Mafia Hunter

Mafia Hunter
Insingku


__ADS_3

"Xia, kau sudah berhasil?" tanyaku.


"Kami sudah berhasil keluar Jane, kau di mana?" tanya Xia.


"Kau cepat pergi jangan pedulikan aku!" kataku.


"Jane!" pekik Xia.


Duuuuaaaar


Drudrudrudrudrudrudrudru


Mereka menghujani tempat itu dengan peluru yang terlontar dari senapan perang laras panjang, sementara aku masih jongkok di tempatku.


Si penyerang jarak jauh.


"Jane satu di kirimu!" kata Xia melalui earphones yang masih menempel di telinga kananku, ternyata dia sudah aman dan bisa menerbangkan drone ke lokasi bertempurku.


Aku langsung menembak pria yang muncul di kiriku yang membawa senapan laras panjang.


"Jane di belakangmu!" aku berguling di tanah dan langsung menembak seseorang yang berjalan di belakang persembunyianku.


Tembakanku yang tak pernah meleset dan tepat sasaran, latihan menembak seminggu sekali yang selalu kulakukan, akhirnya berguna juga.


Seseorang menyisir lagi area perkebunan ini dengan hujan peluru yang menderu seperti di vidio game perang yang banyak diminati oleh para bocil.


Kelihatannya seseorang yang membawa senjata besar itu adalah tukang pamer, berkali-kali dia mah hujan kan tembakan the sembarang arah tanpa berpikir.


Bagusnya, karena suara tembakan itu aku jadi tau posisi pemembak itu tanpa melihat.


Aku memanfaatkan jeda pada senjata laras panjang untuk memperbaharui selongsong peluru, aku menembak dua kali ke arah pria itu tanpa melihat.


Darah menyembur dari dada pria bersenjata laras panjang dan terkulai di tanah, para kawan-kawannya maju dengan tanpa peduli lagi, nafsu mereka untuk membunuhku sudah tak bisa ditahan lagi tampaknya.


Aku membuka beberapa kancing atas kemejaku, agar aku bisa leluasa mengambil peluru yang sudah kusiapkan di blet tempat peluru yang melingkar di pingangku.


Mereka menembak ke sembarang tempat karena aku sembunyi di bawah pot-pot tanaman ganja yang ukurannya cukup besar ini, aku dengan cepat dapat membaca lokasi mereka tanpa aba-aba dari Xia karena instingku cukup tajam.

__ADS_1


Sudah banyak yang terjatuh di sana.


"Jane arah jam tiga, sedang menganti peluru!" Kata Xia, aku segera memicingkan mataku di antara rimbunnya tanaman ganja ini.


Aku melepaskan pelatuk pistolku, seketika tembakanku tepat dan pria itu terkapar di tanah.


"Tinggal dua orang lagi Jane, di arah jam 11!" aku menganti selongsong peluruku dengan yang penuh dan aku berjalan menunduk untuk mengindari mereka menembak secara acak seperti tadi.


Aku berdiri, dan mengarahkan peluru di kedua pistolku ke arah dua pria di depan dan di samping kananku.


"Selesai Jane!" kata Xia lega.


"Belum!" kataku.


Aku memeriksa semua pria-pria sekarat itu untuk mendapatkan akses masuk ke area tambang. Aku menemukan kartu masuk ke area tambang di salah satu leher para pengawal itu. Saat kuperhatikan bredcodenya cukup rumit pasti akses ke ruang rahasia harus mengunakan sesuatu yang lebih rumit lagi.


"Maaf ya pak! Ini untuk jaga-jaga!" aku mengambil pisau lipat di belt yang melingkar di pinggangku, lalu aku memotong jempol tangan pengawal itu dan kusimpan benda berlumuran darah itu dengan sapu tangan.


.


.


Tak ada rasa takut meski banyak manusia sekarat di sekitarku, darah yang mengucur dari berbagai bagian tubuh mereka seolah menjadi kata-kata semangat karena kemenanganku.


Tapi aku tidak bisa menikmati pemandangan ini lebih lama lagi, karena bisa-bisa aku ditangkap oleh Brian.


