
Jantungku seolah berhenti berdetak dan paru-paruku seperti tidak ingin memompa udara di sekitarnya. Melihat Zidane memamerkan tubuh bagian atasnya, selalu membuat jantungku berdebar kencang.
"Jane! Jangan bilang aku harus memakai bajumu!" kata Zidane, membuyarkan imajinasi nakalku.
Untung aku melihat pakaian Boby yang sudah dilaundry tapi belum dimasukkan ke kamar, masih di meja depan kamar Boby. Aku segera ke meja depan kamar Boby, diikuti Zidane yang tubuhnya masih setengah basah.
"Bapak bisa pakai ini kalau mau!" kataku.
Dia memilih pakaian santai Boby dan mau mengenakan di depanku.
"Ehhhh pak!!! Ganti di kamar!" kataku.
"Rasanya tak adil bagiku, aku pernah melihat kau telanjang 14 tahun lalu kau tak mau melihatku telanjang juga?" tanyanya.
Biasanya aku langsung bereaksi mengila jika seseorang memiliki tentang kejadian 14 tahun yang lalu. Tetapi kenapa hal itu seperti sebuah obrolan biasa ketika Zidane yang menyinggungnya di hadapanku.
"Saat itu aku bahkan belum puber! Apa yang bisa dilihat?" tanyaku kesal, lalu pergi meninggalkan pak Zidane.
Karena aku juga harus mandi, seharian beraktifitas tak nyaman sekali di badan kalau tak mandi.
Kenapa aku jadi biasa saja ketika di ingatkan hal itu.
Biasanya aku akan bereaksi berlebihan.
Apa karena aku sudah mengingat semuanya?!
Kenapa aku begitu nyaman di dekat Zidane?
Saat itu, setelah dia menelpon polisi apa dia langsung pergi?
Jika ponsel genggamnya ketinggalaan di TKP, kemungkinan Zidane menjatuhkannya.
Kami duduk di ruang televisi sambil menonton berita, dan muncul berita konferensi pres Pak Jendral yang di siarkan langsung satu jam sesudah Zidane ditangkap polisi.
Arkana Grup Memutuskan mencopot jabatan Zidane Arkana dari Wakil Direktur dan digantikan oleh Brian Devano.
"Waowwww!" pekikku. "Dua bajingan itu, tidak bisa di percaya !" umpatku kesal.
Aku segera melihat ke arah Zidane yang tampak tak berekspresi. Kupikir Zidan akan marah kepadaku karena mengumpat kepada kakak dan juga sahabatnya.
"Pak!" panggilku, dia nggak mungkin ngalamun--kan.
"Apa?" sahutnya cepat.
Tapi pandangannya tak teralihkan dari layar televisi.
__ADS_1
"Bagimana ini pak?" tanyaku.
"Bagimana apanya?! Malam ini kita harus tidur nyenyak!" katanya, yang langsung mematikan televisi dan masuk ke kamarku.
Tidur nyenyak???
Orang ini bisa tidur nyenyak saat suasana sedang genting begini???
Psychopath gila!
Tunggu!!! Kenapa dia memasuki kamarku?!
Awas saja jika aneh-aneh, aku juga jago beladiri.
Mau tak mau aku juga memasuki ruangan kamarku, tidak ada ruangan lain lagi yang layak untuk ketiduri.
Saat aku masuk Zidane sudah berbaring di kasur sebelah kiri, tapi dia belum memjamkan matanya. Aku berniat hanya mengambil bantal untuk tidur di sofa ruang tamu saja.
"Hari itu, polisi datang lambat sekali! Aku sampai menghubungi mereka sebanyak tiga kali.
"Aku mengangkat tubuhmu ke kasur dan mencoba menghentikan pendarahan di luka tusukanmu !" jelasnya tentang kejadian 14 tahun lalu yang menimpaku.
Senjata yang digunakan pelaku belum di temukan sampai sekarang.
"Kupikir kau tak bisa bertahan!" katanya.
"Setelah itu aku dikirim ke Italia, ke sebuah keluarga biasa! Tapi mereka mengalami musibah, untung aku dipungut oleh seorang bos Mafia. Aku harus bertahan hidup di sana, tanpa satupun kontak keluargaku di sini,"
Zidane lanjut menjelaskan masa lalu yang yang tak pernah kuketahui.
"Aku di sana Seorang diri dan tak ada yang membantuku!" lanjutnya.
