
Aku memukul bos itu dengan sekop yang kuambil di dekat tempatku berdiri.
"Romantis amat, pak!" gumamku.
"Kurasa, kau yang terlalu kasar Jane!" kata Zidane.
"Kita datang ke sini bukan untuk syuting komedi romantis, pak!" kataku sambil membalik tubuh tambun bos itu.
"Lihat dia jadi berdarah!" kata Zidane sambil bergidik ngeri.
Aku hanya memandang mimik wajah Zidane dengan tatapan acuh. Aku tahu di dalam hatinya pasti ingin menghajar orang ini dengan lebih kejam.
"Lain kali kau harus lebih lembut, ya!" nasehat Zidane.
Kami mau membawa bos itu segera pergi dari tempat ini, tetapi belum juga kami melangkahkan kaki, malah datang beberapa pengawal yang menuju gudang itu. Untung aku berhasil menarik tubuh bos itu ke tempat aman dan tidak terlihat bersama Leo. Sementara Zidane bersembunyi di arah berlawanan denganku.
Tujuan kami adalah membawa orang yang dipercayai oleh Brian untuk mengurus bisnis ilegalnya. Aku tidak tahu apa yang menjadi tujuan Zidane Arkana dengan melakukan hal tersebut, Tetapi dia memerintahkan agar kami mencari dan membawa orang itu.
Aku mendengar suara tembakan yang ditembakkan oleh salah satu pengawal kilang minyak. Tetapi tampaknya tembakan itu tidak berpengaruh apa pun pada ruangan besar ini, aku segera menyiapkan satu pistolku dan melihat ke arah Zidane yang juga bersembunyi di arah yang berbeda denganku.
Aku memberikan kode untuk maju bersama-sama, tetapi Zidane mengendap-endap maju duluan. Aku bisa melihat betapa lincah dan kuatnya teknik beladiri yang digunakan oleh mafia Eropa itu. Dari tempat persembunyianku, aku melihat dua pengawal muncul dari pintu, langsung saja kutembak agar tidak mengganggu pergerakan yang Zidane lakukan.
Tak lama Zidane menghampiriku dengan berjalan santai, wajahnya yang tampan terkena percikan darah dan tangannya juga tampak berlumuran darah.
"Pak?" kataku khawatir.
"Aku baik-baik saja kok!" kata Zidane.
Kami berhasil membawa bos itu pergi dari sana, kami membawa bos itu ke sebuah bangunan gedung terbengkalai dimana kami bersembunyi siang tadi.
Zidane memperhatikan bos itu dengan seksama, Boby juga membawa dua orang yang dianggap penting di pertambangan.
"Jane sebaiknya kau pergi saja ke tempat Xia!" bisik Boby yang berdiri di sebelahku.
"Aku juga mau dengar apa yang akan mereka katakan pada Pak Zidane!" jawabku dengan berbisik juga.
Zidane memberi kode pada Boby untuk menyiram air pada tiga orang yang pingsan itu.
Mereka bertiga sadar dan melihat tajam ke arah Zidane yang berdiri dan berjalan pelan ke arah ujung bangunan.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Zidane lembut pada ketiga pria yang hampir seumuran itu.
"Pak Zidane!" kata bos kilang minyak itu.
"Apa kalian tau Castello adalah keluarga mafia penguasa di Italia?!" tanya Zidane. "Mereka bertahan selama ratusan tahun memimpin kejahatan di Eropa!"
"Menurut kalian kenapa mereka bisa menjadi pemimpin keluarga mafia di Italia, selama ratusan tahun lamanya?!" Zidane kembali mengajukan pertanyaan kepada mereka bertiga.
"Mau kuberi tahu?!" Zidane tertawa dengan senyuman liciknya.
"Keluarga Castello hanya punya satu rahasia! Yaitu! Tanpa ampun pada siapa pun, tak ada kata saudara kandung bagi mafia, saudara mereka adalah yang paling setia pada mereka!" kata Pak Zidane.
Zidane memperhatikan dua orang yang tampak cukup ketakutan karena menghadap langsung dengan sosoknya, tapi kedua orang tadi tak setakut Pak Dewanto.
"Kalian bisa memilih setia atau tidak padaku, setelah ini!" kata Zidane ke arah dua orang lain selain Pak Dewanto.
Setelah berkhotbah panjang lebar akhirnya Zidane mendekati Pak Dewanto yang sudah terkencing-kencing di celana, dengan satainya. Zidane mengelus kepala Pak Dewanto dengan lembut dan berperasaan, seolah dia sedang membelai kekasih yang paling dia cintai.
