Mafia Hunter

Mafia Hunter
Kata-kata kami


__ADS_3

Setelah cuci muka dan sikat gigi aku kembali ke ruang tamu dan Zidane sudah di sana menyalakan televisi. Tampaknya lelaki itu sedang menonton acara berita harian, tak akan tenang ia jika Arkana Grup direbut begitu saja oleh saudara pertamanya.


Berita belakangan ini dipenuhi dengan berita Zidane Arkana yang ditangkap polisi meski bisa bebas. Tetapi anggota keluarga Arkana itu masih saja dicopot dari posisi Wakil Direktur Utama di Arakana Grub.


Aku duduk di sebela Zidane dengan hati-hati, karena sofa ruang tamu ini hanya satu.


Aku menyelimuti tubuhku lagi karena masih merasa dingin, dan menyeruput kopi hitam buatan Zidane Arkana.


'Pait baget kayak idupku rasa kopinya!' batinku.


Aku tau jika Zidane selalu meminum kopi tanpa gula sedikitpun. Hal itu harusnya tak membuatnya memukul rata, jika semua manusia di dunia menikmati kopi seperti dirinya.


"Jane apa kau bisa mencarikanku jadwal rapat pemegang saham Arkana Grup dalam waktu dekat ini?! Aku yakin mereka akan melakukan Rapat Pemegang Saham setelah aku diturunkan!" Kata Pak Zidane.


"Siap, pak!"


Aku memilih nomor ponsel di kontakku, lalu dengan secepat kilat aku langsung menelfon nomor itu.


"Jane kau di mana?" tanya seseorang di balik telfonku.


"Kenapa kau ingin tau?" tanyaku.


"Apa kau tau besok ada rapat pemegang saham!" kata Lukas, ya aku menelfon Lukas.


"Jam berapa?" tanyaku.


"Jam 10 pagi, jika Kak Zidane tak datang semua bisa kacau!"


"Kok bisa?"


"Kudengar saham Kak Zidane tak bisa dialihkan!"


Aku memandang Zidane dengan seksama, jadi mereka memporak-porandakan rumah  Zidane untuk mencuri akun rahasia Zidane agar sahamnya bisa dialihkan.


"Bukankah di konferensi pers Pak Jendral bilang, Pak Zidane sudah menyerahkan sahamnya ke Pak Jendral secara suka rela?!" kataku.


"Aku mendengar pembicaraan Brian dengan Kak Jendral! Saham Kak Zidane dijaga oleh heaker profesional yang bahkan tak bisa dibobol oleh ruang monitoring Tim Alpha!" kata Lukas sambil tertawa.


"Lalu sekarang kau di mana?" tanyaku.


"Aku di hotel, kau tau kan aku tak suka tingal di rumah!" katanya.


"Trimakasih informasinya!" kataku dan kututup pangilanku.


Aku menghubungi Lukas, aku memilih anak bungsu Pak Sadewo Arkana ini karena Lukas akan membicarakan hal semacam ini tanpa kuminta. Lukas menang tak pernah tertarik akan kekuasaan utama di Arkana Grup, jadi tak ada yang menganggap Lukas adalah ancaman.


Cukup mudah bagi Lukas yang selalu ingin tau akan rahasia keluarganya, untuk keluar-masuk di rumah pribadi dan perusahaan Arkana.

__ADS_1


"Besok pagi jam 10!" kataku, sambil memandang senyum aneh Zidane padaku.


"Apa yang bapak fikirkan?" tanyaku.


"Kaau ingin tau?" tanyanya.


"Iya!" jawabku. Aku harus tau rencana Zidane, karena aku harus mempersiapkan diri agar lelaki itu tak membahayakan dirinya sendiri.


"Kalau begitu cium aku dulu!" katanya mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Tidak!" kataku, aku langsung berdiri dan membawa gelas kopiku ke wastafel.


Rasanya tak bisa di percaya, seorang Zidane Arkana menyodorkan wajahnya untuk kucium. Lelaki yang dikenal kejam itu punya sisi romantis juga, tapi kenapa tak ada orang yang tau.


Mungkin jika saat Zidane ditangakap polisi aku belum mendapat semua ingatanku, aku pasti percaya jika Zidane yang menyerangku 14 tahun lalu. Karena selama ini aku mengenal Zidane sebagai pria brutal yang tak punya belas kasih.


Zidane keluar dari rumah yang kutempati, entah kemana. Mungkin untuk ke rumahnya yang berantakan, atau ke banguan labirinya. Sedangkan aku memutuskan untuk menyegarkan tubuhku di kamar mandi.


Saat aku keluar dengan kimono mandi karena sudah selesai mandi, aku tak melihat tanda-tanda Zidane sudah kembali. Tanpa pikir panjang aku masuk ke kamar dan ganti baju.