"Aku sudah pernah dibuang, dipungut lagi, dibuang lagi. Kira-kira mereka mengangapku ini apa?" tanyanya padaku.
Apa hal itu yang membuatnya menjadi sekejam ini, dia tumbuh dewasa di lingkungan keluarga Mafia Italia.
"Apa bapak kecewa pada mereka?" tanyaku.
"Jika kau diposisiku, apa kau akan kecewa?" tanyanya.
"Aku bahkan tak bicara selama 10 tahun pada kedua orang tua dan kedua kakakku, karena aku menyalahkan mereka tentang kejadian penyeranganku 14 tahun lalu itu!
"Jika aku diposisi bapak, mungkin aku sudah bunuh diri di Italia !" kataku. Dia menaggapi perkataanku dengan senyuman.
"Selama ini aku hanya diam saja, apa aku harus mulai melawan mereka?" tanyanya.
__ADS_1
Ternyata apa yang dialami Zidan setelah kejadian 14 tahun yang lalu, lebih mengerikan daripada yang kualami.
Bagaimana bisa keluarga Arkana membuang seseorang seperti Zidane ini.
Kak Brian, lagu yang menyiksaku 14 tahun yang lalu juga ikut andil dalam pelengseran Zidane.
Lelaki itu juga yang sudah merubah hidupku dan juga hidup Zidane. Kak Brian pantas mati, aku harus berhasil menghasut sidang agar ia membunuh Brian secepatnya.
"Apa pun keputusan bapak, aku akan selalu dipihak bapak!" kataku.
"Kau yakin?!"
"Aku akan mempertaruhkan nyawaku yang berharga ini! Bisa dibilang bapak yang menyelamatkanku 14 tahun lalu, jadi nyawa dan ragaku ini milik bapak!" kataku mantap.
Jika aku harus meregang nyawa nantinya, aku tak akan menyesal karena telah membalas kak Brian.
"Ragamu juga!" katanya.
"Jiwaku saja, raganya belum... Bukan!" ralatku, aku jadi salah kira karena senyum penuh nafsunya saat menatapku.
"Aku akan tidur di luar!" kataku, aku segera lari keluar kamarku setelah menyahut satu bantal.
Lebih baik aku tidur di luar daripada tetap di kamar ini. Aku tahu Zidane tidak akan melakukan apa pun kepadaku, tetapi aku menjaga supaya hal semacam itu tidak pernah terjadi di antara kami berdua.
Sengaja aku membenamkan diri di dalam selimut cadangan yang kumiliki. Aku memikirkan banyak hal yang berhubungan tentang kejadian yang menimpaku 14 tahun yang lalu.
Entah kenapa sekarang aku tak begitu merasa tersiksa saat mengingat kembali kejadian penyerangan itu. Alasannya tak pasti, namun aku merasa sedikit lega, bahwasanya aku tak harus tersiksa lagi tentang ingatan mengerikan.
Aku membuka mataku, karena suara berisik yang amat mengganggu tidurku.
Pak Zidane udah bangun jam berapa ini?
Aku tak memikirkan akan ada orang lain, yang akan membuat suara seberisik itu di dalam rumah yang aku diami ini.
Aku bagun dan duduk di sofa yang kutiduri, kusingkap selimut di atas tubuhku. Aku mengambil ponselku yang kuisi daya di atas meja sudut tepat di sebelah sofa yang kutiduri. Ternyata sudah jam tujuh pagi.
Suara brisik yang kudengar adalah suara Zidane sedang membuat kopi dan sarapan. Mafia itu masih mengenakan kaus oblong putih dan celana kolor kotak-kotak panjang milik Boby, yang ia kenakan dari semalam.
Dia membawa nampan ke arahku, berisi sarapanku. Dua gelas kopi dan dua piring Sandwich sudah terhidang di meja ruang tamu. Zidane juga sudah duduk di sebelahku, seolah kami adalah sepasang suami-istri yang rukun.
"Makanlah!" perintahnya.
"Saya belum sikat gigi, pak!" jawabku, aku segera berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tirani kejam yang menguasai bisnis gelap di Eropa, kenapa bisa bertindak amat manusiawi.
__ADS_1
Jika dipikir-pikir kembali, Zidane memang adalah orang yang lembut dan penuh kasih. Tapi, jika lelaki ini bertingkah selembut ini, apa nantinya lelaki ini bisa membantuku membalaskan dendamku pada Kak Brian.