpaku sejenak dengan visual Zidane yang amat santai ini. Rambutnya biasa ditata rapi, sekarang terlihat natural.
"Saya harus istirahat, selamat malam!" aku bermaksud untuk pergi dari hadapan Zidane.
"Bisakah kau ke kamarku sebelum kau istirahat?! Ada yang perlu ku bicarakan!" ujar Zidane dengan nada sungkan.
Dia harus sungkan, karena memotong waktu istirahatku hampir setiap hari. Namun aku juga tak bisa menolak perintah majikanku itu.
"Baik!" jawabku. "Tapi saya harus mandi dulu!".
Semoga saja.
Namun setelah mandi aku tak memikirkan tentang malam romantis bersama Zidane, tetapi aku malah memikirkan kematianku dan Kak Brian.
Sebelum mandi tadi aku sempat memeriksa File Data yang dikirim oleh Meri ke dalam laptopku.
Di File itu jelas sekali tertulis, jika ada beberapa penadah yang tak pernah ada dalam pasar gelap Indonesia.
Aku bingung harus bilang apa kepada Zidane. Jika aku menjelaskan secara rinci tentang penemuanku ini, aku takut tirani itu akan langsung murka.
Namun aku juga tidak bisa bertanya langsung kepada Kak Brian. Aku tidak tahu alasan Kak Brian membiarkan tanggal itu terjadi.
Tetapi bungkamnya Kak Brian akan kasus penadah asing ini, bisa dipastikan jika panutanku itu melakukan kecurangan terhadap Arkana Grup.
Aku memikirkan hal itu cukup lama tetapi aku tidak bisa menebak alasan pasti Kak Brian melakukan hal itu.
Jika Kak Brian menginginkan harta dan kekuasaan, bukan perkara susah membuat Arkana grup menjadi miliknya secara pribadi.
__ADS_1
Dia tidak harus melakukan kecurangan semacam itu secara diam-diam seperti ini. Semua anggota keluarga Arkana selain Zidane, pasti sangat setuju jika Kak Brian mengusulkan ide bisnis apa pun.
Apa sebenarnya intujuan Kak Brian melakukan hal ini.
Apa orang yang sudah ku anggap sebagai kakak kandungku sendiri itu, sedang menabuh genderang perang untuk Zidane.
Jika memang iyasin, kenapa dia membuatku berdiri di sini, di sisi musuhnya.
Karena terlalu banyak berpikir aku sampai tidak memperhatikan penampilanku.
Aku hanya menggunakan setelan piyama pendek dan rambutku hanya kukucir sanggul ke atas. Aku tidak punya waktu untuk merubah penampilanku, karena aku sudah berada di depan kamar Zidane.
Pasti tidak sopan bertemu atasan dengan penampilan seperti ini, tetapi lebih tak sopan lagi jika membuat atasan menungguku lebih lama lagi.
Saat aku memasuki kamar Zidane, lelaki itu sedang duduk sampai di salah satu sofa mewahnya dengan begitu menawan.
"Biasanya aku pandai menahan dirikendal!" ucap Zidane, lelaki yang kini berpenampilan seperti pria normal pada umumnya itu memandangku dengan penuh gairah. "Tapi akhir-akhir ini tampaknya aku mudah lepas kendali!".
"Hehhhh?!" aku langsung salah tingkah karena perkataan Zidane.
Zidane menghela nafasnya panjang, entah apa yang dia fikiran tentang aku kali ini.
Tapi aku sudah memutuskan, jika aku akan berdiri di sini Zidane jika Kak Brian ingin berperang.
"Tidak!" kata Zidane lirih. "Apa kau sudah menemukan sesuatu?" dia lanjut bertanya.
"Aku menemukan sesuatu!" kataku.
Aku mengajukan flash disk yang berisi copyan file dari Ruang Monitoring.
"Duduklah di sini! Aku ingin melihatnya!" kata Zidane.
Tirani itu menemukan sofa di sebelahnya, memberi isyarat kepadaku agar aku duduk di sampingnya.
Aku segera menuruti permintaannya, karena di dekatnya memang ada laptop yang bisa aku gunakan untuk membuka flash disk yang kubawa.
Aku tidak ingin basa-basi lagi dengan Zidane, jadi aku langsung menancapkan flash disk ke laptop dan aku langsung mencari file yang ingin aku tunjukkan kepadanya.
Tetapi aku langsung tersentak saat Zidane mendekatkan tubuhnya ke arah tubuhku. Sebab aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang mengitari area tengkuk dan leherku.
Seketika itu juga aku langsung ke arah Zidane. Mata kami saling menatap dengan penuh curiga.
__ADS_1
"Filenya sudah terbuka!" ucap Zidane, namun matanya yang tajam itu masih menatap mataku dengan begitu bermakna.