
"Harus seperti ini kah, Brian?" tanya Zidane.
Aku mengambil pentungan yang tergeletak di lantai, pentungan itu dibawa oleh salah satu pengawal yang berhasil dilumpuhkan Zidane dan Boby.
"Kak Brian, kenapa main keroyokan kayak anak STM aja!" teriakku.
"Mingirlah Jane kau bisa terluka!" kata Kak Brian.
Boby menyeretku ke depan tubuhnya dan mendorongku ke arah Kak Brian yang berdiri jauh di depanku.
Aku berjalan melewati para pengawal Kak Brian dengan gugup, tampaknya mereka diperintahkan oleh Kak Brian untuk tidak menyerangku. Jadi aku tidak terluka sampai aku berada di dekapan Kak Brian. Kak Brian menuntunku ke sebuah ruangan dan memberiku air mineral kemasan.
"Kau tak papa?" tanya Kak Brian.
"Tidak papa, hanya saja aku tak tau apa yang mereka rencanakan!" kataku.
"Kau di sini dulu, jangan kemana-mana!" kata Kak Brian.
Kak Brian keluar dari ruangan, lalu aku pun keluar setelah aku yakin dia telah sampai di ruang rapat. Aku yakin di samping ruangan ini adalah ruangan yang mengatur apa yang harus ditayangkan di monitor rapat pemegang saham karena ada dua pengawal di depan ruangan itu. Aku memperhatikan detail itu saat aku digiring oleh Kak Brian menuju ruangan dimana ia mengamankanku tadi.
Mereka menghampiriku yang membawa pentungan dan sudah siap menyerangku, aku hanya diam dan memancing pengawal itu menyerangku.
Aku berhasil menangkis pukulan pengawal itu dan memukulkan pentunganku ke perut pengawal itu. Pengawal satunya sudah siap dengan tinjunya dan dengan cepat aku mengeser tubuhku dan memukul kepala pengawal itu hingga pingsan.
Karena pengawal yang kupukul di perutnya mau bangun lagi, langsung saja kupukul kepalanya dan dia juga jatuh tak berdaya.
Pukulan seorang wanita memang tidak memiliki kekuatan yang mencengangkan, namun jika kita memukul di titik saraf seseorang maka pukulan yang ringan sekalipun bisa mematikan.
Aku pun masuk dan ada satu pengawal yang langsung menghampiriku, aku melumpuhkannya dengan sekali pukul di lehernya. Aku menenteng tongkatku dan kuacungkan kepada tiga orang di sana.
"Keluar kalian semua! " kataku.
Tiga orang yang kuancam itu ternyata bukanlah orang yang bisa bela diri, jadi untuk mengamankan nyawa mereka mereka pergi dari tempat itu tanpa melakukan perlawanan kepadaku.
Aku segera menancapkan sebuah Flasedisk ke salah satu komputer dan aku segera pergi dari sana, karena tujuanku mendekati Kak Brian hanyalah membuat rapat pemegang saham Arkana Grup kacau.
Flashdisk yang kutancapkan di ruang pengendali tadi, setelah terhubung seorang hacker.
Setelah bagianku berhasil, aku kembali bergabung lagi dengan Zidane dan Boby yang sudah membuat semua pengawal yang disewa Kak Brian tergeletak di lantai tak berdaya.
Aku melihat darah keluar dari kening Boby aku segera mengambil tisu dari tasku dan menyekanya.
__ADS_1
"Sakit?" tanyaku pada Boby.
Sambil terengah untuk mengatur nafasnya yang hampir habis Boby hanya mengeleng.
"Jane, aku juga terluka!" kata Zidane, dia memegang keningnya.
"Mana?" tanyaku khawatir.
"Tidak ada bekasnya, pak!" kataku setelah melihat kening Zidane.
"Padahal sakit!" katanya.
Aku berjalan tak menghiraukannya dan membuka pintu ruangan rapat yang sudah berhasil di buka oleh seorang heaker bernama Xia.
Kami bertiga masuk tanpa menghiraukan pandangan bengong dari semua orang, Zidane berjalan melewatiku dan menghampiri kursi Presiden Direktur yang kosong.