Dia menyuruhku melakukan ini bukan karena drama romantis, kan???
"Orang ini sudah memilih tak setia padaku!" kata Zidane, dia tersenyum kesal dan mengambil gunting taman di wadah alat-alat yang sudah disiapkan Boby dalam kotak yang cukup besar.
Kenapa mafia itu tiba-tiba mengambil gunting taman, apa yang akan dia lakukan dengan alat yang biasa digunakan oleh tukang kebun untuk memotong ranting-ranting pepohonan yang mengganggu pemandangan.
Zidane menarik kursinya tepat di depan Pak Dewanto yang sudah diikat dengan posisi duduk di kursi dengan tangan diikat di depan.
Zidane meraba jemari salah satu tangan Pak Dewano dengan ekspresi tenang, sementara Pak Dewanto sudah gemetar ketakutan.
"Tolong ampuni saya Pak Zidane, saya akan melakukan apa pun untuk anda mulai sekarang!" kata Pak Dewanto setengah menangis.
"Kau tau aku tak pernah memberi kesempatan ke dua untuk penghianat?!" kata Zidane.
Dengan kesadaran penuh Zidane memotong jari kelingling Pak Dewanto dengan gunting kebun.
"Akkkkkkkkkkkkkkkk... Aaaakkkkkk... Aaaaaaaaaakkkkkk!" teriak Pak Dewanto dan diiringi senyuman Zidane.
Darah mengucur deras dari pangkal jari yang sudah putus itu, Zidane memamerkan jari kelingking pada pemiliknya.
"Jangan menangis begitu, Pak Dewanto! Masih ada 19 jari di tubuhmu!" kata Zidane.
__ADS_1
Rasanya aku mau pingsan mendengar kata itu. Memangnya orang ini akan memotong 10 jari manusia saat manusia itu masih hidup.
"Aaaaaakkkkkkkkkkkkkk...!" Teriak Pak Dewanto lagi.
Tanpa pemberitahuan Zidane kembali memotong salah satu jemari Pak Dewanto.
"Masih 18 lagi!" kata pak Zidane yang masih santai, dia pikir sedang motongin kuku manusia.
"To... Long... Am... Puni saya, pak!" kata Pak Dewanto yang mencoba menahan rasa sakitnya.
"Kenapa pria yang berani mati untuk Brian Devano cengeng begini!" kata Zidane dengan wajah yang amat santai.
"Bagaimana kalau kita ganti ke kaki dulu!" lanjut Zidane.
Zidane memundurkan kursinya dan duduk jongkok di depan Pak Dewanto, ia melepas sepatu dan kaus kaki Pak Dewanto tanpa jijik. Padahal aku yakin kedua benda itu pasti sangat bau.
"Enaknya yang kanan dulu!" kata Zidane lalu melepas sepatu satunya yang dipakai di kaki kanan Pak Dewanto.
Lelaki paruh baya itu pasti tidak menyangka, jika sepatu yang ia kenakan di pagi hari tadi akan dibukakan oleh seorang seperti Zidane Arkana.
"Kira-kira jari yang mana dulu?" tanya Zidane ke Pak Dewanto.
"Ampuni saya pakkkkk... Saya.....jan...ji akkkkkkkkkkkkkkk....hissss....akhhhhhhhhh!" teriak Pak Dewanto lagi.
"Bukankah jempol tak terlalu sakitkan?" tanya Zidane, dia memamerkan jari jempol kaki Pak Dewanto pada ke dua sandra lain dan yang satu langsung pingsan.
Aku juga sedang menahan mual, karena enggak tahan aku lari ke sisi lain bangunan dan mutah di sana.
"Kenapa aku lemah sekali, bagaimana aku bisa membalas Brian jika lemah begini!" gumamku.
Suara teriakan Pak Dewanto kembali terdengar secara beruntun dan semakin ngiliu saja di telingaku.
Aku harus bisa....
Aku harus kuat....
Aku kembali lagi, dan melihat bagaimana keadaan Pak Dewanto yang sudah pucat karena kehilangan banyak darah.
Zidane melanjutkan acara potong jari itu tanpa kata-kata lagi, pak Dewanto juga hanya berteriak lirih. Mungkin rasa sakitnya sudah menjalar ke sekujur tubuhnya dan membuatnya mati rasa.
__ADS_1