Aku memacu salah satu mobil berjenis jeep yang digunakan para pengawal itu untuk datang ke sini beberapa saat lalu. Aku tak mungkin jalan kaki untuk keluar dari tempat ini, hal ini juga untuk meminimalisir serangan baru. Brian pasti punya pasukan lebih banyak dari pada ini.


Aku diarahkan oleh Xia menuju arah perkebunan kelapa sawit yang lebat. Selama hampir 15 menit aku memacu mobil ini melalui jalanan tanah merah yang licin. Akhirnya sampai juga di jalanan aspal, di sana sudah ada mobil Xia yang menungguku.


Penampilanku yang acak-acakan menjadi bahan tawa canda oleh Xia, ketika aku masuk ke mobil.


"Nona Jane yang cantik sempurna! Jika cowok-cowok melihat penampilan kamu sekarang pasti--lah langsung ilfil!" kata Xia.


"Bido amat!" ujarku.


Pak Robet segera memacu mobilnya menuju sebuah bangunan tua yang tampak tak terurus di pinggiran kota Lubuk Linggau.

__ADS_1


Ternyata di dalam bangunan terbengkalai itu cukup lengkap dengan beberapa furniture rumah, tempat itu juga tampak nyaman meski agak kotor. Aku langsung mandi karena tubuhku penuh dengan tanah, saat aku selesai mandi aku hanya bisa melihat Xia yang sudah ganti baju biasa tapi lagi-lagi ia memilih warna hitam untuk semua outfitnya, yaaa itu ciri khas Xia.


"Kemana Pak Robet?" tanyaku ke Xia.


"Ayahku keluar untuk membeli makan!" jawab Xia.


"Aku merekam aksimu di pabrik tadi!" kata Xia dia menunjukkan vidio yang diambil oleh drone yang terpitar di labtobnya.


"Kurang kerjaan!" kataku, langsung saja kpencet tombol dalete tanpa meminta ijin dari Xia.


"Kok dihapus sih!" kata Xia kesal.


"Aku takut, kau mengancamku dengan vidio itu suatu hari nanti!" kataku jujur.


"Aku tak akan sepicik itu Jane!" kata Xia.


"Saat orang manusia biasa punya ambisi dan terdesak, dia akan berubah menjadi moster yang tau peduli akan hal-hal yang diberi label picik!" kataku.


"Siap guru!" kata Xia.


Aku juga berganti pakaian serba hitam, karena kami harus melanjutkan misi di dua tempat bisnis ilegal Vano Compeny.


Kami memang bisa menembus sistem keamanan dari beberapa perusahaan itu tapi yang dibutuhkan oleh Zidane bukanlah hal itu. Zidane menginginkan sebuah bukti jika perusahaan jangka waktu benar-benar dibangun oleh Brian.


Orang itu benar-benar memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Brian. Semua bukti tentang Vano Compeny sudah mengarah kepada Brian, namun tetap saja sidang masih belum memberikan tindakan yang tegas kepada orang yang dianggap saudaranya itu.


Lalu tujuan ke dua, kami adalah memastikan Vano Compeny dimiliki oleh Arkana Grup. Zidane itu adalah orang yang serakah dan kejam, tapi Vano Compeny memang adalah hak Arkana Grup.


Zidane itu cukup gila. Awalnya aku sangat takut jika sampai Brian murka, jika benar kejahatan di Arkana yang selama ini aku tangani tak semua dilakukan oleh angota keluarga Arkana, maka Brian--lah yang melakukannya.


Aku tak boleh takut lagi pada Brian seperti kata Zidane malam kemarin, jika aku ingin membalaskan dendamku aku harus lebih kejam dari dia.


.


Hari sudah sore, hampir menjelang malam. Kami makan bertiga, setelah Pak Robet kembali membawa nasi bungkus untuk kami bertiga.


"Nasi padang memang tak ada duanya!" kataku, sambil melahap daging rendang yang lembut dan penuh cita rasa.

__ADS_1


Setelah makan aku menyiapkan beberapa selongsong peluru dan menganti peredam di setiap pistolku.


.


__ADS_2