Mafia Hunter

Mafia Hunter
Nyaman


__ADS_3

Pandanganku segera teralih lagi, aku melihat ke arah layar laptop.


Tetapi aku semakin tersentak, karena Zidane memelukku dari belakang. Salah satu tangannya yang kekar itu melingkar di perutku dengan erat. Lalu wajahnya yang rupawan itu bersandar tanpa pamrih di bahu kiriku.


"Pak...!!!" aku ingin melepas pelukannya dengan cara, memaksa tangannya yang melingkar di perutku agar lepas mengunakan kedua tangan kecilku.


Kekuatan fisikku seolah tak ada apa-apanya dengan Zidane, tubuhku yang biasa bereaksi bar-bar ketika di sentuh orang. Kini malah menerima dan hatiku berkata pada pikiranku 'Biarkan saja, ini nyaman'.


"Sebentar saja!" kata Zidane lembut.


Aku jadi makin terkejut dengan reaksi tubuhku sendiri.


Apa tubuhku benar-benar bisa menerima sentuhan Zidane, apa aku sudah sembuh.


Biasanya jika aku di sentuh oleh seseorang secara romantis, seketika traumaku tentang malam itu akan muncul.


Tubuhku akan bereaksi berlebihan, jadi aku sering menghajar orang tanpa sadar.


"Kau bisa menjelaskan apa yang kau temukan! Aku mendengarkanmu kok!" ucap Zidane masih dengan nada bicara yang amat lembut, seolah ia sedang berbicara pada kekasihnya.


Aku mengatur nafasku dengan sangat hati-hati aku tak ingin orang yang sedang memelukku ini merasa tidak nyaman. Reaksiku amat aneh, aku malah jadi bingung karena reaksi tubuhku pada Zidane yang tak seperti biasanya. Bukan karena perlakuan Zidane padaku yang menjadi lebih mesra.


"Sepertinya kecurigaan Bapak memang benar!" aku memulai dengan nada yang serius.


"Ada beberapa nama penadah senjata ilegal yang tak ada dalam daftar pasar gelap Indonesia.


"Mereka menerima pasokan senjata ilegal dari Arkana dalam jumlah besar.


"Transaksi mereka sangat mencurigakan, karena mereka membayar Arkana dengan harga rendah sekali," jelasku.


"Apa kau mendapatkan data transaksi yang akurat?" tanya Zidane padaku.


"Iya, ini Pak!" aku menunjuk layar laptop di depanku.


Lelaki itu langsung melepaskan pelukan hangatnya dari tubuhku, dan berpindah fokus pada layar laptop yang kutunjukkan.


Entah kenapa, aku merasa hampa saat Zidane melepas pelukannya padaku.


"Ini memang akurat, tapi belum jelas!" ucap Zidane setelah membaca data transaksi ilegal Arkana Grup di bagian pasokan senjata ilegal.


"Tim Monitoring hanya bisa membantuku sampai di sini...," ucapku namun Zidane memutus argumenku.


"Aku yakin kau kenal beberapa heaker hebat, selain mereka yang ada di Tim Monitoring?!"


Aku ragu harus menjawab apa.


"Cari mereka, paksa mereka untuk membantumu!" ucap Zidane.


"Hehhhh?" aku terbengong dengan perkataan terakhir Zidane.


Drama apa yang ingin dimainkan oleh Mafia ini. Beberapa detik yang lalu, Zidane memelukku dengan sangat mesra. Lalu sekarang dia memerintahku seperti anjing peliharaanya.


"Aku akan ada dibelakangmu!" ucap Zidane.


"Maaf!" kataku. "Apa bapak menganggapku seperti anjing peliharaan?" tanyaku dengan ketus.


Zidane menyingsingkan pandangannya padaku, dahinya mengeryit dalam sekali. Lelaki ini tak tau apa maksudku.


"Lain kali, jangan menyentuh saya seperti tadi!" jelasku.

__ADS_1


Zidane masih dengan ekspresi wajah yang sama.


"Kau keberatan karena aku bersandar sebentar kepadamu?" Zidane malah balik bertanya padaku.


"Iya!" jawabku tegas.


"Sebentar!" Zidane menggelengkan kepalanya pelan, dia tersenyum lucu kepadaku.


"Baiklah, jika nanti aku butuh seseorang untuk bersandar. Aku akan bersandar di bahu Boby saja!" kata Zidane.


"Anda boleh bersandar, bahkan melakukan hal-hal intim lain dengan lelaki mana pun! Asal jangan di depan publik!" ucapku dengan nada kesal.


"Aku suka wanita!" ucap Zidane.


Aku langsung terdiam dan salah tingkah.