Aku bisa melihat Pak Jenderal melihat ke arah Zidane yang berjalan santai dengan muka ketakutan, bagaimana tidak dia baru saja berhianat pada adiknya yang super kejam dan sekarang adiknya yang super kejam itu memandang dengan pandangan bak ingin membunuhnya di depan banyak orang penting.
Pak Jenderal berdiri dari kursinya dan mempersilahkan Zidane duduk di kursi Presiden Direktur, dengan santainya Zidane duduk di kursi itu tanpa memedulikan gunjingan banyak orang di sana.
Aku segera bersiap untuk persentasi.
"Maaf atas jatuhnya harga saham Arkana Grup beberapa waktu lalu, tapi hari ini dengan kemenangan tender kota terapung Jakarta Palace saham kita akan naik lagi!" kataku.
"Tak hanya Arkana Kontruksi tapi juga Arkana teknologi, yang sudah mendapat kontrak kemudi otomatis untuk Kota Terapung Jakarta Palace!"
Semua pemegang saham di sana melihat ponsel mereka untuk mengecek bursa saham, dan benar saja Arkana Grup mengalami lonjakan saham yang cukup siknigikan karena dua kontrak eksklusif itu sudah diberitakan di berbagai macam media massa.
"Rapat kali ini adalah pemungutan suara untuk memilihku menjadi CEO Arkana Grup!" kata Zidane.
"Bagi anda yang setuju Arkana Grup dipimpin oleh Pak Zidane Arkana silahkan mengacungkan tangan kalian!" kataku, aku melihat ekspresi Brian di kursi Wakil presdir sangat tak bisa di gambarkan.
Kak Brian pasti tak menyangka jika Zidane akan melakukan hal seperti ini terhadapnya. Aku sendiri bahkan tidak bisa menebak arah yang dituju oleh Zidane.
.
.
.
.
__ADS_1
Puak puak puak puak puak.
Aku mau menunduk, tapi sayang jika aku melewatkan hal ini, karena ekspresi seseorang yang ketakutan itu yang kunantikan selama ini.
"Jika kau mau menghancurkan perusahaan, kenapa memanggilku?" tanya Zidane pada Pak Jendral yang sudah terkapar tak berdaya di lantai.
Tak ada yang berani bersuara di ruangan itu, ruangan rapat yang sudah sepi hanya ada aku, Kak Brian, Boby, Zidane dan Pak Jendral.
"Lain kali, kau harus lebih pintar untuk menyingkirkanku!" kata Zidane sambil mengelap darah di tanganya dengan sapu tangan mewah dari salah satu jasnya.
Malam sebelum rapat pemegang saham
.
Ponselku berbunyi karena aku mendapatkan pesan singkat dari Zidane.
Jane ikut denganku sekarang
Aku yang baru saja mandi, segera merias wajahku tipis-tipis dan mengeringkan rambutku tapi tak terlalu kering karena aku yakin Zidane sudah menungguku. Aku memakai celana panjang dan blezer berwarna krem, lalu aku menyahut tas jinjing yang biasa kukenakan sehari-hari di atas ranjang tidurku sebelum aku pergi.
Dugaanku benar sekali, Zidane sudah menungguku di depan rumah yang kutempati.
Zidane melempar tas tangannya padaku, aku pun membukanya. Aku terbelalak dengan isi di dalamnya, dan aku tau apa rencana Zidane untuk kembali ke posisinya.
Kami duduk di sebuah lestoran bintang lima dan memandangi pasangan tua yang sedang makan dengan beberapa anak mereka.
"Gubernur Jakarta saat ini, bukankah dia pemangsa yang lucu!" kata Zidane.
"Lucu?" tanyaku bingung.
"Semua kelakuan anak-anaknya mirip sekali dengan kelakuan ayah dan ibunya!" kata Zidane.
"Bapak harusnya bilang kejam, buka lucu!" kataku.
"Jika mereka kau sebut kejam?! Lalu kau akan menyebutku dengan kata apa?" tanyanya, aku langsung diam tak berani menjawab.
"Apa kau tau julukanku di Italia sebagai pemimpin kartel Mafia?" tanyanya.
Dia malah mengajakku bermain tebak-tebakan.
"Big bos kucing yang kenyang!" katanya, menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan kepadaku.
__ADS_1
.