Aku mengenakan pakaian semi santai karena punya rencana keluar untuk mengunjungi sebuah kafe, karena baru saja Kak Brian meminta ketemu denganku melalui pesan singkat.


Aku menghubungi Zidane melalui panggilan telepon, untuk bilang kalau aku mau menemui Kak Brian tapi ponsel Mafia itu ada di kamarku.


Aku pergi ke rumahnya,  kutelusuri setiap sudut ruangan di dalamnya. Tetapi aku masih tak juga menemukan sosok gagah itu.


"Apa dia di halaman belakang?!"


Kurasa Zidane benar-benar di dalam sana.


"Pak Zidane!" panggilku.


"Apa bapak di dalam?" teriakku.


Aku sudah sampai Jane


Pesan dari Kak Brian kembali masuk ke dalam ponselku.


Aku harus meminta ijin dulu pada Zidane untuk menemui Kak Brian. Entah kenapa aku tak ingin kepercayaan Zidane padaku, pudar begitu saja.


"Pak!" teriakku.


Aku berjalan perlahan mendekati pintu itu. Rasa penasaran di diriku langsung muncul, saat melihat pintu labirin terbuka sedikit. Meski hanya bayangan hitam pekat yang kulihat dari tempatku berdiri.


Sebenarnya apa isi di dalam sana? kenapa sangat misterius sekali?


Kenapa Lukas sampai pingsan setelah melihat isi di dalamnya?

__ADS_1


Apa yang terjadi jika aku masuk ke dalam, apa aku akan langsung di habisi?


Tapi pak Zidane yang baru saja aku kenal seperti tak bisa melukai orang lain jika tak melakukan kesalahan fatal!


Bagaimana pun aku harus bertanya apa aku harus menemui Kak Brian atau tidak.


Aku masih merasa takut untuk bertemu Kak Brian sendirian, bayangan malam itu masih begitu nyata di fikiranku.


Jemariku meraih gagang pintu itu, aku merasa gemetar tapi tak punya pilihan. Teriakkanku tak di dengar oleh Zidane dari dalam, aku mencoba menariknya tapi seseorang entah siapa menarik pundakku, seketika aku membalikkan badanku, namun aku jatuh pelukan orang itu. .


Aku mencium bau obat dan darah yang mengering dari baju yang dikenakan oleh pria itu. Dada bidang dengan setelan jasnya yang kotor, aku pun mendongakkan wajahku untuk melihat siapa orang yang kupeluk barusan.


Raut wajah khawatirnya memandang wajahku tepat di dadanya dengan tulus.


"Bob, udah kembali?! Emang kamu udah sembuh?" tanyaku.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Boby.


"Aku mencari Pak Zidane!" kataku.


Secara kebetulan Zidane keluar dari pintu bangunan labirin dengan banyak noda bercak merah di kaus putih dan celana panjang kotak-kotak yang dia kenakan.


"Pak...!" kataku bengong, Boby melepas pelukannya padaku.


"Kenapa?" tanya Zidane padaku.


Dia hanya melewati kami dengan santainya, tetapi aku bisa melihat ada raut kegusaran di wajah tenangnya.


"Jangan pergi ke dalam sana tanpa ijin Tuan Zidane!" kata Boby. Dia berjalan mengikuti Zidane dari belakang dan aku bengong, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


Kulihat pintu itu lagi, pintu yang hanya bisa di buka dengan sidik jari Zidane Arkana tapi kenapa tadi dia membiarkan pintu itu terbuka seperti itu. Aku yakin Zidane tak seceroboh itu.


Aku pun berjalan ke dalam rumah, aku bisa mendengar mereka berdua mandi di kamar mandi. Ada banyak sekat di dalam sana, pasti mereka tidak akan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi saat mandi.


Boby keluar lebih dulu, banyak luka lebam di sekujur tubuhnya aku bisa melihatnya karena dia hanya melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya.


"Apa yang terjadi?" tanyaku pada Boby yang baru melangkah keluar dari kamar mandi,


"Brian menyiksaku agar aku mengatakan bagaimana cara membobol akun saham Pak Zidane!" kata Boby.


"Sekarang kamu manggilnya, Pak?!" tanyaku.


"Tuan Zidane memintaku untuk memanggilnya 'Pak' saja!" kata Boby.


"Kenapa kau pulang?! Cederamu masih separah ini!" kataku sambil memegang telapak tangan Boby yang tadi di perban, karena dia mandi dia buka dan ada luka yang dijahit di situ.


"Aku tidak papa kok! Untuk sementara jangan bertemu secara pribadi dulu dengan Brian!" kata Boby.

__ADS_1


"Boby siapkan pakaian untukku!" kata Zidane yang sudah ke luar dari kamar mandi di.


"Baik, pak!" sahut Boby secara refleks. Padahal dirinya sendiri belum memakai busana sama sekali.


__ADS_2