"Saya akan mencari heaker lain untuk mengumpulkan informasi transaksi ilegal ini secepatnya!" ucapku.


Aku segera berdiri dan kabur dari kamar Zidane, sebelum terjadi adegan-adegan yang tak senonoh.


.


.


.


.


---------------


POV ORANG KE 3


---------------


Salah satu tangannya menyentuh dadanya yang terasa hampir meledak.


"Ternyata aku masih seorang manusia!" ucap Zidane sembari menghela nafasnya.


.


.


.


.


"Astaga!!!" Boby berteriak keras sekali, lelaki kekar itu hampir terjungkal kebelakang.


Lagi-lagi kami berpapasan di gang sempit, antara dapur dan kamar mandi.


"Lemah lu, masa Mafia gampang kaget!" ejekku dengan logat Jaksel yang sudah lama tak kugunakan.


Bagaimana mau kugunakan, setelah lulus kuliah dan mendapatkan lisensi pengacara aku bekerja untuk Keluarga Arkana yang sangat kaku terhadap budaya gaul anak-anak masa kini.


"Dari mana saja kamu?" Boby yang masih memasang wajah terkejut bertanya padaku.


"Kamu nanyaaa?" entah kenapa aku jadi ingin sering bergurau dengan Boby.


"Kamu bertanya-tanyaaaa?!" ternyata Boby tau gurauan ini. "Nggak lucu, tau!" umpatnya.

__ADS_1


"Dari kamar Pak Zidane!" jawabku akhirnya.


"Kau menerima tugas itu?"


"Lalu apaaku harus menolak?"


"Apa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain adalah keahlianmu?!" ucap Boby kesal.


"Nggak juga, ada banyak keahlian lain yang ada pada diriku!" jawabku.


"Contohnya?" kata Boby.


"Nggak ada!" aku malas menjelaskan pada Boby, karena aku tidak ingin ribet.


"Sebaiknya kau tolak saja tugas dari Pak Zidane itu!" kata Boby.


Aku melirik tajam ke arah Boby, karena aku mencium bau-bau iri dengki dari perkataannya barusan.


"Kau pasti takut, jika aku berhasil dengan tugas itu!" kataku langsung. "Tenang saja, aku bukan seseorang yang akan menyingkirkan teman kerjaku!".


Aku mencoba menjelaskan pada Boby, jika dia tak perlu khawatir padaku. Aku tak akan mengeser posisinya sebagai orang kesayangan Zidane. Karena setelah Zidane mengabulkan permintaanku untuk membunuh orang itu, aku akan pergi ke luar negri dan menjalani hidup yang normal.


"Karena itu, sebaiknya kau tolak saja!" tampaknya Boby tidak tau apa yang ku maksud.


"Aku tak akan menolaknya, ini adalah tugas pertamaku dari Pak Zidane!" kataku.


Aku sangat kesal pada Boby, dia tidak tau betapa pentingnya hal ini untukku.


"Jika kau butuh bantuan, jangan ragu hubungi aku!" kata Boby. "Dan jangan berkeliaran dengan rambut cepol seperti itu, kau membuatku merinding!" lanjut Boby.


Aku terdiam sejenak, untuk mencerna perkataan Boby barusan.


"Kau terlihat menyeramkan dengan cepol itu!" Boby tampaknya hanya ingin bercanda denganku malam ini.


"Aku menyeramkan?" tanyaku pada Boby.


"Kayak kuyang!" ujar Boby.


"Mata kamu buta yaaaa?!" sebagai wanita tulen aku pasti marah, siapa yang tak marah jika disebut mirip kuyang.


"Aku berharap buta saja, jika tau kau akan berkeliaran di sekitarku!" ucap Boby, yang semakin membuatku sakit hati.


"Sini kucolok mata kamu... Sini!!!" aku mengarahkan jari telunjuk dan tengahku ke arah wajah Boby.


Reflek Boby menghindari seranganku, aku juga tak mau mengalah begitu saja. Aku merasa harus menyakiti Boby dengan tanganku sendiri.


"Jangan menghindariku!!!" bentakku.


Boby dengan gelak tawa, masih saja bergerak agar aku tak berhasil menyakiti matanya dengan jari-jariku.


"Jangan Jane! Aku masih ingin makan ayam goreng!" ucap Boby.


Seketika aku mematung, setelah mendengar ucapan Boby.


"Kau masak ayam goreng??" tanyaku pada Boby.


"Maaf kali ini aku tak bisa berbagi denganmu!" ucap Boby yang langsung berjalan santai ke arah dapur.


"Bob, aku ingin satu potong saja! Aku leper banget sumpah!" mohon ku pada Boby.

__ADS_1


__ADS_2